y
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hikmah. Tampilkan semua postingan

Semir Sepatu

Kuperhatikan seorang anak usia sekira 8-10 tahun itu. Anak laki-laki. Berbaju seragam, namun nampak sedikit kumal dan kedodoran. Kali kedua siang mataku mengekor apa yang ia lakukan. Tepat jam 11 siang dimana dapat kudengar pula bel istirahat sekolah dasar di depanku itu berbunyi. Seperti pertama kali, kulihat ia keluar dari sekolahnya dengan menenteng dua pasang sepatu hitam berukuran orang dewasa. Sepasang di kiri, sepasang lagi di kanan.

Terburu-buru, namun sangat hati-hati seolah barang bawaan yang ada di kedua tangannya itu bom waktu yang dapat meledak jika terjatuh atau pula terhentak. Sesaat kemudian, diangsurkannya dua pasang sepatu hitam yang tidak hitam itu kepada seorang tua yang cacat. Duduk di sebuah kios sempit di sudut sekolah. Di depan kios itu tertulis ‘SEMIR SEPATU’ dengan goresan cat kuning yang tidak rapi dan kian memudar.
Dengan tangkas orang tua yang tadinya kuduga, namun sudah pasti tukang semir sepatu itu melakukan tugasnya. Disambutnya dua pasang sepatu orang dewasa lalu menyulapnya sehingga menjadi hitam mengkilap. Bocah laki-laki yang sedari tadi kuperhatikan, duduk manis menunggu apa yang tukang semir sepatu itu kerjakan. Tanpa suara, tanpa banyak tingkah. Sesekali kulihat keduanya berdialog, namun sudah pasti tak kudengar sampai sini.


Setelah selesai, dengan segera bocah laki-laki tadi membawanya kembali ke sekolah. Entah mau dikembalikan kepada siapa sepatu-sepatu itu. Kali ini, lebih hati-hati.
***

Sudah genap lima hari kegiatan baruku sebagai detektif pengintai. Bukan penjahat yang kuawasi, namun hanyalah seorang bocah laki-laki yang setiap pagi kulihat pergi sekolah dengan berjalan kaki. Sebelum masuk kelas, satu kebiasaan anak itu yang membuatku tak bisa berfikir. Dia keluarkan sekotak bekal, kuduga, dari dalam tasnya. Lalu diberikanlah kepada seorang tua cacat yang menjadi penghuni kios kecil semir sepatu.

Siang jam istirahat mengantarkan beberapa pasang sepatu orang dewasa yang kumal ke kios kecil sudut sekolah untuk disemir. Belakangan kuketahui bahwa sepatu-sepatu itu adalah milik para guru.

Aku tidak tahu kenapa sang bocah mau melakukan pekerjaan itu. Dan kenapa pula sang guru tega meminta muridnya untuk mengantarkan sepatu-sepatu itu ke tukang semir. Namun sudah pasti hatiku bergumam, anak itu luar biasa. Sudah sangat mulia memperlakukan orang yang dalam hal ini memiliki kekurangan fisik. Siapa lagi kalau bukan sang penyemir sepatu yang kumaksud. Selain itu, dia juga punya sifat penolong. Buktinya mau-mau saja membantu para guru untuk mengantarkan sepatunya untuk disemir. Muridnya yang terlalu baik, apa gurunya yang terlalu malas??

Tak sampai disitu, sepulang sekolah anak itu lagi-lagi singgah di kios semir sepatu. Tak banyak omong seperti biasa, dikeluarkannya lipatan kertas bernominal dari dalam saku baju. Lalu diberikan kepada sang penyemir sepatu. Oh, itu upah untuk jasa semir sepatu dari guru. Itu yang kupikirkan. Ku yakin kau pun berpikiran seperti itu, kan?

Sesaat, anak itu melintas di hadapanku. Kupanggil.

“Dek, haus? Mau es?”

Yang ditanya sejenak mematung, lalu menghampiriku akhirnya.

“Makasih, Kak.”

“Kakak boleh tanya?”

“Tanya apa, Kak?”

“Emm… beberapa hari ini Kakak lihat kamu sering main di kios semir sepatu itu. Sambil bawa sepatu-sepatu orang dewasa. Itu punya guru, ya?”

“Iya, Kak,” jawabnya singkat sambil menghirup dalam-dalam es kelapa muda dengan sedotan.

“Oo, gitu. Kalau yang di dalam kios itu, itu tukang semir sepatu kan?” tak percaya aku menanyakan ini. Jelas-jelas ini pertanyaan bodoh.

Kulihat ia hanya mengangguk sambil terus menyedot es kelapa muda yang hampir habis.

“Kakak perhatikan, kamu baik sekali dengan orang itu. Maaf, orang itu cacat ya? Beruntung ya, masih ada orang yang baik seperti kamu. Kamu mau menolongnya dengan memberikan bekalmu setiap pagi. Siangnya kamu bantu dia nyari order semir sepatu. Kamu dapat upah berapa?” huhh… akhirnya tanya yang sedikit mengganjal di benakku selama ini berhasil kukeluarkan.

Kuperhatikan anak itu berhenti menyedot es. Lalu matanya menatapku tajam. Sambil perlahan senyumnya mengembang, dia menjawab tegas. Bukan keras, tapi tegas.

“Dia ayahku!”

Kulihat es kelapa di tangannya telah habis. Selanjutnya, ia berlalu…

Mendendam, "Memelihara" Kehancuran

Banyak yang tidak menyadari bahwa dendam sebenarnya tidak membawa apapun selain kehancuran. Bukan kehancuran untuk orang yang kita timpakan rasa dendam, melainkan kehancuran untuk diri kita sendiri.
Ali Radiyallahu’anhu dengan tepatnya mengumpamakan, “Memelihara dendam itu seperti diri kita meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati.”
Lalu, bagaimana cara untuk melampiaskan emosi yang terpendam karena sering dizolimi?
Terlebih dahulu mari kita membahas beberapa tingkatan orang yang dizolimi.

Tingkatan Orang yang Dizolimi

Level terendah adalah mereka yang dizolimi, kemudian orang-orang ini sulit memaafkan dan memendam dendam.
Level menengah adalah mereka yang dizolimi, kemudian membalas kezoliman itu dengan setimpal sehingga tidak lagi memendam dendam.
Level tinggi adalah mereka yang dizolimi, kemudian memaafkan dengan lapang dada.
Level dahsyat adalah mereka yang dizolimi, kemudian membalas orang yang mendzolimi dengan kebaikan.
Mari kita bahas level demi levelnya! Supaya kita bisa sampai ke tingkat memaafkan dengan lapang dada dan bahkan membalas kedzoliman dengan kebaikan.

Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk terlalu menerima keburukan yang dilakukan orang lain pada kita. Allah Swt membolehkan kita untuk membalas kejahatan dengan setimpal.
Coba simak Quran surat An-Nahl ayat 126: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu...”
Misalnya kita dipukul, maka balaslah memukul dengan kekuatan seimbang. Kecuali jika kita ikhlas dipukul, dan tidak ada dendam apalagi sakit hati. Artinya, ketika kita dipukul kemudian kita diam saja padahal sebenarnya hati kita merasa benci dan dendam, sejatinya yang menzolimi diri kita bukanlah orang yang memukul, tetapi diri kita sendiri yang membiarkan orang lain memukul kita dengan leluasa.

Bukankah kita adalah pemimpin untuk diri sendiri? Seharusnya kita bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada diri kita, jangan selalu hanya menyalahkan orang lain dan merasa dendam, padahal kita memang tidak melakukan apa-apa untuk membela hak kita sendiri.
“Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d 11)
Artinya, Allah meminta kita untuk berinisiatif mengubah nasib sendiri, dengan demikian kita tidak ada hak untuk menyalah-nyalahkan orang lain, dendam kesumat, bahkan bersumpah tidak akan memaafkan orang tersebut. Jadi, penting untuk menyadari di awal... apakah kita benar dizolimi, atau justru kita yang menzolimi diri sendiri?

“Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, "Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Maafkanlah, Karena Dendam Hanya Melahirkan Dendam

Ketika kita merasa sakit hati dan tidak memaafkan orang lain, sebenarnya hal tersebut dapat menyempitkan hati kita sendiri. Apakah kita menduga jika perasaan dendam itu dibalaskan maka kita akan menjadi lega? Tidak! Dendam yang dibalaskan akan memunculkan dendam yang lain. Simak Firman Allah Swt berikut ini :
“Hendaklah memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (Q.S. An-Nuur: 22)
Kita selalu berharap kesalahan-kesalahan kita diampuni oleh Allah. Namun, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita memaafkan kesalahan orang lain, sehingga Allah ridho pada kita dan mau memaafkan kesalahan kita. That's great!

Memaafkan sama dengan membuang beban-beban yang bergelayutan di hati kita. Dengan memaafkan, berarti kita menyerahkan “pembalasan” pada Allah.
“... Akan tetapi jika kamu sekalian mau bersabar atas kedzoliman yang telah mereka timpakan kepada kamu serta dengan itu semua kamu mengharap pahala dari Allah sebagai ganti dari kedzoliman itu lalu kamu pasrahkan dan serahkan semuanya kepada Allah maka itu akan lebih baik bagi kamu sekalian.” (An-Nahl 126)

Tidak Sekedar Memaafkan, tapi Membalas dengan Kebaikan

Rasulullah Saw. telah mampu memberi teladan untuk kita, tidak sekedar memaafkan kezoliman orang namun juga membalas kezoliman tersebut dengan kebaikan.

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai
saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka
kalian akan dipengaruhinya”.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan
membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW
menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan
pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah
SAW.
Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Kisah lain :

Meskipun dilempar batu dan diusir oleh penduduk Thaif, Rasulullah Saw. malah berdoa semoga Allah memberikan keturunan orang-orang yang beriman dari penduduk Thaif.

Kita berharap Allah menempatkan kita di tempat terbaik, dunia-akhirat, maka lepaskanlah rasa marah, dendam, benci, biarkan dada kita lega dan lapang tanpa beban! Jangan lagi memberatkan hati kita dengan memikirkan cara-cara membalas dendam.
Percayalah, kemaafan kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan untuk kebaikan mereka. Jika benar mereka melakukan kedzoliman, pasti Allah membalasnya dengan adil.

“Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS:3:159)

Memaafkan itu melegakan, mari kita menjadi pribadi yang terbiasa memaafkan, sehingga Allah pun mudah memaafkan kesalahan kita. Dan janganlah memelihara rasa dendam, karena sesungguhnya rasa dendam itu perlahan dapat menggiring kita dalam kehancuran.

Aku Bangga Menjadi Wanita 'Cengeng'

“AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, kesepian, penderitaan, CINTA, dan kebahagian…”

Aku tertunduk dalam, ketika seorang ustadz membimbing kami untuk muhasabah diri. Pikiranku melayang jauh ke masa lalu. Masa dimana aku masih hangat dalam pelukan tangan nan lembut. Kemudian aku menjelma menjadi sesosok yang pernah membuat pemilik tangan itu bersedih. Mungkin aku telah mengecewakannya dengan tingkahku. Ibu, maafkan aku… Tak terasa aliran hangat membasahi pipi. Yah, aku menangis…

Ketika sadar semakin lama aku menjejakkan kaki di bumi Allah ini, tak terasa semakin menumpuk pula dosa dan khilaf yang telah kuperbuat. Bermacam cobaan dan masalah, sedikit banyak telah membuatku berpaling dari-Nya. Lupa akan nikmat dan karunia-Nya, yang secara cuma-cuma aku dapatkan dari-Nya. Ya Rabb, ampuni aku… Mataku panas, membayangkan dosa-dosa yang semakin berat menggunung. Aku menangis…

Ketika aku mendengar sebuah kabar kematian, sering tak dapat kutahan bulir bening yang membuat kabur pandangan. Entah siapapun orangnya, bahkan mungkin tak kukenal sekalipun. Kupandangi diriku, kuhitung-hitung bekal yang kelak akan aku bawa ketika menghadap Sang Pencipta. Kubandingkan dengan dosa khilaf yang telah kuperbuat. Oh, setelah aku hitung…ternyata tak kudapati cukup bekal yang akan kubawa. Aku masih harus mencarinya lagi, tapi… akankah umur ini masih cukup? Ya Allah, ampuni dosa-dosaku…

Kuterima kabar bahagia dari seorang temanku. Akhirnya dia telah mantap untuk membangun mahligai rumahtangga. Aku turut bahagia… Ketika kusaksikan sejoli di depan sana, duduk berdua… Mesra… Ah, akupun tak sadar kalau tissue yang kupegang akhirnya basah. Air mata bahagia, semoga aku kelak juga seperti itu… Semoga dirahmati, semoga berlimpah barakah…

Aku sadar aku semakin dewasa. Aku bukan anak kecil lagi yang dengan polos berlarian kesana kemari dengan ringan seolah tanpa memikul beban. Sejenak aku ingin kembali ke masa itu. Tapi..masalah bukan untuk dihindari bukan? Masalah hanyalah untuk dihadapi dan diselesaikan. Masalah pula yang seharusnya menjadikan kita semakin dewasa, semakin paham dengan hakikat hidup dan semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Terakhir…
Aku bergegas memasuki kamar, segera kututup pintu dan kurebahkan tubuhku sambil mendekap bantal. Aku menangis… yah, aku meneteskan air mata. Setetes, dua tetes hingga akhirnya menganak sungai. Kiranya kegalauan dan kebimbangan dalam hatiku yang membuatku akhirnya menangis. Biarlah…biarlah mata ini sembab karena air mata. Daripada hati ini yang sakit karena menahan begitu banyak beban, yang tak dapat kubagi dengan orang lain.

Dengan air mata, menangis…

Begitulah caraku mengekspresikan emosi. Menangis untuk melepaskan beban. Menangis untuk sekedar melapangkan rongga dada. Tak peduli orang bilang aku wanita ‘cengeng’. Tapi itulah aku. Oh iya, mungkin juga aku salah. Bisa jadi tidak ada orang yang mengetahui jika sebenarnya aku sangat suka sekali menangis. Karena memang, hampir tidak pernah mataku ini meneteskan air mata dihadapan mereka. Yang mereka tahu, aku hanyalah seorang gadis yang selalu ceria. Tak pernah dipusingkan dengan masalah-masalah. Selalu ringan dalam melangkah dan menyambut hari esok.

Tapi apakah dengan ini berarti aku malu jika diketahui suka menangis? Ah, tidak… aku tidak akan pernah malu dengan itu. Karena aku seorang wanita…

~*~

Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat menjadi sangat penting.

Allah ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.

Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan seorang anak dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri.

Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.

Wanita, Allah berikan kesabaran kepadanya, untuk merawat keluarganya walau letih, sakit, lelah namun tanpa berkeluh-kesah.

Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya.

Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegetiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita?

Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan orang lain menilai tentang peranan kepada suaminya. Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi , menyayangi, dan menerima.

Dan akhirnya, Allah berikan kepada wanita airmata. Agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun dan dimanapun dia inginkan.

Meskipun sering dinilai sebagai simbol kelemahan dan ketidakberdayaan, namun ini adalah setetes air mata. Airmata kehidupan, yang menyimpan kekuatan luar biasa…

Aku bangga menjadi wanita ‘cengeng’… Boleh kan, aku bilang ini?

Wanita Pemercik Api

“Janganlah menjadi wanita pemercik api”, kata seorang sahabat via YM beberapa waktu yang lalu setelah sebelumnya saya sempat menceritakan suatu peristiwa yang tidak mengenakkan. Suatu peristiwa yang saya yakin semua wanita tidak menginginkan itu terjadi pada dirinya.

“Ibarat mesin yang membutuhkan bensin dan pemercik api untuk bisa jalan. Perzinahan sebagai mesinnya, syahwat sebagai bensinnya dan wanita lah yang berperan sebagai pemercik api,” lanjutnya. Yah, mungkin betul juga yang dikatakan beliau. Mesin tidak akan jalan bila tak ada bensin dan pemercik api. Dengan kata lain, perzinahan tidak akan terjadi bila memang tidak ada percikan-percikan yang dapat menyulut syahwat hingga berkobar-kobar.

Mungkin hanya berawal dari seringnya bertegur sapa, bercakap-cakap berhadapan, hingga meningkatnya intensitas pertemuan yang terlalu akrab antara seorang wanita dengan lelaki ajnabi (dalam hal ini tidak ada kepentingan yg begitu urgent) secara tidak sadar telah membuka jalan kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi lengkap sudah dengan ‘percikan-percikan’ yang ditimbulkan oleh si wanita yang tak pelak dapat menyulut gelora syahwat dari sang lelaki.

Begitulah kiranya yang terjadi di sekitar tempat tinggal penulis beberapa waktu lalu. Sungguh ‘memalukan’ dan sangat bertentangan dengan segala norma, lebih-lebih norma agama. Dalam hal ini, pergaulan ternyata tetap memegang peranan penting. Pergaulan dapat mendidik kita menjadi orang baik, atau sebaliknya..terjerumus dan terperosok dalam lembah kenistaan. Pergaulan yang terlalu bebas dan vulgar, tanpa kontrol dan filter tentu dapat menjadikan dunia ‘kiamat’ khususnya bagi para wanita. Dan apabila itu terjadi, pastilah hanya penyesalan mendalam yang membekas. Na’udzubillah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka apabila keluar (dari rumah), syaithan akan menghiasinya.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan At Tirmidzi)
Syaithan akan menghiasinya dan menjadikan dia indah dalam pandangan mata para lelaki. Apalagi dengan keluarnya wanita tersebut disertai dengan semerbak harumnya minyak wangi kembang tujuh rupa dan penampilan yang memanjakan mata lawan jenis sehingga bukan tidak mungkin dapat menimbulkan desiran syahwat yang bukan pada tempatnya. Pada situasi seperti inilah tepatnya wanita disebut sebagai ‘pemercik api’. Yang dengan sengaja atau tanpa sengaja menghiasi dirinya dengan hal-hal yang membuat indah dan mempesona sehingga dapat menarik perhatian dari lawan jenis.

‘Semua perasaan condong padanya, perbuatan harampun terjadi karenanya. Mengundang terjadinya pembunuhan, permusuhanpun disebabkan karenanya. Sekurang-kurangnya ia sebagai insan yang disukai di dunia. Kerusakan mana yang lebih besar daripada ini?’ Begitulah Al Imam Al Mubarokfuri –rahimahullah- menjelaskan tentang bentuk bahaya fitnah wanita dalam Al Tuhfah Al Ahwadzi 8/53.

Allah berfirman: ”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Q.S. Ali Imran: 14).
Rasulullah memberikan peringatan dari fitnahnya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim dari sahabat Abu Said Al Khudri, beliau bersabda: “Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah wanita”.

Para wanita sebagai penyebab timbulnya fitnah bagi laki-laki seperti pernyataan Rasulullah diatas. Oleh karena itu hendaklah para wanita bertaqwa kepada Allah dengan menjaga dirinya dan menjaga kaum lelaki dari fitnah yang ditimbulkan karenanya.

Diantara yang dapat menimbulkan fitnah dari laki-laki terhadap wanita adalah bersolek berlebihan dan memakai wangi-wangian. Rasulullah bersabda: “Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian lewat di suatu kaum supaya mereka mendapatkan bau harumnya, maka ia telah berzina.” (HR Ahmad dari Sahabat Abu Musa Al Asy’ari). Bahkan dalam riwayat Muslim dari Sahabat Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Wanita mana saja yang memakai bukhur (sejenis wangi-wangian) tidak diperkenankan untuk sholat Isya di malam hari bersama kami.”

Tidak diragukan lagi bahwa sholat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat atas sholat sendirian. Walau demikian Rasulullah melarang para wanita untuk sholat Isya jika memakai wangi-wangian, menjaga supaya tidak terjadi fitnah.

Segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya fitnah hendaknya segera dihindari. Salah satu jalan lain yang dapat membuka peluang syaithan adalah menyendiri/berdua-duaan dengan lawan jenis (berkhalwat). Para wanita dilarang untuk berdua-duaan dengan lelaki yang bukan mahramnya, demikian pula sebaliknya. Rasulullah bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri, berduaan) dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR Muttafaq alaihi dari Sahabat Ibnu Abbas).
Dalam sabda yang lain : “Tidaklah seorang laki-laki berkholwat dengan seorang perempuan, melainkan ada pihak ketiga yang menyertai mereka, yaitu syaitan” (H.R. At Tirmidziy dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Maka wajib atas kaum wanita menjaga kehormatannya, dan janganlah membalas nikmat Allah dengan kekufuran. Kita sebagai umat Muhammad yang hidup pada jaman modern dan globalisasi seperti sekarang ini, seolah-olah sangat sulit untuk tidak ikut terjerumus dalam pola kehidupan yang cenderung menjauh dari norma-norma agama dan ketetapan Allah. Terlihat dari segala tingkah polah orang-orang menggandrungi sesuatu yang dianggap trend masa kini. Dan tidak jarang yang disebut trend itu adalah melenceng jauh dari syari’at islam. Sebagai contoh para wanita telah rela melepas identitas dirinya sebagai seorang muslimah dengan menanggalkan jilbab dan beralih ke model pakaian yang setengah jadi. Mini, ketat, dan tipis. Yang sama sekali bukan pakaian layak pakai teruntuk seorang wanita muslimah yang menjaga iffah (kehormatan, harga diri).

Maka dari itu, tidak sepantasnya wanita melepas tabir iffah-nya kemudian memperlihatkan pesona dan aurat hanya untuk dapat menarik perhatian para lelaki ajnabi, yang akhirnya dapat menyeret mereka ke dalam hal-hal yang dimurkai Allah. Jagalah dirimu, janganlah menjadi ‘wanita pemercik api’ apabila memang tidak mau terbakar dalam lembah kekufuran dan terperosok jauh dari rahmat serta hidayah Allah.

Bermimpi ke Surga

Aku bermimpi suatu hari, aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku serta menunjukkan keadaan di surga.
Kami berjalan memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat. Malaikat yang mengantarkan berhenti di depan ruang kerja pertama dan berkata, “Ini adalah Seksi Penerimaan. Disini, semua permintaan yang ditujukan pada Allah, diterima.”

Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan banyaknya malaikat yang memilah-memilah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh dunia.
Kemudian, aku dan malaikat yang menemaniku berjalan lagi melalui koridor yang panjang. Lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikat-ku berkata, “Ini adalah Seksi Pengepakan dan Pengiriman. Disini, kemuliaan dan rahmat yang diminta manusia diproses dan dikirim ke manusia-manusia yang masih hidup yang memintanya.”

Aku perhatikan lagi betapa sibukya ruang kerja itu. Ada banyak malaikat yang bekerja begitu keras karena ada begitu banyak permohonan yang dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.
Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada ujung terjauh koridor panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu ruang kerja yang sangat kecil. Yang mengejutkanku, hanya ada satu malaikat yang duduk disana… hampir tidak melakukan aktivitas apapun.

“Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih,” kata malaikat-ku pelan. Dia tampak malu.

“Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan disini? Sedangkan para malaikat yang kita temui sebelumnya nampak sangat sibuk dengan tugasnya masing-masing!” kataku.

“Menyedihkan,” malaikat-ku menghela napas.
“Setelah manusia menerima rahmat yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang mengirimkan pernyataan terimakasih!”

Aku hanya terdiam sambil menatap ruang kerja itu.
“Lalu, bagaimana manusia menyatakan terimakasih atas rahmat Tuhan?” tanyaku.

“Sederhana saja!” jawab malaikat.
“Cukup berkata ALHAMDULILLAHI RABBIL ‘AALAMIIN. Terimakasih Tuhan!”

“Lalu rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?” tanyaku.

Malaikat-ku menjawab, “Jika engkau mempunyai makanan di lemari es, pakaian yang menutup tubuhmu, atap diatas kepalamu dan tempat untuk tidur, maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk di dunia ini!

“Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu, dan uang-uang receh, maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

“Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu, engkau adalah bagian dari 1% orang di dunia yang memiliki kesempatan itu.

“Juga, jika engkau bangun pagi ini dengan lebih banyak kesehatan daripada kesakitan… engkau lebih dirahmati daripada begitu banyak orang di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.

“Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam perang, kesepian dalam penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan yang amat sangat… maka, engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia.

“Jika… engkau dapat menghadiri masjid atau pertemuan religius tanpa ada ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan, atau kematian…
Maka, engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang di dunia.

“Jika orangtuamu masih hidup dan masih berada dalam ikatan pernikahan… Maka, engkau termasuk orang yang sangat jarang.

“Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum, maka engkau bukanlah seperti orang kebanyakan, engkau unik dibandingkan semua mereka yang berada dalam keraguan dan keputusasaan.

“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu menyatakan bahwa; ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak nikmat kepadamu’ “ (QS. Ibrahim (14) : 7)

=================================================
Ditujukan kepada :
Departemen Pernyataan Terima Kasih :
“Terimakasih, Allah! Terimakasih Allah, atas anugerah-Mu berupa kemampuan untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini, dan memberikan aku begitu banyak teman yang istimewa untuk saling berbagi.”


suatu pagi, di Al-Fadhilah

Wanita....

Ketika TUHAN Menciptakan wanita, malaikat datang dan bertanya ”Mengapa begitu lama TUHAN?"

TUHAN menjawab “Sudahkah engkau lihat semua detail yg AKU buat untuk menciptakan mereka?”
Dua tangan ini harus bisa dibersihkan, tetapi bahannya bukan dari plastik. Setidaknya terdiri dari 200 bagian, yang bisa digerakkan dan berfungsi baik untuk segala jenis makanan. Mampu menjaga banyak anak saat bersamaan, punya pelukan yang dapat menyembuhkan sakit hati dan keterpurukan. ..dan semua dilakukannya dengan dua tangan ini."

Malaikat itu takjub..” Hanya dengan dua tangan?…impossible!!”

“Oh…Tidak!! AKU akan menyelesaikan ciptaan HARI INI, karena ini adalah ciptaan favoritKU. Oh ya…dia juga akan mampu menyembuhkan dirinya sendiri dan bisa bekerja selama 18 jam sehari.”

Malaikat mendekat dan mengamati bentuk wanita ciptaan TUHAN itu.
“Tapi ENGKAU membuatnya begitu lembut TUHAN?”

“Yah…AKU membuatnya begitu lembut, tapi engkau belum bisa bayangkan kekuatan yang AKU berikan agar mereka dapat mengatasi banyak hal yang luar biasa!”

“Dia bisa berpikir?” tanya malaikat.

TUHAN menjawab: ” Tak hanya berpikir, dia mampu bernegosiasi.”

Malaikat itu menyentuh dagunya. . .
” TUHAN, ENGKAU buat ciptaan ini kelihatannya lelah dan rapuh! Seolah terlalu banyak beban baginya.”

” Itu bukan lelah atau rapuh….itu AIR MATA”.

“Untuk apa?” tanya malaikat.

Tuhan melanjukan,” AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, CINTA, kesepian, penderitaan dan kebahagian”

“ENGKAU memikirkan segala sesuatunya. Wanita ciptaanMU ini akan sungguh menakjubkan!”

“Ya Mesti. . . ! Wanita ini akan mempunyai kekuatan mempesona bagi laki-laki. Dia dapat mengatasi beban, bahkan laki-laki sekalipun. Dia mampu menyimpan kebahagian dan pendapatnya sendiri.
Dia mampu tersenyum bahkan saat hatinya menjerit.
Mampu menyanyi saat menangis, menangis saat terharu, terharu saat tertawa, bahkan tertawa saat ketakutan.
Dia berkorban demi orang yang dicintainya.
Dia tidak menolak kalau melihat yang lebih baik.
Dia menerjunkan dirinya untuk keluarganya.
Dia membawa temannya yang sakit untuk berobat.
- CINTANYA TANPA SYARAT –

Dia menangis saat melihat anaknya adalah pemenang.
Dia girang dan bersorak saat melihat temannya tertawa.
Dia begitu bahagia mendengar kelahiran.
Hatinya begitu sedih saat mendengar berita sakit dan kematian,
Tetapi dia selalu punya kekuatan untuk mengatasi hidup,
Dia tahu bahwa sebuah ciuman dan pelukan dapat menyembuhkan luka.
Hanya Satu Kekurangan dari Wanita!!

“Apa itu wahai TUHAN-ku?”

"-DIA LUPA BETAPA BERHARGANYA DIA-"

suatu siang, di Al-Falah

Balada Kisah Uang 1000 dan 100.000

Konon, uang seribu dan seratus ribu memiliki asal-usul yang sama tapi mengalami nasib yang berbeda. Keduanya sama-sama dicetak di PERURI dengan bahan dan alat-alat yang oke. Pertama kali keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu sama-sama bagus, berkilau, bersih, harum dan menarik. Namun tiga bulan setelah keluar dari PERURI, uang seribu dan seratus ribu bertemu kembali di dompet seseorang dalam kondisi yang berbeda.

Uang seratus ribu berkata pada uang seribu :"Ya, ampyyyuunnnn. ......... darimana saja kamu, kawan? Baru tiga bulan kita berpisah, koq kamu udah lusuh banget? Kumal, kotor, lecet dan..... bau! Padahal waktu kita sama-sama keluar dari PERURI, kita sama-sama keren kan ..... Ada dapa denganmu?"

Uang seribu menatap uang seratus ribu yang masih keren dengan perasaan nelangsa. Sambil mengenang perjalanannya, uang seribu berkata : "Ya, beginilah nasibku, kawan. Sejak kita keluar dari PERURI, hanya tiga hari saya berada di dompet yang bersih dan bagus. Hari berikutnya saya sudah pindah ke dompet tukang sayur yang kumal. Dari dompet tukang sayur, saya beralih ke kantong plastik tukang ayam. Plastiknya basah, penuh dengan darah dan kotoran ayam. Besoknya lagi, aku dilempar ke plastik seorang pengamen, dari pengamen sebentar aku nyaman di laci tukang warteg. Dari laci tukang warteg saya berpindah ke kantong tukang nasi uduk. Begitulah perjalananku dari hari ke hari. Itu makanya saya bau, kumal, lusuh, karena sering dilipat-lipat, digulung-gulung, diremas-remas. ......."

Uang seratus ribu mendengarkan dengan prihatin. "Wah, sedih sekali perjalananmu, kawan! Berbeda sekali dengan pengalamanku. Kalau aku ya, sejak kita keluar dari PERURI itu, aku disimpan di dompet kulit yang bagus dan harum. Setelah itu aku pindah ke dompet seorang wanita cantik. Hmmm... dompetnya harum sekali. Setelah dari sana, aku lalu berpindah-pindah, kadang-kadang aku ada di hotel berbintang 5, masuk ke restoran mewah, ke showroom mobil mewah, di tempat arisan Ibu-ibu pejabat, dan di tas selebritis. Pokoknya aku selalu berada di tempat yang bagus. Jarang deh aku di tempat yang kamu ceritakan itu. Dan...... aku jarang lho ketemu sama teman-temanmu. "

Uang seribu terdiam sejenak. Dia menarik nafas lega, katanya : "Ya. Nasib kita memang berbeda. Kamu selalu berada di tempat yang nyaman. Tapi ada satu hal yang selalu membuat saya senang dan bangga daripada kamu!"

"Apa itu?" uang seratus ribu penasaran.

"Aku sering bertemu teman-temanku di kotak-kotak amal di mesjid atau di tempat-tempat ibadah lain. Hampir setiap minggu aku mampir di tempat-tempat itu. Jarang banget tuh aku melihat kamu disana....."

Bagaimana dengan kita..???

Malam Pertama bersama Bidadari Surgaku

Hari pernikahanku. Hari yang paling bersejarah dalam hidup. Seharusnya saat itu aku menjadi makhluk yang paling berbahagia. Tapi yang aku rasakan justru rasa haru biru.

Betapa tidak. Di hari bersejarah ini tak ada satupun sanak saudara yang menemaniku ke tempat mempelai wanita. Apalagi ibu. Beliau yang paling keras menentang perkawinanku.

Masih kuingat betul perkataan ibu tempo hari, "Jadi juga kau nikah sama 'buntelan karung hitam' itu ....?!?" Duh......, hatiku sempat kebat-kebit mendengar ucapan itu. Masa calon istriku disebut 'buntelan karung hitam'.

"Kamu sudah kena pelet barangkali Ilham. Masa suka sih sama gadis hitam, gendut dengan wajah yang sama sekali tak menarik dan cacat kakinya. Lebih tua beberapa tahun lagi dibanding kamu !!" sambung ibu lagi.

"Cukup Bu! Cukup! Tak usah ibu menghina sekasar itu. Dia kan ciptaan Allah. Bagaimana jika pencipta-Nya marah sama ibu...?" Kali ini aku terpaksa menimpali ucapan ibu dengan sedikit emosi. Rupanya ibu amat tersinggung mendengar ucapanku.

"Oh.... rupanya kau lebih memillih perempuan itu ketimbang keluargamu. baiklah Ilham. Silahkan kau menikah tapi jangan harap kau akan dapatkan seorang dari kami ada di tempatmu saat itu. Dan jangan kau bawa perempuan itu ke rumah ini !!"

DEGG !!!!
****

"Ilham.... jangan bengong terus. Sebentar lagi penghulu tiba," teguran Ismail membuyarkan lamunanku. Segera kuucapkan istighfar dalam hati.

"Alhamdulillah penghulu sudah tiba. Bersiaplah ...akhi," sekali lagi Ismail memberi semangat padaku.

"Aku terima nikahnya, kawinnya Shalihah binti Mahmud almarhum dengan mas kawin seperangkat alat sholat tunai !"

Alhamdulillah lancar juga aku mengucapkan aqad nikah.

"Ya Allah hari ini telah Engkau izinkan aku untuk meraih setengah dien. Mudahkanlah aku untuk meraih sebagian yang lain."
****

Dikamar yang amat sederhana. Di atas dipan kayu ini aku tertegun lama. Memandangi istriku yang tengah tertunduk larut dalam dan diam. Setelah sekian lama kami saling diam, akhirnya dengan membaca basmalah dalam hati kuberanikan diri untuk menyapanya.

"Assalamu'alaikum .... permintaan hafalan Qur'annya mau di cek kapan De'...?" tanyaku sambil memandangi wajahnya yang sejak tadi disembunyikan dalam tunduknya. Sebelum menikah, istriku memang pernah meminta malam pertama hingga ke sepuluh agar aku membacakan hafalan Qur'an tiap malam satu juz. Dan permintaan itu telah aku setujui.

"Nanti saja dalam qiyamullail," jawab istriku, masih dalam tunduknya. Wajahnya yang berbalut kerudung putih, ia sembunyikan dalam-dalam. Saat kuangkat dagunya, ia seperti ingin menolak. Namun ketika aku beri isyarat bahwa aku suaminya dan berhak untuk melakukan itu , ia menyerah.

Kini aku tertegun lama. Benar kata ibu ..bahwa wajah istriku 'tidak menarik'. Sekelebat pikiran itu muncul ....dan segera aku mengusirnya. Matanya berkaca-kaca menatap lekat pada bola mataku.

"Bang, sudah saya katakan sejak awal ta'aruf, bahwa fisik saya seperti ini. Kalau Abang kecewa, saya siap dan ikhlas. Namun bila Abang tidak menyesal beristrikan saya, mudah-mudahan Allah memberikan keberkahan yang banyak untuk Abang. Seperti keberkahan yang Allah limpahkan kepada Ayahnya Imam malik yang ikhlas menerima sesuatu yang tidak ia sukai pada istrinya. Saya ingin mengingatkan Abang akan firman Allah yang dibacakan ibunya Imam Malik pada suaminya pada malam pertama pernikahan mereka,"

... Dan bergaullah dengan mereka (istrimu) dengat patut (ahsan). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjanjikan padanya kebaikan yang banyak."
(QS An-Nisa:19)

Mendengar tutur istriku, kupandangi wajahnya yang penuh dengan air mata itu lekat-lekat. Aku teringat kisah suami yang rela menikahi seorang wanita yang memiliki cacat itu. Dari rahim wanita itulah lahir Imam Malik, ulama besar ummat Islam yang namanya abadi dalam sejarah.

"Ya Rabbi aku menikahinya karena Mu. Maka turunkanlah rasa cinta dan kasih sayang milikMu pada hatiku untuknya. Agar aku dapat mencintai dan menyayanginya dengan segenap hati yang ikhlas."

Pelan kudekati istriku. Lalu dengan bergetar, kurengkuh tubuhya dalam dekapku. Sementara, istriku menangis tergugu dalam wajah yang masih menyisakan segumpal ragu.

"Jangan memaksakan diri untuk ikhlas menerima saya, Bang. Sungguh... saya siap menerima keputusan apapun yang terburuk," ucapnya lagi.

"Tidak...De'. Sungguh sejak awal niat Abang menikahimu karena Allah. Sudah teramat bulat niat itu. Hingga Abang tidak menghiraukan ketika seluruh keluarga memboikot untuk tak datang tadi pagi," paparku sambil menggenggam erat tangannya.
****

Malam telah naik ke puncaknya pelan-pelan. Dalam lengangnya bait-bait do'a kubentangkan pada Nya.

"Robbi, tak dapat kupungkiri bahwa kecantikan wanita dapat mendatangkan cinta buat laki-laki. Namun telah kutepis memilih istri karena rupa yang cantik karena aku ingin mendapatkan cinta-Mu. Robbi saksikanlah malam ini akan kubuktikan bahwa cinta sejatiku hanya akan kupasrahkan pada-Mu. Karena itu, pertemukanlah aku dengan-Mu dalam Jannah-Mu !"

Aku beringsut menuju pembaringan yang amat sederhana itu. Lalu kutatap raut wajah istriku denan segenap hati yang ikhlas. Ah, .. sekarang aku benar-benar mencintainya. Kenapa tidak? Bukankah ia wanita sholihah sejati. Ia senantiasa menegakkan malam-malamnya dengan munajat panjang pada-Nya. Ia senantiasa menjaga hafalan KitabNya. Dan senantiasa melaksanakan shoum sunnah Rasul Nya.

"...dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah. Mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya pada Allah ..."
(QS. al-Baqarah:165)


Sumber : disini dengan sedikit penyesuaian

Dan Akupun Patah Hati

Hembusan angin membelai setiap helai dedaunan yang mulai samar ditelan kegelapan malam. Semburat siluet senja masih terpancar di sudut kaki langit sebelah barat. Bintang gemintang telah siap menggantikan pancaran dari sang surya yang telah seharian teriknya menyengat apa saja yang terhampar di tanah bumi. Satu bintang, dua bintang, dan banyak bintang yang lain bermunculan seakan berlomba dan berkata bahwa, “akulah yang paling terang”. Sebentuk dewi malam menambah indah pesona malam nan syahdu. Tidak bulat penuh, namun seakan senyumnya diantara gemerlip bintang-bintang yang menggantung tidak seindah senyumku malam itu.

Kusandarkan tubuhku diatas kursi rotan didepan meja samping tempat tidurku sambil terus menatap indahnya pesona temaram melalui jendela kaca. Sambil melemaskan otot-otot yang telah lelah beraktifitas seharian. Kini giliran tubuhku beristirahat.

Akhir-akhir ini, sering dalam sujud-sujudku maupun dalam untaian doa terselip sebuah nama. Nama yang aku mengharap kepada Rabbku untuk dapat menjadikannya sebagai pembimbing dalam langkahku, teman sejati dalam hidupku, pelipur lara dalam setiap keluh kesahku.
Akupun bingung, bukan ini yang dulu kuminta setiapkali aku berdo’a. Sama sekali bukan. Dulu yang aku pinta hanyalah nilai bagus pada setiap ulangan di sekolah, kupinta agar disetiap liburan sekolahku selalu menyenangkan. Kupinta pada Allah supaya menjadikan aku anak yang shalihah dan dapat membahagiakan orangtuaku.. Itu saja.
Namun, kenapa serta merta do’aku menjadi berbeda? Akupun tak tahu. Sudah pantaskah aku memohon seperti itu, sudah siapkah aku untuk melangkah ke kehidupanku yang lebih jauh. Hanyalah Allah Yang Maha Tahu…

Hingga suatu kali aku mengetahui bahwa seseorang yang selalu menggangguku itu telah merajut indah dengan bunga lain. Yang mungkin jauh lebih pantas dia petik daripada hanya sekedar seorang hamba yang bermandikan kekurangan dan kelemahan. Yah, lebih pantas…

Pintaku dalam setiap sujud panjangku, serta dalam untaian do’aku…
‘Tunjukkanlah hamba jalan lurus-Mu Ya Rabb…agar senantiasa aku dapat menggapai ridha-Mu,
Jadikanlah aku seorang yang sedikit dapat menyenangkan kedua orangtuaku Ya Rabb, yang dari dulu hingga detik ini mereka telah selalu menyenangkanku…’

Dan do’a-do’a yang lain…
Yang tak ada lagi sebuah nama terselip didalamnya,
Entahlah, mungkin ini yang dikata banyak orang ,”Lebih baik sakit gigi, daripada hatinya yang sakit karena patah hati…”
Sering aku menyepelekan kata-kata itu, mungkin karena aku tidak pernah mengalaminya.
Namun, saat ini…detik ini…
Sepertinya, penyakit itu tengah menimpaku…

"Ranting dahan yang rapuh pun, mulai patah..."

Catatan di Penghujung Juni

Kutatap sebatang pohon mangga di samping rumahku. Dulu, pohon itu tidak lebih tinggi dariku. Namun semakin lama seiring berjalannya waktu dia terus tumbuh hingga ada beberapa ranting yang akupun tak sanggup menggapainya. Bila sedang berbuah, pohon itu menghasilkan buah yang lebat dan manis. Mungkin karena lebatnya, tangkai-tangkai pohon itu merunduk… seolah ingin memudahkan kami untuk menggapai dan memetiknya, dan menikmatinya.

Namun bila musim kemarau menyapa, membayangkan buah yang menggantung disetiap tangkainyapun serasa tak mungkin. Daun-daun mulai mengering hingga berguguran dibuai angin. Ranting batang ada beberapa yang mulai berubah warna kecokelatan, hingga akhirnya rapuh dan patah. Apakah keadaan macam ini akan terus berlanjut?
Kurasa tidak. Ketika bulir-bulir bening yang tercurah dari langit bagaikan mampu membangunkan sang pohon yang telah sekarat dan hampir mati. Kembali dapat kulihat daun-daun yang lebar dan menghijau. Ranting yang kekar dan terus menjalar. Hingga akhirnya muncul putik-putik bunga yang kelak akan menyajikan buah yang ranum nan lezat.

Waktu,
Hanya waktulah yang dapat mengubah segalanya layaknya pohon yang hijau menjadi kering, hingga menjelma menjadi pohon yang segar hijau kembali.
Begitu pula denganku, waktulah yang merubahku. Namun, apakah aku telah berubah kearah yang lebih baik? Apakah aku telah dapat menyajikan buah hasil dari perjalanan waktuku? Tidaklah perlu bagi orang lain, bagi diriku sendiri saja…rasanya belum maksimal.

Tuhan, yang pertama kali…aku mensyukuri nikmat waktu yang telah Engkau berikan hingga detik ini…detik ini. Sehingga aku masih dapat menghirup segarnya udara pagi, menatap sinar mentari, dan selalu berharap bisa bangkit kembali. Menatap masa jauh kedepan, meninggalkan masa yang telah lalu yang hanya dipenuhi sia dan nafsu.
Sungguh, aku ingin melupakan masa-masa yang pernah kulalui hanya dengan renyah tawa tanpa mengingat-Mu. Masa-masa yang hanya penuh omong kosong tanpa menyebut asma dan mengagungkan-Mu. Masa dimana aku terbuai terlena tanpa sadar akan kewajibanku untuk menyembah-Mu. Ingin rasanya kumulai waktuku dari nol. Nol besar, dan melaluinya dengan bibir basah penuh dzikir, hati tentram penuh kasih-Mu, pikiran tenang selalu mengingat-Mu. Tapi, bisakah…

Tuhan, kiranya Kau masih sudi memberiku sedikit waktu saja untuk memperbaiki segala kelakuanku dulu. Kiranya Kau masih sudi membukakan Baabut Taubah untukku. Kau masih percayakan waktu ini untukku, hingga hari ini..detik ini. Umurpun semakin merangkak…dan aku juga harus merangkak untuk menuju ridha-Mu. Gapailah tanganku Tuhan, hingga aku tak akan terjatuh lagi…
Berkahilah setiap detik waktu yang kulalui, agar aku tidak menjadi insan bodoh yang mudah menyiakan masa dan kesempatan. Agar pula aku dapat bermanfaat bagi orang lain, pun untuk diriku sendiri.
Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kekhilafanku. Kuharapkan maghfiroh dari-Mu.
Bimbing diri ini menuju cinta kasih, rahmat serta ampunan-Mu.
Karena hanya dengan itulah, aku bisa hidup…

Saat-saat Indah


Terkadang ada saat-saat dalam hidup ketika engkau merindukan seseorang begitu dalam, hingga engkau ingin mengambilnya dari angan-anganmu, lalu memeluknya erat-erat!

Ketika pintu kebahagiaan telah tertutup, dan pintu yang lain terbuka; seringkali kita memandang terlalu lama pada pintu yang tertutup hingga kita tidak melihat pada pintu yang lain,
yang telah terbuka bagi kita.

Jangan percaya penglihatan; penglihatan dapat menipu.
Jangan percaya kekayaan; kekayaan dapat sirna.
Percayalah pada Dia yang dapat membuatmu tersenyum.
Sebab, hanya senyumlah yang dibutuhkan untuk merubah hari gelap menjadi terang.
Carilah Dia, yang membuat hatimu tersenyum.

Angankan apa yang engkau ingin angankan;
Pergilah kemana engkau ingin pergi;
Jadilah seperti yang engkau kehendaki,
Sebab, hidup hanya satu kali dan engkau hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan segala hal yang engkau ingin lakukan!

Semoga engkau punya cukup kebahagiaan
untuk membuatmu tersenyum,
Cukup pencobaan untuk membuatmu kuat,
Cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi,
Dan cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.

Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus memiliki yang terbaik dari segala sesuatu.
Mereka hanya mengoptimalkan segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka.
Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu!
Engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu.

Ketika engkau dilahirkan,
engkau menangis sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalani hidupmu sedemikian rupa,
hingga pada akhirnya engkaulah satu-satunya yang tersenyum sementara semua orang di sekelilingmu menangis.

Jangan hitung tahun-tahun yang lewat,
hitunglah saat-saat yang indah.
Hidup tidak diukur dengan banyaknya napas yang kita hirup,
Melainkan dengan saat-saat dimana kita menarik napas bahagia...


dari seorang teman

Kembang Ilalang...

Pernah suatu kali aku minta pada Tuhan setangkai bunga segar, tapi Ia memberiku kaktus berduri. Ketika itu aku berfikir, kalau Tuhan tidak Mendengar permintaanku.
Lalu aku minta kupu-kupu yang indah, yang senantiasa disampingku kala ku butuh teman, yang bisa kuajak bermain kejar-kejaran…tapi apa?? Tuhan malah memberiku ulat berbulu… Kala itu aku mulai berfikir, Tuhan itu jahat. Dia tidak pernah memberikan apa yang aku inginkan.
Namun, disaat aku sedih dan kecewa…aku melihat sesuatu yang membuatku lupa akan kemurunganku. Kulihat kemudian kaktus berduri itu berbunga, indah sekali. Dan ulat berbulu itupun berubah menjadi kupu-kupu nan cantik.
Kembali aku berfikir, mungkin inilah jalan Tuhan! Indah pada waktunya.
Tuhan tidak memberikan apa yang kita ingin dan harapkan, namun Ia memberikan apa yang kita perlukan.

Kadang kita sedih, kecewa, atau bahkan terluka! Tapi jauh diatas segalanya, Ia sedang merajut yang terbaik untuk kita.
Allah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 216 yang artinya :
“….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.“

Subhanallah wal hamdulillah…..

------##------

Pernah ku berfikir…Tuhan tidak adil padaku, pada keluargaku. Bukan pemandangan asing lagi bagiku, menyaksikan orang-orang disekitar tempatku tinggal pulang pergi dengan kendaraan yang bagus, baju bagus, pulang kemudian membawa berkantong-kantong besar barang belanjaan yang aku yakin harganya tidaklah setara dengan baju kaos yang sering aku pakai.
Anak-anak mereka yang seusiaku, bisa sekolah menuntut ilmu dengan tenang. Tanpa harus dikejar waktu karena harus pergi ke pasar untuk menjual sakadar sayuran yang dipetik dipekarangan rumah sebelum berangkat sekolah. Mereka bisa belajar dengan nyaman tanpa dipusingkan dengan uang sekolah yang menunggak semakin lama semakin banyak tanpa ada celah untuk berfikir darimana mendapatkan uang hanya sekedar untuk mencicilnya.

Kepedihanku kian memuncak ketika bulan puasa. Disaat mereka merencanakan berbuka dengan menu restoran yang berderet, kami hanya mampu membasahi kerongkongan dengan seteguk air putih dingin. Dan mengisi perut dengan sayur bayam dipadu dengan sambal yang sengaja dibuat sangat pedas hingga kami bisa berselera makan.
Tak henti-hentinya aku meminta kepada Tuhan agar dijadikan hidupku seperti hidup mereka. Namun hingga saat ini, tak kunjung kudapati kehidupan yang aku inginkan. Benarkah Tuhan itu tidak adil?? Pertanyaan besar yang terus menggelayuti benak selama bertahun-tahun itu tanpa kusadari semakin lama semakin hilang saat kudengar sebuah khutbah di suatu Jum’at… tentang makna bersyukur.

Kini, kutak peduli dengan tingkah polah mereka. Mereka bisa pergi dengan mobil bagus, aku juga bisa pergi berkelana ditemani sepedaku hadiah lomba tujuhbelasan beberapa waktu lalu. Tanpa polusi, bisa merasakan semilirnya angin alam, dan lebih sehat tentunya. Saat mereka memakai baju-baju bermerk mahal, akupun puas dengan kaos lengan panjangku yang selama hampir empat tahun menemaniku. Tak apalah sedikit sempit, yang penting kenyamanan tetap kudapat. Namun, aku senang jika mengingat dilemari bajuku tergantung sebuah kemeja baru yang dibelikan oleh pamanku kemarin.
Dan ketika mereka mengabsen restoran mana yang akan disambangi saat berbukapun, aku lebih tak peduli lagi. Kini, kami sekeluarga telah nikmat berbuka dengan es cendol bikinan sendiri. Sayur bayam, sambal pedas, dan satu lagi. Ditambah lauk tahu dan tempe.

Setelah kufikir jernih dan kurasakan, ternyata kehidupanku sekarang lebih baik dari kehidupan dulu dikala aku menghujat Tuhan yang kusangka tidak adil padaku. Mengapa demikian? Apakah Tuhan tidak marah atas sikapku itu? Entahlah, mungkin inilah salah satu sifat Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan atas rezeki yang telah aku dapat?? Bisa juga karena sifat Allah Yang Maha Pemurah.
Dan satu lagi yang lebih penting! Setelah kudengarkan khutbah Jum’at itu, aku senantiasa bersyukur atas apa saja yang diberikan-Nya padaku dan keluargaku. Apa ini yang membuat hidupku sedikit lebih baik???

Firman Allah Q.S. Ibrahim ayat 7 : "Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih."

Firman Allah Q.S. Al-Baqarah ayat 152 : "Maka ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Firman Allah Q.S. Al-Anfal ayat 26 : “Dan diberinya kamu rezeki yang baik-baik agar kamu bersyukur.”

Firman Allah Q.S. An-Nahl ayat 14 : “Dan Dialah (Allah) yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging (ikan) yang segar darinya, dan kamu mengeluarkan dan lautan itu perhiasan yang kamu pakai, dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dan karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.”

Subhanallah wal hamdulillah…..

The Long Journey

Kemarin, tepatnya hari Kamis, 23 April 2009 kami (rombongan) berangkat ziyarah ke makam wali di Jateng. Disini, saya hendak sedikit berbagi cerita dan pengalaman saya di suatu belahan bumi Jawa yang lain (ehm…). Hhm...pokoknya suka duka deh. Dan kesan terakhir yang didapat sepulang dari ziyarah itu tidak lain dan tidak bukan adalah..’cuapeek…’ Pfiuuh…tapi ngga papa. Yang penting insya Allah dengan perjalanan itu dapat membuat kami (saya khususnya) lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ziyarah tersebut dimaksudkan untuk mendo’akan para alim ulama yang telah mendahului kita. Selain itu, jelas…ziyarah dimaksudkan untuk membuat kita mengingat mati dan lekas mencari bekal untuk sebuah perjalanan panjang nan melelahkan. Mengenai ziyarah kubur, lebih jelasnya dapat dibaca disini. Selain itu, ziyarah ke makam para waliyullah disini agar kita sebagai umat muslim mengetahui betapa besar perjuangan dan pengorbanan mereka dalam menyebarkan dien Allah khususnya di Pulau Jawa. Sama halnya seperti saat Nabi Muhammad SAW, yang mengorbankan seluruh tenaga dan jiwa raga untuk menegakkan agama Islam. Dan semoga, dengan luasnya penyebaran agama islam di Indonesia sekarang ini khususnya, yang menjadikan Negara tercinta kita ini menyandang gelar sebagai Negara dengan penduduk islam terbanyak (88%), tidak hanya berupa statistika angka belaka. Namun, pemahaman tentang islam dapat merasuk ke hati sanubari masing2 sehingga kita dapat berperilaku sebagai seorang umat muslim yang dapat menerapkan ajaran2 yang telah tercantum dalam Qur’an dan Hadits serta dapat meneladani Rasul sebagai Nabi junjungan kita.
Ehm, ngga usah panjang lebar pengantarnya…karena panjang tambah lebar sama dengan luas dan lama!! (he.he..nyambung ngga sieh??) Lanjut ah, berikut kisah perjalanan yang memakan waktu sekitar 21 jam lebih 10 menit dari waktu keberangkatan (wah..ngitung ya? Engga..kan di busnya ada catatan durasinya!) Let’s check it out!!

Langsung pas berangkatnya aja ya, soalnya nanti kalau diceritakan dari awal persiapan bangun tidur bakalan lama! He..he..biasa, orangnya lelet Be Ge Te.
Oke, lanjut! Kami (saya, abi dan ade’) sholat shubuh dimasjid berjama’ah sekitar pukul 04.30 WIB. Setelah mendapat sedikit penjelasan akhirnya rombongan yang diangkut dengan menggunakan 2 bus pariwisata itu berangkat meninggalkan masjid pukul 05.45 WIB. Disitulah pertamakali perjalanan kami dimulai. Satu jam kemudian, kami sudah berada di Jogja kota dan segera meluncur ke Jawa Tengah. Namun sebelum ke makam wali (rencananya ziyarah ke makam sunan Kalijaga, sunan Kudus dan sunan Muria), kami singgah sebentar untuk ziyarah di Krapyak.

Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan dan sekitar pukul 13.30 WIB kami sampai di Demak. Sebelum memasuki kompleks masjid Demak, tata kota yang apik dan asri telah menyambut kami dan para peziyarah yang lain. Sepanjang jalan tertulis Asma’ul Husna yang berjajar rapi sebelum masuk ke kompleks masjid. Yang saya fikir aneh, ketika bus sudah berada di depan kompleks masjid para penumpang ngga boleh turun. Nah lo, gimana tuh!! Gini, jadi bus2 yang mengangkut para peziyarah itu diharuskan parkir terlebih dahulu. Oke..ngga papa. Tapi saat tau kalau tempat parkirnya ngga bisa dibilang deket dengan kompleks masjid, kamipun mulai khawatir. Masa iya disuruh jalan segitu jauh?? Tenaang, ternyata di kompleks parkir sudah tersedia layanan antar. Pilih mana, menuju masjid dengan naik kuda? (eh..naik andong maksudnya!) bisa, atau mau yang lebih cepet..bisa juga. Disana tersedia banyak ojek. Atau, mau berdua atau bertiga sama keluarga? Boleh, naik becak aja. Ongkosnya pun ngga mahal2 amat. Cuma Rp. 2000 per orang. Murah bukan?!? Udah ah, kenapa malah jadi promosi jasa angkutan sih?!? ^^.
Ya udah, lanjut ya…Ceritanya udah sampe di Masjid Agung Demak nie. Sampai disana jama’ah langsung mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat Dzuhur secara berjama’ah. Karena banyak juga yang membawa anak kecil yang masih doyan susu, maka saat hendak sholatpun ada adegan susu tumpah segala. Pas dibelakang shof wanita. Walah…terpaksa pindah posisi nieh. Ya udah, ngga papa. Namanya juga anak2. Dulu kita kan juga begitu ya, malah lebih parah mungkin (^^). Kami menunaikan sholat jama’ taqdim Dzuhur dan Asar mengingat perjalanan yang ditempuh masih cukup jauh.
Setelah sholat, kami (rombongan/jama’ah) segera berziyarah ke makam Raden Fattah/Raden Patah yang menjadi perintis kerajaan Islam di Jawa. Ia disebut-sebut sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan putri asal Campa (kini Kamboja) yang telah masuk Islam. Masa kecilnya dihabiskan di Pesantren Ampel Denta -pesantren yang dikelola Sunan Ampel. Ibu Sunan Ampel (istri Maulana Malik Ibrahim) juga putri penguasa Campa ketika Majapahit melemah dan terjadi pertikaian internal, Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan membangun Kesultanan Demak. Dalam konflik dengan Majapahit, ia dibantu Sunan Giri. Berdirilah Kesultanan Demak pada 1475 atau beberapa tahun setelah itu.

Disana juga terdapat museum yang berisi barang2 bersejarah atau tepatnya barang peninggalan para sunan dan kerajaan. Diantaranya adalah Soko Majapahit, tiang ini berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid. Benda purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden Fattah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M. Ada juga Situs Kolam Wudlu. Situs ini dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga sekarang situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi. Kemarin sempat lihat, masih ada airnya dengan pagar disetiap sisinya. Dan didalamnya terdapat beberapa ekor ikan (loh…)

Sekian ziyarah di kompleks masjid Demak. Para jama’ah kembali ke parkiran bus, istirahat sebentar, lalu perjalanan dilanjutkan ke makam sunan Kalijaga. Tidak begitu jauh dari lokasi bus, hanya beberapa menit saja. Sesampainya disana saat memasuki gerbang komplek, mata langsung dimanjakan dengan berbagai macam jenis barang dagangan disetiap kanan kiri jalan. Kalau saya sih, cukup melihat saja. Tidak begitu tertarik. Oya, satu yang harus dipersiapkan para peziyarah, yaitu uang receh. Kenapa, karena setiap kaki melangkah menuju makam wali disitu pula ada (maaf) pengemis atau orang minta2. Entah itu mulai dari anak2 hingga orang tua (simbah2) sekalipun. Banyak sekali. Seperti sudah menjadi profesi lazim mungkin ya. Namun para peziyarah juga tidak pelit (terutama rombongan saya..he..he..) maunya sieh, setiap pengemis mau dikasih, tapi itu akan lama dan mengundang yang lain. Jadi ya beberapa aja. Dan mereka cenderung selektif juga. Saya perhatikan yang dikasih hanyalah orang yang benar2 tidak mampu secara fisik ataupun sudah sangat sepuh (tua). Dan yang paling bikin semangat para pemberi itu adalah bahwa dalam setiap keping yang mereka berikan akan meluncur do’a. “Alhamdulillah, maturnuwun Den. Mugi2 sami sehat, kaparingan berkah saking Gusti Allah, ketampi sedaya amal saenipun, dipun kabulaken ingkang dados panyuwunanipun...bla..bla..” (tau ngga artinya?? Enggak?? Sama…^_^)
Para peziyarahpun semakin semangat buat ngasih, tak lupa dengan senyum manis, pake tangan kanan, sambil bilang ‘semoga bermanfaat ya..’. Kalau sepanjang jalan hanya sibuk merogoh kantong buat menyantuni mereka, yang ada malah ngga jadi ziyarah karena kemaleman di jalan…betul nggak?? Oya, satu yang sedikit membuat saya geli. Salah seorang dari jama’ah saya, setiap kali peziyarah lain memberi uang kepada para pengemis dan saat si pengemis tsb mendo’akan, dia hanya ikut meng-amini saja.
“semoga diberi kesehatan, semoga dikabulkan do’anya, semoga..bla..bla…”
“Amin-amin-amin…” begitu berulang-ulang. Rupanya dia lebih fokus untuk berziyarah ke makam dan lebih suka memasukkan uang di kotak infak yang sudah disediakan. Tapi memang ngga ada salahnya menyantuni mereka. Mungkin dia ngga mau repot merogoh kantong dan menyeleksi pengemis mana yang patut diberi karena memang dia sendiri membawa anak kecil. Jadi yah..jalan lurus2 aja. Dan setiap saya mendengar dan melihat adegan ‘amin-amin’ itu, saya hanya bisa menahan geli. Walah..walah! Ada-ada saja…

Satu lagi untuk memudahkan perjalanan anda, bawalah selalu kantong plastik yang muat untuk tempat sandal. Karena dari pintu gerbang makam hingga menuju makam utama jaraknya cukup jauh, maka jika anda tidak ingin kehilangan sandal karena dilepas di depan gerbang masukkan sandal kedalam kantong plastik dan dibawa serta masuk ke dalam kompleks makam. Begitu lebih praktis dan aman. Karena tidak sedikit peziyarah yang masuknya memakai sandal, pulangnya bertelanjang kaki alias nyeker karena sandalnya keliru atau diambil orang. Yah, mereka hanya bisa bilang..”Ya wiss, ikhlaske wae”. Hmm..kasian juga. Udah, ngga usah mikirin sandal.

Lanjut perjalanan ke makam sunan Muria. Muria oh Muria…Ternyata perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai sekarang ketika hendak berziyarah ke makam sunan Muria. Dari kejauhan, sudah nampak gunung Muria yang menjulang tinggi. Kami rombongan nggak nyangka kalau sesungguhnya sedang menuju kesana. Beberapa saat kemudian, bus berjalan pelan karena memang menanjak naik. Berkelok-kelok lagi…tapi mata kami kembali dimanjakan pemandangan indah di kanan-kiri jalan. Pemandangan kota yang asri dan permai. Jadi pengen nyanyi…’naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja…’ Ehm..kelamaan. Setelah setengah naik, bus diparkir di tempat parkir (iyalah, masak di tempat sholat!!) Disitu sudah banyak layanan ojek yang siap mengantar jama’ah naik ke puncak. Harganya lumayan mahal, Rp.7000 sekali jalan. Lalu setelah turun dari bus, kami berunding sejenak. Diambillah kesepakatan bahwa tidak ada yang naik ojek. Semua jalan…waah…oke tuh. Kami semua berjalan melewati jajaran tukang ojek yang sudah buru2 pake helm, naik motor dan menggebernya sambil menunggu giliran keluar (ojek berbaris rapi didepan halte yang kanan kirinya di beri rantai pembatas agar tidak liar –dikira macan, liar-. Untuk mengambil penumpang, menunggu rantai dibuka dan ojek satu persatu keluar). Namun malang, setelah melihat tidak satupun rombongan yang ingin menggunakan jasa mereka dan lebih memilih naik sandal (jalan maksudnya..^^) merekapun hanya bisa senyum pasrah sambil mematikan mesin motornya. “Yah, mlaku kabeh…” (yah, jalan semua…) Kamipun hanya tertawa melihat aksi2 mereka. Ya, saat ini kami bisa tertawa…namun tidak tau bahwa medan yang akan kami lewati sesungguhnya sudah cukup membuat kami setengah menangis dan hujan peluh…

Kami mulai meniti anak2 tangga menuju makam sunan Muria. Satu anak tangga, dua, tiga, sepuluh, duapuluh, belum terasa lelah. Namun ternyata, masya Allah…kami sesungguhnya belum tau bahwa ratusan anak tangga selanjutnya sudah menanti kita diatas. Kaki rasanya sudah cuapeek banget. Udah ngga mau diajak jalan. Peluh sudah mengalir deras. Dan saat kami beristirahat sebentar, saat itu juga disamping ada seorang penjual VCD. (dikanan kiri banyak pedagang) Disitu distel kaset perjalanan menuju makam sunan Muria. Dan dari situlah kami baru sadar, bahwa perjalanan dari mulai anak tangga pertama sampai puncak adalah sejauh satu kilometer. Masya Allah, padahal kita belum ada setengahnya. Terdengarlah adzan maghrib, wah harus cepat2 nieh. Tapi kaki udah pegeel banget. Ayolah kaki, semangath!! Tiba di pemberhentian, (agak datar) disitu tersedia toilet dan tempat wudhu pria dan wanita. Akhirnya yang nyampe duluan segera berwudhu. Kita lanjutkan lagi merangkak ke atas dengan sisa2 tenaga…(segitunya..tetep jalan kok. Malu dong klo suruh merangkak ^^) Nah, ceritanya kita udah sampai ni di puncak. Huuh..angin malam segera menerpaku. Sejuuuk sekali, setelah sekian lama mendaki gunung Muria. Dibawah pemandangannya juga sangat indah. Kerlap-kerlip lampu mulai terlihat. Subhanallah, bibir tak berhenti berdecak dan bertasbih. Lalu kami semua menuju masjid. Didepan masjid, kami (saya khususnya) sempat terbengong tak berdaya. Dengan melihat posisi masjid yang berada diatas dan tangga yang harus dilalui bila hendak mencapai masjid tsb cukup mengingatkan kami akan perjuangan saat menuju ke puncak. Waduuh…sungguh membuat syok. Kenapa ngga datar2 aja ya?! Okeh..ngga papa. Dengan sisa2 tenaga kami mulai merangkak (loh, pengulangan adegan, he..he..).

Setelah itu kamipun menunaikan sholat. Usai sholat, tiba2 secara tak disangka2 lampu mati!! Seketika kegelapan malam di puncak gunung Muria mulai menyelimuti. Beberapa detik kami tidak bergerak, mencoba menjernihkan pikiran. Yang bawa haPe mulai inisiatif menghidupkannya (meski ngga ada sinyal) untuk sekedar penerangan. Yang tadinya agak berisik, mendadak diam seribu bahasa. Namun, beberapa saat kemudian lampu kembali terang. Serentak terdengar ‘Alhamdulillaaaahhh…’ dari mulut masing2. Wah, kompak banget deh…Naah, setelah sholat dan lampu terang kami beranjak menuju makam sunan Muria. Kembali, siapkan kantong plastik untuk membawa sandal anda. Disana ternyata sudah banyak orang yang berziyarah. Ternyata durasi ziyarah dibatasi. Tidak boleh lama2, karena memang banyak yang antri. Setelah beberapa saat, ziyarah di makam sunan Muria usai. Kami kembali menuju tangga yang siap untuk dilewati oleh kaki-kaki lelah kami. Dan betapa kagetnya kami setelah sadar bahwa lampu sebenarnya belum menyala. Lampu yang menyala tadi dikarenakan memakai tenaga diesel. Dan yang tidak punya diesel harus rela bergelap-gelap ria. Dan itulah, kami harus kembali meniti tangga yang curam menurun dalam keadaan gelap gulita. Masya Allah, sungguh perjalanan yang tidak bisa dibilang ringan. Kami saling berpegangan (saya dan abi, adek udah jauh didepan…) untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Karena kondisi jalan/tangga yang sudah tidak sempurna, banyak diantara kami yang terpeleset dan tersandung. Hanya beberapa dari kami yang membawa senter kecil. Dan itulah salah satu penerangan yang diandalkan untuk orang2 yang berada dibelakangnya. Semoga, setitik sinar yang dihasilkan dari senter itu dan yang menerangi jalan orang2 untuk sekadar menghindari lubang dapat membawa kebaikan bagi mereka yang ikhlas.

‘Alhamdulillah’ serta merta meluncur dari mulut masing2 (seperti saat lampu terang di puncak) saat kaki meninggalkan anak tangga terakhir. Hhuuh..sungguh perjuangan. Namun bayangan ingin segera masuk bus dan duduk tenang harus dihapus dalam benak ketika saat rombongan menuju bus dimana terakhir terparkir dan melihat bus sudah tidak ada ditempat. Walah, gimana ini. Kepanikan kembali melanda. Ingat, saat itu masih dalam keadaan gelap gulita. Panitiapun segera mengambil tindakan, apa tindakan yang diambil? Mondar-mandir mencari dua bus pariwisata dengan membawa mega phone sambil memanggil2 berharap sang sopir bus mendengar dan segera memberi tanda dimana dia parkir. Terpaksa jama’ah terlantar di pinggir jalan sambil harap2 cemas. (mungkin mengira busnya nyasar kali ya..) Sesaat terdengar sebuah bus membunyikan klakson berkali2. Merasa yakin bahwa bus itu adalah yang dimaksud, serentak kami berbondong2 turun (jalan menuju tempat parkir menurun) mendekati bus yang tadi meng-klakson. Belum sampai disitu, satu panitia yang berada di belakang berteriak “Jama’ah Nuurul Arqam, bisnya disini..bisnya disini…” Kami yang sudah sampai dibawah, hanya bisa bengong dan saling tatap (emang keliatan, orang gelap yee…) dan terpaksa putar balik lagi menuju bus yang dimaksud. Dan ternyata benar, lah yang tadi mainan klakson busnya siapa dong?! Kemudian lewatlah sebuah bus yang tadi kami kira itu bus jama’ah kami. Dengan cermat kami mengamati, dan ternyata memang bukan. Walah…kok ya iseng banget sih yak pake klakson2 segala. Bikin repot aja…

Pfiuuh..akhirnya bisa juga diri ini melepas lelah di dalam bus. Menikmati buaian udara yang berasal dari air conditioning dalam bus. Tapi baru berasa kalau sang kaki udah senut2. Tak apalah…yang penting sekarang bisa sejenak beristirahat.
Bus kembali menuruni gunung dan selanjutnya menuju makam sunan Kudus. Sesampainya di kompleks makam, didepan masjid Kudus menjulang menara yang terbuat dari batu bata merah yang lebih terkenal dengan sebutan menara Kudus. Dari sekian makam sunan yang telah kami ziyarahi, di makam sunan Kuduslah yang paling ramai. Benar2 ramai, dari mulai anak2 hingga orang tua. Saat itu jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Selesai ziyarah di makam sunan Kudus, kami kembali ke bus satu jam setelahnya. Jam menunjukkan pukul 22.30 WIB malam. Istirahat sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang, semua jama’ah sudah terlihat sangat lelah, letih, lemah, lunglai (tapi bukan anemia lho ya..). Dan tidak sulit untuk terlelap. Hhm…meskipun para penumpang sudah terlelap, namun bus tetap merayap melewati jalan2 aspal untuk mengantar kami kembali pulang. Pemandangan malam di jalan-jalanpun sangat sayang untuk dilewatkan. Meskipun tengah malam, masih banyak juga aktifitas yang masih menggeliat di pinggir jalan. Tak terasa, matapun sudah saatnya istirahat. Jam menunjukkan pukul 2.30 WIB dini hari saat bus akan naik (dari Jogja menuju Kab. Gunungkidul). Bus mulai berbelok-belok melewati jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan malam yang tetap elok..(alah..) Sebentar lagi akan sampai rumah nieh…

Saat sampai, jam menunjukkan pukul 3.30 WIB dini hari. Sebelum turun, sekilas sempat melihat lama perjalanan yang ada dalam bus. 21 jam 10 menit. Lama nian…Ya sudahlah, yang penting sekarang sudah sampai dengan selamat tak kurang suatu apa! Akhirnya the long journey telah berakhir. Saatnya istirahat.
Semoga diterima segala amal dan diampuni dosa para alim ulama yang telah mendahului kita. Dan semoga kita lebih dapat mengingat sesuatu yang paling dekat dan yang terus mengintai, mati. Dan lekas2 sadar akan dosa yang telah diperbuat, dan sudah seberapa banyakkah bekal amal yang akan kita bawa kelak dengan harapan akan lebih bertaqwa kepada Allah SWT.
Sekian kisah perjalanan ziyarah kami ke makam para sunan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

7 Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua, Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang shalih.

Pasangan hidup yang shalih akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang shalih pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalihan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang shalih, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang shalih. Demikian pula seorang istri yang shalihah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang shalihah.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang shalih.

Saat Rasulullah SAW sedang thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda tersebut : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang shalih, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu".
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang shalih, dimana doa anak yang shalih kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang shalih.

Keempat, albiatu shalihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih. Orang-orang yang shalih akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang shalih adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shalih.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab shadaqah, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin shalih, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal shalih kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal shalih yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan shalat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal shalih sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal shalih yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal shalih saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi shalat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

dikutip dari : Kebun hikmah

Hhmm....

Pagi, ketika mentari masih malu-malu mengintip dibalik pegunungan dan celah-celah pepohonan...
Kudengar dering handphone tidak lupa dengan getarnya,
Malas...siapa sih pagi-pagi begini ngirim sms?!
Tapi kuraih juga handphone-ku untuk menjawab rasa penasaran yang sempat mampir di pikiranku. Kulihat tulisan dilayar mungil itu, '1 pesan diterima'.
Hmm..siapa nih. Kupencet tombol 'buka', dan disana tertera nomor yang tidak aku kenal. Kugerakkan kembali jariku untuk membaca pesan singkat itu.

"Assalamu'alaikum,
gimana punya kabar cint?
lama ya ngga ktemu 'n telp."
(dari bahasa sms dan panggilan 'cint' aku sudah tahu, pasti itu dari 'soulmate'ku dulu waktu SMA..kangen juga ^_^)

Kulanjutkan baca baris berikutnya.. yang ternyata,
"Hal undangan diberitahukan bahwa tgl 19 April 2009 adalah hari pernikahan **temenku** dengan **calonsuami**
maka dari itu, diharapkan do'a restu dan kehadirannya.
terimakasih."

Tiga detik, waktu yang kubutuhkan untuk tetap pada posisi semula. Menatap layar hp dengan barisan tulisan singkat yang tertera daripadanya.
Sebelum akhirnya sebuah guratan yang lebih cerah menghias wajah.
Subhanallah wal hamdulillah...

Semoga Allah memudahkan jalanmu ukhtyku...
Melimpahkan barakah atasmu,
Serta menguatkanmu untuk menapaki jalan hidupmu yang panjang nan jauh...
Tapi kini, kau tidak sendiri.
Berbahagialah atas apa yang Allah karuniakan padamu.

Insya Allah,
Insya Allah aku akan hadir di walimahanmu.
Walaupun hanya untuk sekedar memberi seuntai do'a,
Dan untuk menunjukkan padamu, bahwa aku turut bahagia...

Kebohongan Ibu Membuatku Bahagia

Saat kecil, kumerasa aku adalah anak yang paling bahagia. Minta ini dituruti, minta itu diberi… Kasih sayang ibu kepadaku juga begitu besar. Tidak sampai ibu memarahiku, apalagi memukulku.
Namun saat usia beranjak lima tahun, saat itu juga aku mulai mengenal bangku sekolah. Bukan sekolah tepatnya, tapi bermain. Mengenal beberapa teman dan dua orang dewasa yang selalu mengajari kami ditempat itu. Baru kutahu kalau dua orang dewasa itu disebut ibu guru. Ibu masih saja setia dengan kasih sayang yang diberikan padaku. Namun, kurasakan kasih sayang itu kian luntur.

Ibu jadi sering memarahiku, atau bahkan tidak segan mencubit bagian tubuhku ketika beliau memerintahkan sesuatu namun tidak kuindahkan karena aku lebih asyik bermain. Aku sering menangis, dan menganggap ibuku jahat. Belum lagi, saat aku terlibat pertengkaran dengan seorang teman. Ibu tidak pernah membelaku, justru beliau memarahiku. Tidak jarang kurasakan kebahagianku yang dulu telah hilang. Kini aku merasa menjadi anak yang tidak dekat dengan kebahagian seiring dengan perilaku ibu yang sering memarahiku dan tidak sesering dulu menuruti permintaanku. Kenapa Tuhan… kini ibuku tidak sayang lagi padaku…
Namun pengaduanku kepada Tuhan itu serta merta terjawab saat kurasakan belaian lembut dikepalaku saat aku tertidur setelah sempat kurasakan kemarahan ibu. Apakah ibu menyesal karena telah marah padaku?? Ah…dalam hati aku berkata damai, ‘ternyata ibu masih sayang padaku!!’ Tapi apakah aku masih merasa menjadi anak yang paling bahagia??
Saat usiaku mulai mengajakku untuk sedikit berfikir, saat itu pula kusadari bahwa ibu telah mulai tidak jujur padaku. Begitu banyak kebohongan yang ibu katakan…

Kondisi ekonomi keluarga terpaksa mengajak kami untuk tidak dapat merasakan kenikmatan berlebih dalam hal materi seperti orang-orang lain. Ketika makan, sering kali ibu memberikan sekedar nasinya untukku. Seraya memindahkan ke dalam piring kecilku, ibu berkata…”Makanlah nak, ibu masih kenyang…” (KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA)

Suatu siang terik, masih dibangku sekolah yang lebih kuanggap tempat bermain. Kulihat ibu telah setia menungguiku dibawah pohon sawo. Saat kuhampiri, kulihat peluh yang meleleh disekitar wajah ibu. Dengan cekatan ibu menggendongku dalam perjalanan pulang. Kulihat, peluh semakin banyak diwajah bahkan sekujur tubuh ibu. Saat aku minta turun untuk jalan sendiri, ibu berkata…”Tidak usah nak, ibu tidak capek…” (KEBOHONGAN IBU YANG KEDUA)

Masih kuingat saat malam mulai merayap, hujan lebat menerpa pohon-pohon, hembusan angin menerpa dedaunan dan hawa dingin mulai menusuk tulang. Kami berdua tidur diatas kasur kusam dan berselimutkan kain tipis. Kurasakan ibu menyelimutiku dengan rapat. Saat kulihat ibu tidak berselimut, ibu berkata…”Lekaslah tidur anakku, ibu tidak kedinginan…” (KEBOHONGAN IBU YANG KETIGA)

Ketika telah menduduki sekolah dasar, aku mengikuti upacara hari kemerdekaan di lapangan sekolah. Kulihat ibu setia menunggu diantara ibu-ibu yang lain. Ketika usai, kuhampiri ibu yang dengan senang hati menyambutku. Diulurkannya kepadaku segelas es teh manis untuk segera kuminum. Aku memang berpeluh, namun ibuku juga tidak kalah berpeluh. Setelah kuteguk beberapa, kuulurkan kembali kepada ibu bermaksud menyuruhnya minum. Namun sambil tersenyum ibu berkata, “Habiskan saja, ibu tidak haus…” (KEBOHONGAN IBU YANG KEEMPAT)

Pagi-pagi, kulihat ibu telah tiba dari pasar. Dalam tas yang dijinjingnya, ibu keluarkan sebungkus ikan basah yang dibeli tadi di pasar. Ibu beli ikan…aku senang bukan main. Begitu juga ibu, kulihat senyumnya mengembang. Segera dimasaknya ikan itu.
Begitu aku tiba dari sekolah, telah terhidang sepiring nasi dengan sayur bayam dan sepotong ikan goreng. Dengan lahap aku menyantapnya karena tidak sering aku merasakan seperti ini. Kuperhatikan ibu makan disampingku hanya dengan sayur bayam dan sedikit sambal. Ketika kuambilkan sepotong ikan dipiring, ibu menolak dan mengembalikannya. Ibu meneruskan makan, dan demi melihatku yang memandangnya beliau berucap, “Teruskan makanmu, ibu tidak suka ikan…” (KEBOHONGAN IBU YANG KELIMA)

Saat ujian tiba, aku benar-benar mempersiapkan semuanya. Aku tidak mau mengecewakan ibu yang telah tulus atas semua yang diberikannya padaku selama ini. Aku belajar dan berdo’a tak henti-hentinya supaya dapat lulus sekolah dasar dan melanjutkan ke tingkat selanjutnya. Tiba mata pelajaran matematika yang besok akan diujikan, aku menambah porsi belajarku mengingat aku tidak terlalu mahir dalam pelajaran ini. Hingga larut malam, ibu masih menemaniku. Setelah lelah, akhirnya aku memutuskan untuk menyudahi belajarku dan beranjak tidur. Namun kulihat ibu pergi ke dapur dan menyiapkan kotak makan serta perlengkapan lainnya untuk kubawa ke sekolah besok. Ketika akan kubantu, ibu menjawab “Cepatlah tidur. Besok kamu akan ujian, biar ibu saja yang menyiapkan semuanya. Ibu tidak ngantuk…” (KEBOHONGAN IBU YANG KEENAM)

Ujian usai, dan akan diadakan program study tour. Semua teman menyambut dengan gembira. Saat kusampaikan hal ini kepada ibu, kulihat ibu sedikit merenung. Aku tahu ibu tidak punya biaya untuk itu. Beberapa malam berikutnya, disaat teman-temanku membicarakan soal study tour aku tidak berani bicara soal itu pada ibu. Aku lebih memilih diam, takut kalau menyakiti hati ibu. Namun ketika acara study tour hampir tiba, ibu bicara padaku. “Kalau mau ikut, ikut saja. Tapi ibu tidak bisa memberi bekal lebih.” Kujawab, “Tidak usah bu, tidak ikut juga tidak apa-apa kalau memang kita tidak ada biaya.” Namun ibu menjawab dengan lembut, “Tenang saja, ibu punya duit…” ya Tuhan, hanya demi melihatku bahagia… (KEBOHONGAN IBU YANG KETUJUH)

Penerimaan rapor usai. Dengan bangga kubuka lembar demi lembar raporku untuk kutunjukkan pada ibu. Tertera sebuah angka disana yang menunjukkan rankingku. Dengan senyum gembira ibu memelukku hangat dan membelai kepalaku yang masih berbalut jilbab seragam. Tidak sulit memang menorehkan angka yang ada diraporku itu. Namun betapa sulitnya untuk menggerakkan tangan seorang guru untuk kemudian membentuk angka lurus dalam rapor. Ya, aku ranking satu bu… inilah hadiah untukmu. Setelah pengorbananmu padaku. Do’amu dan nasehatmu senantiasa mengalir tanpa kuminta. Bagai sebuah mata air yang mengalirkan airnya tanpa mengharap air itu akan kembali pada sumbernya.

Setelah semua kebohonganmu, sempat membuat hatiku trenyuh. Namun, itu jualah yang membuat hatiku kuat dan semangat untuk bertekad. Aku tak tahu sudah berapa ribu kebohongan serupa yang kau lontarkan selama ini. Selama beberapa tahun belakangan ini. Kuyakin sudah sangat banyak. Dan sampai kapan kau akan terus berbohong, aku tak tahu.

Setelah semua yang kualami bersamamu, aku baru sadar. Memang benar…saat ini aku masih menjadi anak yang paling bahagia. Sampai nanti…sampai nanti…
Thank’s Mom and Dad…^_^

-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-.-

dikutip dari Ady Weblog