y
Tampilkan postingan dengan label lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lain-lain. Tampilkan semua postingan

UNTUKMU, SUAMIKU...

Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh,


Suamiku, berapa jam sudah kita melangkah dari gerbang pernikahan yang engkau buka dengan kunci akad. Bahagia dan haru menjadi satu. Sungguh! Saat aku dengar kau ucapkan “Saya terima nikahnya…” itulah yang selama ini aku nanti dan rindui. Saat dimana aku menangis sekaligus tertawa. Suamiku! Ya, kini aku bisa menyebutmu suami. Bahkan ketika nanti aku ditanya “Dengan siapa?” maka aku bangga menjawab,“Dengan suami”.

Imamku yang dirahmati Allah, betapa aku mengerti bahwa pernikahan tidak hanya antara kau dan aku. Namun juga ada keluarga besar. Ada orang-orang baru yang kita belum tahu “bagaimana” mereka. Doa kesekian dari beberapa jam perjalanan bahtera kita, semoga kita dapat menerima dan diterima oleh keluarga baru ini. Semoga Allah memudahkan adaptasi ini.

Suamiku yang dimuliakan Allah, diwaktu yang lalu aku berada pada kegamangan yang dalam. Kesesatan dalam memilih untuk tidak memenuhi fitrahku, mengikuti sunnah rasulku. Takutku, akan tersiksa dengan rasa cemburu, rindu dan cinta. Takut karena yang dirasa menjadi kabur antara fitrah dan hiasan nafsu semata. Tapi, melarikan diri pada Tuhan ternyata begitu menentramkan. Dan aku mengerti, mencoba memahami.

Sayang, dua rakaat usai ijab qabul ini, ijinkanlah diri kita untuk menjalin keakraban dan kasih sayang. Ijinkan aku memperhatikanmu dan mendapat perhatian darimu supaya Allah memperhatikan kita dengan penuh rahmat. Ijinkan aku merengkuh mesra tanganmu, hingga berguguran dosa dari sela jemari kita. Ijinkan aku belajar menguntai cinta dengan mengenalmu lebih dalam. Mencintaimu setelah pernikahan kita, karena hari-hari kita akan panjang.

Rasanya takkan habis kata, semoga hingga labuh bahtera ini pada tujuanNya. Harapku, aku bisa menjadi pelipur duka, sahabat perjuangan, tempat berbagimu.
Suamiku yang kucintai karena Allah, bantulah aku meneladani keagungan Asiyah, kecerdasan iman Ummu Ismail, kemuliaan Ibunda Khadijah yang mampu membangunkan rasa percaya diri dan keyakinan suami, meneladani ketaqwaan Ibunda Aisyah, ketulusan Nailah yang melindungi suami hingga jari tangannya tertebas pedang pasukan pembangkang. Nailah 18 tahun yang tulus mencintai Ustman bin ‘Affan 81 tahun. Bantulah aku istrimu, untuk meneladani kesetiaan Ummu Usamah.

Suamiku yang dirahmati Allah, surat ini akumulasi dari segenap rasa rinduku padamu. Pada penantian panjang kala hati haus mereguk air telaga kasih sayang. Pada rasa yang tak seharusnya ada. Rasa iri pada mereka yang lebih dahulu mendapat barokah (semoga) pernikahannya.

Suamiku yang dirahmati Allah, betapa dulu aku rindu mencium tanganmu, meminum susu dari pinggir gelas yang sama, rindu bersimpuh memohon keikhlasanmu atas keadaanku sehingga Allah ridho kepadaku, rindu menatap teduh wajahmu, mengantarmu pada bunga tidur.

Suamiku, betapa dulu aku rindu membangunkanmu di sepertiga malam dengan kecupanku dan menyelesaikan sholat subuh bersama. Rindu menjadi tempatmu bermanja, bercerita atau hanya diam mendengar detak jam. Rindu merapikan anak-anak rambutmu, membiarkanmu terlelap dipangkuanku. Rindu… rindu merasakan benih-benih yang kau semaikan tumbuh, lalu kau rasakan gerakan kecilnya, rindu mengatakan “menantikan kelahiran si kecil”, rindu bahwa tubuh mungil itu hadir atas kuasa Allah SWT, melihatmu mengadzankannya di dadaku, rindu bahwa bibir kecil itu mencecap ASI, rindu bersama mendidik jundi kita… rindu itu semua.

Masih banyak kerinduan yang tak ingin aku ceritakan, sisanya biarlah tertoreh pada perjalanan kita mulai hari ini. Ingin kukatakan rindu pada setiap gerak baktiku padamu. Gerak yang penuh harapan “semoga mendapat barokah”.
Akhirnya suamiku, kusampaikan selamat datang nahkodaku. Bahtera ini engkaulah yang menjalankannya, bawalah kami (aku dan anak-anak kita) pada tepian hakiki, dan aku akan berusaha menjadi kelasi terbaik untukmu.

Semoga setiap putaran kemudinya adalah kebaikan. Setiap lajunya adalah keberkahan. Setiap angin yang berhembus adalah keridhoan. Semoga bahtera ini berlayar dengan ketaqwaan, kasih sayang, kesetiaan. Semoga tak ada enggan untuk mengkomunikasikan semuanya secara dialogis, sehingga ada keterbukaan dan kejujuran. Semoga ikatan kita dunia akhirat.
Suamiku, mari bersabar dan bersyukur …

Wassalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh.

Yang selalu ingin jatuh cinta padamu setiap waktu,
Istrimu


catatan seorang sahabat

Wanita Pemercik Api

“Janganlah menjadi wanita pemercik api”, kata seorang sahabat via YM beberapa waktu yang lalu setelah sebelumnya saya sempat menceritakan suatu peristiwa yang tidak mengenakkan. Suatu peristiwa yang saya yakin semua wanita tidak menginginkan itu terjadi pada dirinya.

“Ibarat mesin yang membutuhkan bensin dan pemercik api untuk bisa jalan. Perzinahan sebagai mesinnya, syahwat sebagai bensinnya dan wanita lah yang berperan sebagai pemercik api,” lanjutnya. Yah, mungkin betul juga yang dikatakan beliau. Mesin tidak akan jalan bila tak ada bensin dan pemercik api. Dengan kata lain, perzinahan tidak akan terjadi bila memang tidak ada percikan-percikan yang dapat menyulut syahwat hingga berkobar-kobar.

Mungkin hanya berawal dari seringnya bertegur sapa, bercakap-cakap berhadapan, hingga meningkatnya intensitas pertemuan yang terlalu akrab antara seorang wanita dengan lelaki ajnabi (dalam hal ini tidak ada kepentingan yg begitu urgent) secara tidak sadar telah membuka jalan kepada hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi lengkap sudah dengan ‘percikan-percikan’ yang ditimbulkan oleh si wanita yang tak pelak dapat menyulut gelora syahwat dari sang lelaki.

Begitulah kiranya yang terjadi di sekitar tempat tinggal penulis beberapa waktu lalu. Sungguh ‘memalukan’ dan sangat bertentangan dengan segala norma, lebih-lebih norma agama. Dalam hal ini, pergaulan ternyata tetap memegang peranan penting. Pergaulan dapat mendidik kita menjadi orang baik, atau sebaliknya..terjerumus dan terperosok dalam lembah kenistaan. Pergaulan yang terlalu bebas dan vulgar, tanpa kontrol dan filter tentu dapat menjadikan dunia ‘kiamat’ khususnya bagi para wanita. Dan apabila itu terjadi, pastilah hanya penyesalan mendalam yang membekas. Na’udzubillah.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya wanita itu adalah aurat, maka apabila keluar (dari rumah), syaithan akan menghiasinya.” (Dikeluarkan oleh Al Bazzar dan At Tirmidzi)
Syaithan akan menghiasinya dan menjadikan dia indah dalam pandangan mata para lelaki. Apalagi dengan keluarnya wanita tersebut disertai dengan semerbak harumnya minyak wangi kembang tujuh rupa dan penampilan yang memanjakan mata lawan jenis sehingga bukan tidak mungkin dapat menimbulkan desiran syahwat yang bukan pada tempatnya. Pada situasi seperti inilah tepatnya wanita disebut sebagai ‘pemercik api’. Yang dengan sengaja atau tanpa sengaja menghiasi dirinya dengan hal-hal yang membuat indah dan mempesona sehingga dapat menarik perhatian dari lawan jenis.

‘Semua perasaan condong padanya, perbuatan harampun terjadi karenanya. Mengundang terjadinya pembunuhan, permusuhanpun disebabkan karenanya. Sekurang-kurangnya ia sebagai insan yang disukai di dunia. Kerusakan mana yang lebih besar daripada ini?’ Begitulah Al Imam Al Mubarokfuri –rahimahullah- menjelaskan tentang bentuk bahaya fitnah wanita dalam Al Tuhfah Al Ahwadzi 8/53.

Allah berfirman: ”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu wanita-wanita…” (Q.S. Ali Imran: 14).
Rasulullah memberikan peringatan dari fitnahnya sebagaimana yang diriwayatkan dalam Sahih Muslim dari sahabat Abu Said Al Khudri, beliau bersabda: “Hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena sesungguhnya fitnah yang pertama kali menimpa Bani Israil adalah wanita”.

Para wanita sebagai penyebab timbulnya fitnah bagi laki-laki seperti pernyataan Rasulullah diatas. Oleh karena itu hendaklah para wanita bertaqwa kepada Allah dengan menjaga dirinya dan menjaga kaum lelaki dari fitnah yang ditimbulkan karenanya.

Diantara yang dapat menimbulkan fitnah dari laki-laki terhadap wanita adalah bersolek berlebihan dan memakai wangi-wangian. Rasulullah bersabda: “Wanita mana saja yang memakai wangi-wangian kemudian lewat di suatu kaum supaya mereka mendapatkan bau harumnya, maka ia telah berzina.” (HR Ahmad dari Sahabat Abu Musa Al Asy’ari). Bahkan dalam riwayat Muslim dari Sahabat Abu Hurairah Rasulullah bersabda: “Wanita mana saja yang memakai bukhur (sejenis wangi-wangian) tidak diperkenankan untuk sholat Isya di malam hari bersama kami.”

Tidak diragukan lagi bahwa sholat berjamaah memiliki keutamaan 27 derajat atas sholat sendirian. Walau demikian Rasulullah melarang para wanita untuk sholat Isya jika memakai wangi-wangian, menjaga supaya tidak terjadi fitnah.

Segala sesuatu yang menyebabkan terjadinya fitnah hendaknya segera dihindari. Salah satu jalan lain yang dapat membuka peluang syaithan adalah menyendiri/berdua-duaan dengan lawan jenis (berkhalwat). Para wanita dilarang untuk berdua-duaan dengan lelaki yang bukan mahramnya, demikian pula sebaliknya. Rasulullah bersabda : “Tidak boleh seorang laki-laki berkhalwat (menyendiri, berduaan) dengan seorang wanita kecuali dengan mahramnya.” (HR Muttafaq alaihi dari Sahabat Ibnu Abbas).
Dalam sabda yang lain : “Tidaklah seorang laki-laki berkholwat dengan seorang perempuan, melainkan ada pihak ketiga yang menyertai mereka, yaitu syaitan” (H.R. At Tirmidziy dan dishahihkan oleh Syaikh al Albani).

Maka wajib atas kaum wanita menjaga kehormatannya, dan janganlah membalas nikmat Allah dengan kekufuran. Kita sebagai umat Muhammad yang hidup pada jaman modern dan globalisasi seperti sekarang ini, seolah-olah sangat sulit untuk tidak ikut terjerumus dalam pola kehidupan yang cenderung menjauh dari norma-norma agama dan ketetapan Allah. Terlihat dari segala tingkah polah orang-orang menggandrungi sesuatu yang dianggap trend masa kini. Dan tidak jarang yang disebut trend itu adalah melenceng jauh dari syari’at islam. Sebagai contoh para wanita telah rela melepas identitas dirinya sebagai seorang muslimah dengan menanggalkan jilbab dan beralih ke model pakaian yang setengah jadi. Mini, ketat, dan tipis. Yang sama sekali bukan pakaian layak pakai teruntuk seorang wanita muslimah yang menjaga iffah (kehormatan, harga diri).

Maka dari itu, tidak sepantasnya wanita melepas tabir iffah-nya kemudian memperlihatkan pesona dan aurat hanya untuk dapat menarik perhatian para lelaki ajnabi, yang akhirnya dapat menyeret mereka ke dalam hal-hal yang dimurkai Allah. Jagalah dirimu, janganlah menjadi ‘wanita pemercik api’ apabila memang tidak mau terbakar dalam lembah kekufuran dan terperosok jauh dari rahmat serta hidayah Allah.

Antara Piala dan Seekor Kambing

Bismillah…

Sahabat, kemarin tanggal 4-5 Juli TPA kami mengikuti Festival Anak Shalih yang diadakan di Ponpes Al-Hikmah. Tanggal 4 yang melelahkan. Saya yang notabene satu-satunya pembimbing yang mendampingi mereka lomba, harus wara-wiri kesana kemari untuk mengurus semuanya. Ditemani dengan seorang teman yang umurnya empat tahun lebih muda kami menyelesaikan semuanya. Dari mulai daftar ulang, memasang kartu tanda peserta, mencari lokasi lomba, hingga menunggui mereka sampai selesai lomba. Padahal, 2 hari sebelumnya saya terserang demam. Tapi alhamdulillah, sudah diberi kesembuhan sehingga bisa mendampingi adik-adik tercinta.
Pas acara lomba sudah dimulai, saya dan teman saya itu sedikit bisa beristirahat. Kami memilih menyaksikan lomba nasyid yang digelar di panggung utama. Karna keasyikan, kami sampai lupa tidak mengecek para santri yang lomba di ruangan masing-masing. Ketika kami beranjak, eh..mereka sudah berhamburan di sekitar areal perlombaan untuk menghabiskan berlembar-lembar uang yang ada ditangannya. Maklum, banyak pedagang disitu. Ada es krim, bakso, makanan kecil, sampai pedagang mainan berderet disekitar. Saya sempat bermaksud membeli sebuah es krim, namun saat melihat dompet dan disana hanya ada selembar uang seratus ribuan (uang anggaran) dan beberapa uang receh, maka kuurungkan saja niat itu. “Kenapa ngga bawa uang kecil ya tadi?” pikirku. Ya sudahlah, gagal membeli es krim.

Mataharipun sudah semakin tinggi. Semua aktivitas di ponpes al-hikmah yang mendadak menjadi lautan manusia itupun perlahan mulai sepi. Kami juga telah menyelesaikan semua lomba yang diikuti. Akhirnya, kamipun pulang. Berharap besok ada keajaiban sehingga dapat meraih juara.

Minggu, tanggal 5 Juli. Ponpes al-hikmah kembali menyemut. Kami semua disuguhi berbagai pertunjukan diatas panggung. Dongeng, drama, nasyid dan lain-lain. Acara yang ditunggu-tunggupun dimulai. Pengumuman pemenang lomba. Yah, kami tidak seberuntung mereka yang banyak menyabet juara. Hanya lomba menggambarlah yang dapat kami raih. Juara pertama. Alhamdulillah, daripada tidak meraih juara sama sekali. Ya nggak? Berbagai doorprize-pun dibagi. Semua hampir dapat, yaa kecuali kami para pembimbing tentunya. Masa iya saya mau membawa doorprize yang kebanyakan boneka, atau apalah yang pada umumnya digunakan oleh anak-anak.
Kembali, matahari sudah mulai tinggi. Ada beberapa jama’ah yang mulai meninggalkan lokasi. Tapi kami tetap setia, sebelum acara ditutup maka belum akan beranjak. Jama’ah kami juga mendapat sebuah jam dinding. Tapi jam itu sekarang masih dirumah saya, belum dipasang di masjid. Belum sempet beli baterai, he..he…

Dan ternyata, ada doorprize utama. Apa itu? Televisi? Bukan, motor mungkin? Bukan juga. Apa dong, yaa…doorprizenya adalah seekor kambing. Haa? Kambing? Iya…seekor kambing betina, yang didandanin sedemikian rupa, dipakein baju pink…dikasih pita sana-sini… wuh, jadi aneh. Kami semua hanya bisa tertawa ketika melihat wujudnya saat itu. Belum sadar, bahwa kelak kambing itu akan menjadi bagian dari cerita-cerita dalam perjalanan TPA kami.

Saya pikir untuk mendapatkan seekor kambing itu akan diundi. Eh, ternyata diberi pertanyaan saja. Karena jama’ah yang tersisa tidak sebanyak tadi, maka dengan mudah jama’ah semua menjawab dengan mengacungkan jari.

Pertanyaan pertama dari sang master of ceremony adalah surat apakah dan ayat keberapakah wahyu terakhir yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW? Ada yang bisa jawab, ada yang tidak. Namun, ketika ada yang maju pertanyaan dianggap gugur karena ada beberapa jama’ah yang nyeletuk menyebutkan jawaban. Jadi, tidak sah. Pertanyaanpun diulang…
Untuk pertanyaan kedua, ketiga, dan seterusnya…(saya lupa) hampir semua tidak bisa menjawab. Kemudian pertanyaan diganti, suasana hening seketika.
“Apa salah satu rukun haji yang sebagai symbol Siti Hajar berlari-lari mencari air untuk anaknya Ismail di antara dua bukit?”
Bisik-bisikpun terjadi, saya memberi isyarat kepada seorang santri untuk maju. Dia maju, lalu menjawab, “Sa’i!!” dia mendapat jawaban itu dari saya ketika membisikinya. Namun, beberapa jama’ah lain kembali nyeletuk dan akhirnya pertanyaan dianggap gugur dan harus diulang dengan pertanyaan berbeda. Huh... kami sempat sudah merasa senang akan membawa seekor kambing pulang. Pertanyaan yang lain dilontarkan oleh master of ceremony…
“Apakah nama masjid di palestina yang selalu dirong-rong oleh…” pertanyaan belum selesai, namun saya telah membisiki sebuah jawaban ke telinga salah seorang santri. Dan benar, diapun segera berdiri, mengacungkan tangan dan lantang menjawab, “Masjidil Aqsa!!”
Semua hening, sang MC bertanya kepada temannya, “Bagaimana Mas?” dan si Mas yang ditanya menjawab enteng, “Ya kalau memang benar, kambing untuk Anda!” (wah, bahasanya serasa nggak enak ya…)
Sorak soraipun menggemuruh. Saya yang tadinya ikut seneng mendadak jadi ilfeel ketika ngebayangin harus nuntun tuh kambing sepanjang jalan. Seekor kambing yang dibedakin, didandanin, dipakein baju pink bertuliskan FAS XI (Festival Anak Shalih ke XI) :D

Dan benar saja, sepanjang jalan kami (bukan saya lho…) menuntun kambing itu. Dan parahnya setiap dia (kambing) melihat rumput segar, berhenti untuk mencicipi. Daripada terus ditarik talinya nanti malah mati, akhirnya kami mengalah untuk ikut menungguinya selesai makan. Dan para santri kamipun menjadi heboh sendiri gitu…
Jangan dibayangkan jalanan sepi ya… Mulai dari dalam kompleks, gerbang keluar kompleks Pondok hingga sepanjang jalan pulang masih penuh orang. Dan serasa semua mata tertuju pada kami. Wih, jadi gimanaaa…gitu. Tapi, biarinlah. Tidak dapat juara dan memboyong piala penghargaan, tapi kami malah mendapat rezeki yang lain. Lebih mahal malah daripada sebuah piala kalau dijual…he.he.. ya to?

Nah, sekarang sang kambing berada di tempat saya. Dan tadi pagi, kerjaan saya bertambah. Pergi ke kebun belakang rumah mencari sekedar untuk sarapan si kambing. Walah, yang orang aja belum sarapan…dianya malah sudah minta sarapan. Biarinlah, semoga dapat bermanfaat bagi kami dan bagi semuanya ya…
Kambing, selamat datang dalam cerita perjalanan TPA AT-TAQWA…. ^__^

"FAS" lagi ?!?

Bismillah…

Kemarin, waktu sholat maghrib berjamaah di masjid sekilas saya melihat selebaran berwarna orange di mading. Tapi tidak begitu saya perhatikan, mengingat iqamat sudah hampir tiba. Segera saya menunaikan shalat tahiyyatul masjid, dan tidak lama kemudian iqamat berkumandang. Setelah shalat, saya hampiri selebaran itu. Saya perhatikan, dan ternyata itu adalah selebaran “Festival Anak Sholeh” yang diselenggarakan Ponpes sebelah, Al-Hikmah. Wah, mendadak saya menjadi bersemangat sekali. Saya sangat antusias membaca baris demi baris pengumuman itu. Disana terpampang berbagai macam jenis lomba, dari mulai lomba nasyid, MTQ, MHQ, adzan sampai kreasi barang bekas dan fashion show santri putra. Ehm, kayaknya butuh persiapan ekstra nih untuk mengikuti lomba-lomba itu. Pasalnya, tahun kemarin (Festival Anak Sholeh X) semua cabang lomba kami mengikuti. Tapi apa mau dikata, harapan meraih tropi penghargaan terpaksa harus ditunda karena dari sekian cabang lomba tidak satupun kami meraih juara. Maklum, saingannya wah..wah…seluruh santri TPA se-Kabupaten gitu loh.
Tapi kami ngga putus asa, buktinya sekarang insya Allah masih bisa mengikuti. Dan insya Allah menang juga…(amin).

Ngomong-ngomong soal Festival Anak Sholeh (FAS), saya jadi inget waktu dulu. Dulu saya sempat mengikuti FAS II (sekarang FAS XI) waktu umur 10 tahun dan masih duduk di SD Muhammadiyah Sumberejo yang letak sekolahnya berdekatan dengan Ponpes Al-Hikmah. Jadi ya pede-pede aja ikut lomba. Toh, sama orang-orangnya juga udah sering ketemu. Waktu itu saya mengikuti lomba MTQ (kalau ngga salah) dan alhamdulillah, saya meraih juara pertama (weeiiss..). Tapi dulu keadaan pondok pesantrennya belum seperti sekarang. Baik dilihat dari segi lingkungan, rekonstruksi bangunan, hingga program-programnya pun sepertinya masih minimabis..eh, minimalis. Kalau sekarang ya pasti udah beda banget, semakin megah dan semoga tambah sukses buat Ponpes Al-Hikmah. (kenapa jadi promosi sih…)

Ngomong-ngomong soal promosi, setelah membaca selebaran itu saya segera promosi dengan para santri dan teman-teman. Dan ternyata antusiasme merekapun patut diacungi jempol. Saya ingat ada seorang santri putra yang tanya gini, “Mbak, ada lomba nasyid juga to?”
Saya jawab, “Iya, kenapa? Mau ikut lagi…?” mendengar pertanyaan saya itu mereka yang dulu sempat tergabung dalam grup nasyid ‘dadakan’ jadi heboh sendiri.
“Walah Mbak, emoh ah. Isin aku…” ha..ha..ha…
Mereka udah malu abiss ternyata. Kenapa, karena tadinya kita yakin tidak mengikuti lomba nasyid. Alasannya tidak ada alat dan tidak tahu lagu wajibnya. Nah, pas saya technical meeting ke pondok ternyata disana disediakan kaset cd yang berisi lagu wajib untuk nasyid (lagu Tadarus dari Ikhsan Idol). Spontan saya dan teman saya pandang-pandangan. Batin kami berdialog,
“Eh, ada kasetnya tuh. Mau ikut nasyid ngga?”
“Iya nih, tapi kalau ikut apa ngga mepet?”
Masih dalam pandangan, kami berfikir sejenak hingga akhirnya positif membeli kaset dan positif pula mau ikut lomba. Pokoknya modal nekat deh…(padahal tinggal beberapa hari)
Setiba di masjid, kami benar-benar mengkoordinasi para santri yang minat untuk ikut lomba nasyid. Meski sebenarnya ngga ada, tapi ada juga tuh sekitar tujuh orang yang terjaring. Alatnya? Jangan khawatir, kami pun berinisiatif meminjam rebana kepada ibu-ibu PKK. Ehm, ternyata boleh. Mulailah kita latihan ala kadarnya.

Singkat cerita, hari H pun tiba. Kami rombongan TPA At-Taqwa pun menuju lokasi perhelatan akbar Festival Anak Sholeh. Karena jaraknya tidak jauh, kami hanya berjalan saja. Tidak peduli waktu di jalan kita melihat mereka-mereka yang naik mobil, truk atau sepeda. Pokoknya, langkah kami mantab!
Sebelum acara lomba di mulai, kami semua mengikuti pembukaan di kompleks pondok pesantren yang di set sedemikian rupa sehingga. Sehingga apa…sehingga baguslah. Rapi, indah, menarik dan yang pasti sangat ramai.

Setelah pembukaan selesai, suasana menjadi sangat riuh. Apalagi acara mencari lokasi lomba (kelas-kelas) sangat melelahkan. Setelah mengantar para santri ke lokasi lomba mereka masing-masing, saya dan teman saya kembali ke areal panggung. Terlihatlah wajah para santri yang tergabung dalam grup nasyid ‘dadakan’ itu sedikit panik dan gugup. Kenapa, karena ternyata lokasi lomba nasyid berubah dari rencana semula yang katanya didalam ruangan. Tapi akhirnya dirubah menjadi di atas panggung dengan beratus-ratus pasang mata yang akan menyaksikan aksi mereka. Ya sudah, akhirnya berbekal kata-kata yang (sok) bijak dan menenangkan, akhirnya mereka menjadi semangat lagi. Namun, saat melihat peserta lomba lain yang saat naik ke panggung dengan membawa alat lengkap dan anggota yang sudah layaknya pemain band dewasa (padahal umur peserta dibatasi) nyali para santri pun tak urung menciut lagi. Berbekal rebana seadanya, adek-adek santri masih tetap yakin ingin naik panggung ketika dipanggil, menyanyikan lagu wajib, lagu pilihan, dan segera turun. Itulah yang mereka inginkan saat itu…

Hhm…akhirnya saat para santri telah turun (loh, kapan naiknya…) kami sedikit lega. Harapan ingin membawa pulang tropi sudah melayang entah kemana. Kalau kata mereka sendiri sih “Rasah dipikir..” alias ngga usah difikirin

Itu tentang lomba nasyid. Tentang lomba yang lain? Tidak jauh beda, kami sepertinya masih harus belajar dan berlatih lebih giat lagi agar maksimal (maklum, semuanya serba dadakan). Yah, agar maksimal. Dengan akan diadakannya Festival Anak Sholeh XI ini, semoga dapat mengobarkan semangat santriwan santriwati untuk pergi ke masjid, lebih giat belajar dan berlatih memperdalam agama dan mengamalkannya.

"Meski tidak meraih juara, namun kami tidak pernah kecewa.
Mungkin kemarin adalah sarana untuk latihan, dan sekaranglah yang sesungguhnya.
Yang harus tetap dipegang…semangatlah yang utama…"

Mohon do’anya ya…

7 Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang sulit, perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua, Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang shalih.

Pasangan hidup yang shalih akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang shalih pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada keshalihan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang shalih, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang shalih. Demikian pula seorang istri yang shalihah, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang shalihah.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang shalih.

Saat Rasulullah SAW sedang thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda tersebut : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang shalih, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu".
Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang shalih, dimana doa anak yang shalih kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang shalih.

Keempat, albiatu shalihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang shalih. Orang-orang yang shalih akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang shalih adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang shalih.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab shadaqah, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin shalih, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal shalih kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal shalih yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan shalat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal shalih sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, “Amal shalih yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal shalih saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata”.

Jadi shalat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

dikutip dari : Kebun hikmah

Hilangnya Pahala Sedekah

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya’ kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(QS. Al-Baqarah : 264)

Imam Ibnu Katsir mengatakan, “Dalam ayat diatas Allah memberikan informasi bahwa pahala sedekah itu dapat hilang disebabkan karena diungkit-ungkit dan tindakan berupa menyakiti orang yang diberi sedekah setelah sedekah diberikan. Jadi, dosa mengungkit-ungkit dan menyakiti hati orang yang menerima sedekah itu menyebabkan hilangnya pahala sedekah.”

Kemudian beliau berkata, “Artinya janganlah kalian membatalkan pahala sedekah kalian dengan menyakiti dan mengungkit-ungkitnya, sebagaimana tidak bernilainya sedekah orang yang riya. Orang yang riya, adalah yang menampakkan sikap di hadapan orang lain bahwa dia ikhlas dalam beramal, padahal maksud sebenarnya adalah agar dipuji oleh orang sehingga banyak orang yang mengagumi. Atau agar disebut sebagai seorang dermawan dan maksud-maksud keduniawian lainnya. Orang yang riya’ tidak memiliki perhatian untuk taat kepada Allah, mencari ridha-Nya dan mengharap pahala-Nya yang berlimpah.
Imam Ibnu Katsir juga menambahkan, “Hujan tersebut meninggalkan batu besar tadi dalam keadaan kering mengkilat tanpa ada satu pun debu diatasnya, bahkan seluruh debunya hilang. Demikianlah amal orang-orang yang riya, pahala amal tersebut hilang dan lenyap di sisi Allah meskipun terlihat memiliki amal dalam pandangan manusia. Namun amal tersebut tidaklah lebih bagaikan debu.”
(Tafsir Ibnu Katsir 1/246)

Dalam tafsirnya, Ibnu As-Sa’di mengatakan, “Karena sifat kasih sayang yang Allah miliki, Allah melarang hamba-hambaNya menghapus pahala sedekah mereka dengan menyakiti dan mengungkit-ungkitnya. Sehingga dalam ayat ini terdapat dalil, bahwa menyakiti dan mengungkit-ungkit suatu pemberian itu akan menyebabkan batalnya pahala suatu sedekah. Ayat diatas juga dapat dijadikan dalil bahwa amal kejelekan dapat menghapus amal kebaikan.
Sebagaimana firman Allah yang artinya,
“Dan janganlah kamu berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara sebagian kamu erhadap sebagian yang lain, supaya tidak menghapus amalanmu sedangkan kamu tidak menyadari.”
(QS. Al-Hujurat : 2)

Sebagaimana kebaikan itu dapat menghilangkan kejelekan, maka amal kejelekan pun dapat menghapus amal kebaikan yang semisal dengannya. Ayat diatas ditambah dengna ayat lain yang artinya,
“Dan janganlah kamu merusakkan amal-amalmu.”
(QS. Muhammad : 33)
Ayat tersebut merupakan dalil yang berisi anjuran untuk menyempurnakan dan menjaga amal dari segala sesuatu yang merusaknya agar amal tersebut tidak hilang sia-sia.

Selanjutnya, amal karena riya’ tidaklah disangsikan adalah amal yang tertolak sejak awal, karena syarat diterimanya amal adalah dimaksudkan untuk mengarap ridha Allah semata. Sedangkan amal orang yang riya’ pada hakikatnya, adalah beramal untuk manusia bukan untuk Allah. Oleh karena itu, segala amalnya akan percuma dan usahanya sia-sia.
Oleh karena itu, Allah menegaskan bahwa mereka tidak mampu memanfaatkan sedikitpun amal yang telah mereka lakukan. Hal ini dikarenakan mereka meletakkan amal tidak pada tempatnya dan menjadikan amal tersebut untuk makhluk yang semisal dengan mereka, yang tidak dapat mengatur bahaya dan manfaat untuk mereka.
Mereka telah berpaling dari beribadahkepada Dzat yang ibadah tersebut mampu mendatangkan manfaat untuk mereka sendiri. Oleh karenanya, Allah palingkan hati mereka dari hidayah. Mengingat hal tersebut, Allah mengakhiri ayat di atas dengan firman-Nya yang artinya,
“Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(Tafsir As-Sa’di, hal. 113-114)

Pembatal Pahala Sedekah
Pertama, mengungkit-ungkit pemberian. Perbuatan ini termasuk dosa besar, karena orang yang mengungkit pemberian Allah tidak memandangnya pada hari kiamat kelak. Tidak Allah sucikan dan untuk mereka siksa yang pedih.
Nabi SAW bersabda, “Ada tiga jenis manusia yang tidak akan Allah ajak bicara pada hari kiamat, tidak Allah sucikan, dan untuk mereka disiapkan siksaan yang pedih. Pertama, adalah orang yang menjulurkan kainnya di bawah mata kaki. Kedua, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, tidak ada satupun pemberian kecuali pasti dia ungkit-ungkit. Ketiga, orang yang melariskan dagangannya dengan sumpah palsu.”
(HR. Muslim)
Hakikat mengungkit-ungkit sedekah, adalah menyebut-nyebut sedekah dihadapan orang yang disedekahi untuk menunjukkan bahwa dia memiliki jasa atas orang tersebut. Kewajiban kita bersama untuk measpadai penyakit ini, karena ini dapat menghapus pahala sedekah dan menyebabkan datangnya murka Allah.

Kedua, menyakiti. Yaitu segala sesuatu yang menyebabkan orang lain dapat tersakiti baik berkaitan dengan agama, kehormatan, badan ataupun harta seseorang. Yang dimaksud tindakan menyakiti yang dapat membatalkan pahala sedekah, adalah kata-kata penuh angkuh dihadapan orang yang diberi sedekah dan kata-kata yang menghinakannya, ataupun kata-kata melecehkan kehormatan dan kedudukannya padahal orang tersebut adalah seorang mukmin. Dan semua mukmin adalah wali Allah.
Dalam hadits qudsi, Allah berfirman yang artinya, “Barangsiapa memusuhi wali-Ku, Aku umumkan perperangan dengannya.”
(HR. Bukhari).
Yang dimaksud memusuhi wali Allah adalah melakukan hal-hal yang menyebabkan dia merasa terganggu atau bahkan lebih parah daripada itu.

Ketiga, riya’. Riya’ adalah memamerkan amal dihadapan orang lain dengan harapan mendapat pujian, dan sejenis dengan itu.

Ketiga hal diatas sama-sama mampu membatalkan pahala sedekah. Dengan kata lain, riya merupakan salah satu pembatal pahala sedekah sebagaimana menyakiti dan mengungkit-ungkit. Akan tetapi riya’ bersifat umum untuk sedekah dan ibadah yang lainnya, seperti shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, berhaji, berumrah, berjihad dan berdakwah. Oleh karena itu riya lebih berbahaya daripada menyakiti dan mengungkit-ungkit.
Dalam ayat diatas terdapat isyarat bahwa orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian, menyakiti orang beriman dan orang riya, maka mereka ini lebih dekat dengan kekafiran dan dapat dikatakan sebagai orang yang kafir terhadap nikmat Allah karena tidak bersyukur dengan nikmat dan menggunakan nikmat untuk melakukan amal-amal yang disukai oleh pemberi nikmat.

Pesan yang terkandung:
Pertama, amal kejelekan mampu membatalkan pahala amal kebaikan sebagaimana amal kebaikan dapat menghapus amal kejelekan.
Kedua, Allah menganjurkan orang-orang yang beriman untuk menjaga dan menyempurnakan amal dari segala hal yang mampu merusaknya.
Ketiga, mengungkit pemberian, menyakiti hati orang yang diberi sedekah dan riya merupakan penyebab terhapusnya pahala sedekah.
Keempat, orang yang melakukan ketiga perkara tersebut diatas (mengungkit, menyakiti, riya) adalah orang yang dekat dengan kekafiran atau kufur dengan nikmat yang Allah berikan.

Marilah kita bermohon pada Allah supaya senantiasa diberi kekuatan hati dan kekuatan iman agar tidak terlena dengan kenikmatan duniawi. Dengan memperbanyak sedekah yang tentunya didasari dengan rasa ikhlas dan mengharap ridha Illahi, semoga dapat menghantarkan kita pada gerbang kemuliaan.
Beribadah tak terpatri duniawi, beramal tak terpatri pujian. Begitulah seharusnya yang terukir dalam hati sanubari kita masing-masing. Semoga Allah menerima amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa yang telah menggunung dan seluas samudera. Amin.

Hendak Kau Kemanakan Pandanganmu??

Mata adalah cermin dari hati. Apabila seseorang mampu menjaga pandangan matanya, maka hati juga akan mampu menahan aliran syahwat dan keinginannya. Kalau ia melemparkan pandangannya dengan bebas, maka hati juga akan dengan bebas mengumbar syahwat dan keinginannya. Berbagai gambaran dari pandangan mata akan terukir dalam hati tersebut, sehingga menyebabkan sang hati tidak mampu memikirkan hal yang lebih berguna baginya di akhirat.
Karena pandangan mata yang bebas adalah penyebab masuknya hawa nafsu ke dalam hati, maka Allah memerintahkan kita agar menjaga pandangan mata untuk menghindari akibatnya.

Allah berfirman yang artinya,
“30. Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat".
31. Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya….”

(QS. An-Nur : 30-31)

Salah satu cara untuk dapat menahan diri untuk tidak mengumbar pandangan adalah bertakwa kepada Allah. Yaitu menyadari bahwa Allah SWT senantiasa mengawasinya, melihatnya kapan dan dimana saja sehingga ia merasa takut kepada dahsyatnya siksa Allah di setiap nafas dan setiap nafas.
“Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah : 194)

Muhammad bin Ali At-Tirmidzi mengatakan, “Sadarlah bahwa kamu senantiasa dalam pengawasan Dzat yang tidak mungkin dirimu menghindari dari pandangan-Nya.”
Ibnul Qayyim r.a mengatakan, “Allah memerintahkan Nabi-Nya agar menyuruh kaum mukminin menjaga pandangan dan memelihara kemaluan mereka, dan memberitahukan bahwa Allah selalu melihat dan memperhatikan perbuatan mereka.
“Allah mengetahui pandangan mata yang berkhianat.”
(QS. Al-Mukmin : 19)

Karena yang menjadi pangkal utama adalah pandangan mata, maka Allah mendahulukan perintah menjaga pandangan mata daripada memelihara kemaluan. Semua petaka itu bermula dari mata, sebagaimana api yang besar juga berasal dari percikan api yang kecil. Dimulaid ari mata, lalu menjadi angan-angan, lalu langkah perbuatan, akhirnya terjadilah dosa dan kesalahan.
Oleh sebab itu, ada ulama yang menyatakan, “Siapa saja yang menjaga empat hal ini, berarti telah memelihara agamanya : pandangan mata, bersitan hati, ucapan dan langkah kaki.”
Seorang penyair pernah mengungkapkan, “Kesabaran menahan pandangan lebih mudah daripada kesabaran menahan akibatnya.”
Penyair lain menyebutkan, “Segala bencana berasal dari pandangan mata, api yang besar berasal dari percikan api semata. Berapa banyak pandangan mata menghujam hati pemiliknya, bagaikan anak panah tanpa busur dan tanpa tali pelecutnya.”
Selama seorang hamba masih memiliki mata yang dia hujamkan sesukanya terhadap wanita cantik jelita, bahaya selalu akan mengintainya. Yang nikmat dalam pandangan mata terkadang berbahaya bagi hati pemliknya, tidak ada gunanya kesenangan yang berakhir dengan penderitaan semata.

Nabi Muhammad SAW bersabda,
“Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita. Hati-hatilah terhadap godaan dunia dan godaan wanita, sesungguhnya bencana pertama yang menimpa Bani Israil adalah dari wanita.” (HR. Muslim)
Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah r.a, bahwa dia berkata, “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah tentang pandangan haram yang tidak disengaja. Maka beliau menyuruhku untuk memalingkan pandanganku.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa Rasulullah bersabda, “Palingkanlah pandanganmu.”
Ahmad bin Hambal r.a berkata, “Berapa banyak pandangan mata yang menorehkan berbagai bencana ke dalam hati pemiliknya.”
Oleh karena itu, setiap celah yang berpotensi menuju fitnah ini harus ditutup, agar jiwa tetap bersih dan tidak menimbulkan bahaya dan kerusakan, membersihkan hati dan menjernihkan jiwa.

Sebagai contoh Rasulullah telah melarang beberapa hal berkaitan dengan bahanyanya mengumbar pandangan mata,

Pertama, beliau melarang kaum wanita yang shalat bersama kaum laki-laki untuk mengangkat kepalanya sebelum kaum laki-laki. Untuk mencegah agar mereka tidak melihat aurat lelaki dari belakang kain sarung mereka.

Kedua, beliau melarang wanita yang keluar menuju masjid untuk memakai minyak wangi atau asap bakaran kayu cendana. Hal ini dikarenakan dapat menyebabkan kaum lelaki tertarik kepada mereka. Selain bau mereka yang wangi, bentuk badan dan lekuk tubuh mereka yang tidak tertutupi juga dapat mengundang syahwat kaum lelaki.

Ketiga, Rasul melarang kaum lelaki duduk-duduk dipinggir jalan, karena itu dapat menyebabkan terjadinya pandangan haram. Ketika para sahabat mengungkapkan bagaimana bila terpaksa, Rasul SAW bersabda,
“Berikanlah hak jalan.”
Mereka bertanya, “Apa haknya?”
Beliau menjawab, “Menjaga pandangan, tidak mengganggu orang yang lewat dan menjawab salam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keempat, Nabi melarang kaum wanita untuk menghentakkan kakinya ketika berjalan, agar tidak mengundang pandangan kaum lelaki, dan melihat perhiasan mereka yang tersembunyi.
Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”
(QS. An-Nur : 31)

Itulah beberapa diantaranya larangan Nabi Muhammad SAW terhadap ummatnya berkaitan dengan bahayanya mengumbar pandangan mata dan sesuatu yang menyebabkan terumbarnya pandangan mata tersebut.
Tidak lain bertujuan agar kita ummat islam tidak menuai dosa dan masalah dikarenakan sesuatu hal yang sepele namun berakibat dapat merusak akhlak dan akidah kita.
Semoga bermanfaat saudaraku, semoga kita semua dapat menjaga pandangan mata yang ianya adalah sumber dari segala malapetaka hati dan kehidupan ini. Amin…

Haruskah Kita Merayakan 'Valentine'??


Kemarin, tepatnya tanggal 12 February 2009 saya ditanya oleh salah satu teman. “Eh, besok kan hari valentine.. mau ngasih cokelat nggak?” atau “Met valentine ya… mana nih cokelatnya?” kalau saya jawab “Nggak ada cokelat,” pasti dibilang “Ih, pelit amat sih. Setahun sekali ini…!!!”
Dalam hati, saya bertanya ; Apa sih makna hari Valentine?? Atau lebih tepatnya, apa sih hari Valentine itu sendiri? Banyak orang yang saya tanya mengenai hari valentine. Saya bertanya pada mereka bukan tanpa alasan. Secara mereka semua gembar-gembor merayakan itu. Saya pikir mereka ya faham betul. Tapi setelah ditanya, jawaban mereka semua klasik. “Kuno banget sih. Masa hari Valentine aja nggak tahu. Hari Valentine itu hari kasih sayang…bla..bla..bla..”
Siapa yang kuno??
Kalau menurut saya, valentine itu adalah hari yang konyol. Udah konyol, diikuti pula. Dan yang lebih miris lagi, yang mengikuti tradisi ‘valentinan’ itu kebanyakan ya umat muslim seperti kita. Seperti yang saya bilang tadi, kebanyakan juga mereka tidak tahu apa itu hari valentine yang jatuh pada setiap tanggal 14 Februari. Bukankah Allah sudah berfirman dalam QS. Al-Israa ayat 36 yang artinya : “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.”
Nah lo, kena ayat nih. Dan saya juga yakin, kalaupun mereka ditanya soal sejarah kenapa bisa dijadikan hari valentine atau yang sering mereka sebut hari kasih sayang, 90% mereka pasti tidak faham.
Sedikit saya kutip sejarah ‘berdirinya’ Valentine’s Day atau hari valentine.


Asal mula hari Valentine tercipta pada jaman kerajaan Romawi. Menurut adat Romawi, 14 Februari adalah hari untuk menghormati Juno. Ia adalah ratu para dewa dewi Romawi. Rakyat Romawi juga menyebutnya sebagai dewi pernikahan. Di hari berikutnya, 15 Februari dimulailah perayaan ‘Feast of Lupercalia.’
Pada masa itu, kehidupan belum seperti sekarang ini, para gadis dilarang berhubungan dengan para pria. Pada malam menjelang festival Lupercalia berlangsung, nama-nama para gadis ditulis di selembar kertas dan kemudian dimasukkan ke dalam gelas kaca. Nantinya para pria harus mengambil satu kertas yang berisikan nama seorang gadis yang akan menjadi teman kencannya di festival itu.
Tak jarang pasangan ini akhirnya saling jatuh cinta satu sama lain, berpacaran selama beberapa tahun sebelum akhirnya menikah. Dibawah pemerintahan Kaisar Claudius II, Romawi terlibat dalam peperangan. Claudius yang dijuluki si kaisar kejam kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat armada perangnya.
Ia yakin bahwa para pria Romawi enggan masuk tentara karena berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Akhirnya ia memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Saint Valentine yang saat itu menjadi pendeta terkenal di Romawi menolak perintah ini.
Ia bersama Saint Marius secara sembunyi-sembunyi menikahkan para pasangan yang sedang jatuh cinta. Namun aksi mereka diketahui sang kaisar yang segera memerintahkan pengawalnya untuk menyeret dan memenggal pendeta baik hati tersebut.
Ia meninggal tepat pada hari keempat belas di bulan Februari pada tahun 270 Masehi. Saat itu rakyat Romawi telah mengenal Februari sebagai festival Lupercalia, tradisi untuk memuja para dewa. Dalam tradisi ini para pria diperbolehkan memilih gadis untuk pasangan sehari.
Dan karena Lupercalia mulai pada pertengahan bulan Februari, para pastor memilih nama Hari Santo Valentinus untuk menggantikan nama perayaan itu. Sejak itu mulailah para pria memilih gadis yang diinginkannya bertepatan pada hari Valentine.

Kisah St. Valentine
Valentine adalah seorang pendeta yang hidup di Roma pada abad ketiga. Ia hidup di kerajaan yang saat itu dipimpin oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam. Ia sangat membenci kaisar tersebut, dan ia bukan satu-satunya. Claudius berambisi memiliki pasukan militer yang besar, ia ingin semua pria di kerajaannya bergabung di dalamya.
Namun sayangnya keinginan ini bertepuk sebelah tangan. Para pria enggan terlibat dalam perang. Karena mereka tak ingin meninggalkan keluarga dan kekasihnya. Hal ini membuat Claudius sangat marah, ia pun segera memerintahkan pejabatnya untuk melakukan sebuah ide gila.
Ia berfikir bahwa jika pria tak menikah, mereka akan dengan sennag hati bergabung dengan militer. Lalu Claudius melarang adanya pernikahan. Para pasangan muda menganggap keputusan ini sangat tidak manusiawi. Karena menganggap ini adalah ide aneh, St. Valentine menolak untuk melaksanakannya.
Ia tetap melaksanakan tugasnya sebagai pendeta, yaitu menikahkan para pasangan yang tengah jatuh cinta meskipun secara rahasia. Aksi ini diketahui kaisar yang segera memberinya peringatan, namun ia tak bergeming dan tetap memberkati pernikahan dalam sebuah kapel kecil yang hanya diterangi cahaya lilin, tanpa bunga, tanpa kidung pernikahan.
Hingga suatu malam, ia tertangkap basah memberkati sebuah pasangan. Pasangan itu berhasil melarikan diri, namun malang ia tertangkap. Ia dijebloskan ke dalam penjara dan divonis mati. Bukannya dihina, ia malah dikunjungi banyak orang yang mendukung aksinya. Mereka melemparkan bunga dan pesan berisi dukungan di jendela penjara.
Salah satu dari orang-orang yang percaya pada cinta itu adalah putri penjaga penjara. Sang ayah mengijinkannya untuk mengunjungi St. Valentine di penjara. Tak jarang mereka berbicara selama berjam-jam. Gadis itu menumbuhkan kembali semangat sang pendeta itu. Ia setuju bahwa St. Valentine telah melakukan hal yang benar.
Di hari saat ia dipenggal,14 Februari, ia menyempatkan diri menuliskan sebuah pesan untuk gadis itu atas semua perhatian, dukungan dan bantuannya selama ia dipenjara. Diakhir pesan itu, ia menuliskan : “Dengan Cinta dari Valentinemu.”
Pesan itulah yang kemudian merubah segalanya. Kini setiap tanggal 14 Februari orang di berbagai belahan dunia merayakannya sebagai hari kasih sayang. Orang-orang yang merayakan hari itu mengingat St. Valentine sebagai pejuang cinta, sementara kaisar Claudius dikenang sebagai seseorang yang berusaha mengenyahkan cinta.

Itulah sepenggal kisah asal mula hari Valentine. Dimana ‘valentine’ itu sendiri diambil dari nama seorang pendeta. Sebagai umat muslim, kita tidak selayaknya ikut-ikutan merayakannya. Apalagi kalau sudah hampir dianggap layaknya hari raya yang harus dipersiapkan setahun sebelum hari itu tiba.
Kekonyolan yang lain, (selain merasa harus merayakan meskipun kalau ditanya apa maknanya tidak tahu menahu…) adalah apa iya kalau hari kasih sayang itu harus identik dengan cokelat dan bunga rose? Kalau ditanya hubungannya, pasti juga nggak tahu. “Udah dari sononya…” Saya jadi sedikit menyimpulkan, hari valentine bukan hanya hari kasih sayang antara sepasang kekasih atau keluarga dan teman. Tapi juga kasih sayang kepada para penjual bunga dadakan di jalan-jalan. Dalam sehari atau tepatnya sebelum dan saat valentine mereka meraup keuntungan yang sangat luar biasa. Sangat berbeda dengan penghasilan mereka kala hari-hari biasa. Tapi kan, memang mereka penjual bunga dadakan…
Kalau memang mengasihi dan menyayangi teman atau keluarga pun tidak hanya pas tanggal 14 Februari saja. Setiap hari, setiap saat kita dianjurkan untuk saling sayang dan mengasihi sesama. Iya kan?? Dan bukan hanya dengan memberi sekotak cokelat mahal dan satu bucket bunga rose plus semprotan wewangian yang menusuk hidung… lantas setelah sehari atau dua hari berlalu kembali seperti biasa. Mulai dari bercanda kelewatan, masih suka marah-marah, saling dengki, saling tonjok (haa?!?)… memang sayangnya cuma untuk sehari saja ya? Seharusnya kita senantiasa mendo’akan, memberi nasihat dan saran yang baik, dan selalu menunjukkan sikap penuh kasih dan tidak melakukan hal-hal yang dapat menimbulkan amarah dan perpecahan.

Ikut merayakan hari Valentine berarti ikut merayakan hari raya orang kafir. Ancaman Rasulullah SAW terhadap praktek meniru tata cara agama orang kafir sangat berat. Rasulullah SAW bersabda, yang artinya,
“Barang Siapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut.”(HR At-Tirmidzi)
Bila dalam merayakan hari raya Valentine ada maksud untuk mengenang pendeta Valentine, maka ini termasuk dalam perbuatan kufur. Adapun jika perayaan tidak dimaksudkan untuk demikian, maka perayaan tersebut tetap merupakan kemungkaran yang besar. Termasuk perbuatan mengkar disini adalah mengucapkan selamat hari raya Valentine.
Ibnul Qayyim berkata,”Memberi selamat atas acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut haram. Semisal memberi selamat atas hari raya dan puasa mereka, dengan mengucapkan,” Selamat hari raya!” dan yang semisalnya. Yang mengucapkan, kalau pun tidak sampai ke kekafiran, paling tidak itu perbuatan haram. Berarti, ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah dan lebih dimurkai daripada memberi selamat atas perbuatan minum khamr atau membunuh….”

Yang lebih konyol lagi, di bulan Februari tanggal 14 mereka berbondong-bondong merayakan hari valentine, hari penuh kasih sayang. Oke, mungkin itu maksudnya baik ya… tapi semua itu mereka rusak lagi di bulan berikutnya tepatnya tanggal 1 April dengan perayaan Aprilmop yang seolah-olah di tanggal itu semua dihalalkan untuk berbohong atau membohongi orang lain sebagai sasaran. Sebelum 1 April, mereka menyiapkan ide-ide jail apa yang dapat membuat sasarannya mati kutu, merah padam dan tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah semua ‘aksi’ dijalankan dan berhasil, mereka yang mempunyai rencana bersorak ‘APRILMOOOP…!!!’ kepada sang korban. Si korban yang saat itu sadar bahwa dirinya telah menjadi sasaran perayaan di awal bulan April itu hanya bisa pasrah sambil menahan gemeletuk giginya karena marah bercampur malu. Penganiayaankah ini?
Sepertinya aneh kan? Dan mungkin memang aneh, setelah berkasih sayang lalu dirusak dengan pembohongan besar-besaran. Kepada orang yang dulu diberi ucapan kasih sayang pula.
Setelah kita tahu dan sedikit faham tentang asal mula dan makna dari hari valentine, masihkah kita merasa harus merayakannya? Dan jangan setelah mengetahui semuanya bisa dijadikan alasan untuk menghindar dari ayat diatas (QS. Al-Israa ayat 36) karena ini semua memang bukan berasal dari agama dan budaya Islam. Biarlah mereka saja yang merayakan dan merusaknya kemudian. Kita sudah punya tuntunan, pedoman hidup. Marilah kita ikuti supaya tidak sesat. Dan selalulah kita bermohon kepada Allah agar senantiasa diberi petunjuk agar selalu melangkah pasti dalam jalan-Nya…Amin.
Semoga fenomena ini dapat menyadarkan kita akan pentingnya saling mengasihi sesama umat manusia terutama sesama umat muslim, tidak hanya pada hari tertentu saja. Wallahua’lam.

Mengapa Do'a tidak di Ijabah?



''Jangan salahkan Allah bila doa tak dikabulkan dan jangan pula menggerutu atau jemu,'' kata Abdul Qadir-Jailani dalam Mafatih al-Ghaib. Yang perlu dipertanyakan adalah mengapa doa kita tak terkabul? Ada dua sebab mengapa doa tertolak. Yaitu, pertama, tidak memperhatikan adab berdoa, baik adab lahir maupun adab batin.

Rasulullah SAW bersabda, ''Doa seorang hamba Allah tetap dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk suatu perbuatan dosa atau memutuskan silaturahim atau tak terburu-buru segera dikabulkan.'' Seorang sahabat bertanya, ''Wahai Rasulullah, apakah maksud terburu-buru?'' Rasulullah menjawab, ''Ia mengatakan, 'aku telah berdoa tapi aku tidak melihat doaku dikabulkan', sehingga ia mengabaikan dan meninggalkan doanya itu.'' (HR Muslim).

Ketika suatu doa tak segera menampakkan tanda-tanda terijabah, maka seharusnya seseorang tetap berbaik sangka kepada Allah SWT. Sebab, Allah SWT akan mengganti bentuk pengkabulan doa dengan sesuatu yang lebih bermanfaat bagi si pemohon atau ditunda pengabulannya hingga hari akhirat dalam bentuk deposito pahala.

Kedua, perilaku buruk. Syaqiq al-Balkhi bercerita: ketika Ibrahim bin Adham berjalan di pasar-pasar Bashrah, orang-orang mengerumuni beliau. Mereka bertanya, mengapa Allah belum juga mengabulkan doa mereka padahal telah bertahun-tahun berdoa, serta bukankah Allah berfirman, ''Berdoalah kalian, maka Aku mengabulkan doa kalian.'' Ibrahim bin Adham menjawab, ''Hatimu telah mati dari sepuluh perkara.

'' Yakni, pertama, engkau mengenali Allah, tetapi tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, engkau membaca kitab Allah, tetapi tidak mau mempraktikkan isinya. Ketiga, engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi mengikuti tuntunannya. Keempat, engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunah beliau. Kelima, engkau mengaku senang surga, tetapi tidak berbuat menuju kepadanya.

Keenam, engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan dosa. Ketujuh, engkau mengakui kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kedelapan, engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aib-aib dirimu sendiri. Kesembilan, engkau makan rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur pada-Nya. Dan kesepuluh, engkau menguburkan orang-orang, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Bacalah...


Fa-biayyi alaa'i Rabbi kuma tukadzdzi ban
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


Itulah sepenggal ayat yang tertera dalam header blog Nashiyah. Mengapa ayat itu dipilih, karena sesungguhnya ada makna yang luar biasa terkandung didalamnya. ‘Kemunculannya’ pun berbeda dengan kemunculan ayat pada surah-surah lainnya dalam Al-Qur’an.

Dalam Q.S Ar-Rahman, ayat ini berulang hingga 31 kali yang terletak di akhir setiap ayat yang menjelaskan nikmat Allah yang diberikan kepada manusia dari keseluruhan yang berjumlah 78 ayat. Dan itu bukanlah suatu kebetulan atau hanya permainan syair belaka.

Surah Ar-Rahman (Arab: الرّحْمنن) adalah surah ke-55 dalam al-Qur'an. Surah ini tergolong surat makkiyah, terdiri atas 78 ayat. Dinamakan Ar-Rahman yang berarti Yang Maha Pemurah berasal dari kata Ar-Rahman yang terdapat pada ayat pertama surah ini. Ar-Rahman adalah salah satu dari nama-nama Allah. Sebagian besar dari surah ini menerangkan kepemurahan Allah SWT. kepada hamba-hamba-Nya, yaitu dengan memberikan nikmat-nikmat yang tidak terhingga baik di dunia maupun di akhirat nanti.

Dengan berulangnya ayat ini, itu berarti dapat dikatakan bahwa Allah telah menegaskan, ‘Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?’ Telah begitu banyak nikmat Allah yang terlimpahkan pada kita. Walaupun tanpa disadari, kita masih terlalu sering mengeluh atas apa yang kita dapat. Kita masih sering berfikir kalau Allah itu tidak adil dengan kita terpancang pada orang yang mendapat kenikmatan yang banyak melebihi kita. Begitulah, kita manusia sering menilai suatu kenikmatan hanya bersumber dari harta benda yang kita punya. Kita akan merasa bangga dan bahagia apabila berlimpah harta. Sedangkan kita tidak tahu bahwa setiap harta yang kita punya didunia akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat walau hanya sebutir nasi yang kita buang sekalipun.

Kalau mau main itung-itungan, niscaya kita akan malu sendiri bila masih banyak menuntut ini itu pada Allah Sang Pemberi Rizki. Tanpa kita sadari, (memang manusia tidak pernah sadar) kenikmatan yang telah diberikan Allah adalah sangat luar biasa. Kita diperkenankan hidup didunia ini dengan dapat menghirup udara dengan gratis. Membuka mata lebar-lebar dan menyaksikan segala yang ada didepan mata dengan berbagai ragam bentuk dan suasana. Kita diberi kenikmatan sehat, dapat melangkahkan kaki, dapat menghasilkan suatu karya dengan tangan kita, dapat berbicara, mengunyah dan merasakan lezatnya makanan yang masuk dalam mulut kita.

Dipagi hari kita dapat menghirup udara segar, mendengar kicauan burung dan desauan angin yang menyapa dedaunan. Kita juga melihat indahnya matahari terbit dengan merasakan kehangatan sinarnya. Kita merasakan tentram dan damai bersama keluarga dan handai taulan didekat kita. Kita juga dapat merasakan sujud memasrahkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Kita bisa merasakan keagungan-Nya. Itu semua terlepas dari harta benda yang selama ini selalu menjadi tolok ukur kebahagiaan dan kenikmatan dunia.

Tak terbayang jika itu semua tidak kita rasakan didunia. Mungkin dunia ini serasa hampa. Apa gunanya pula jika kita diberi harta benda yang berlimpah ruah, tapi kenikmatan-kenikmatan itu terenggut? Bisa dibayangkan, bagaimana jadinya jika untuk bernafas saja kita harus bayar? (layaknya orang sakit yang bernafas dari tabung oksigen). Apa jadinya jika kita tidak bisa berbicara, tidak bisa merasakan lezatnya makanan yang masuk ke mulut kita? (layaknya orang sakit yang mendapat asupan makanan dari selang infuse). Apa jadinya bila untuk berjalan pun kita harus berada diatas kursi roda. Apa jadinya bila kita tidak dapat menghasilkan suatu karya dari sepasang tangan kita. Kita tidak dapat menatap dunia karena mata kita telah buta, tidak dapat mendengar karena telinga telah tuli. Kita kesepian, tidak ada sanak famili yang kita kasihi hadir ditengah-tengah kita menghangatkan suasana.

Apa jadinya bila itu semua kita alami walau kita berlimpah harta?!? Apabila dituntut untuk memilih, masihkah manusia mendewakan harta sebagai kadar kenikmatan dunia? Saya rasa orang yang seperti itu adalah orang yang sudah tidak punya hati, tidak punya hati, dan tidak punya hati. Tapi itu semua kembali pada diri kita masing-masing.

Itulah, sinyal Allah yang telah disampaikan kepada kita dalam 31 ayat dalam surah Ar-Rahman. Jangan sekali-kali kufur nikmat. Syukurilah nikmat yang telah diberikan dengan penuh kezuhudan dan penuh ketawadhu’an. Niscaya, Allah akan menambah nikmat-Nya apabila kita senantiasa mensyukurinya…

Maka, nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Diperbudak Kesenangan!


Kalau direnungkan baik-baik ucapan Pak Karto, seorang kakek berumur 90 tahun adalah benar. Dia mengatakan, “Apa sih enaknya menonton sepak bola? Yang main bodoh, yang menonton apalagi.”

Cucunya, seorang pecandu sepak bola, bertanya kurang senang, “Maksud Kakek?”

“Bagaimana tidak bodoh? Bola satu diperebutkan oleh dua puluh dua orang dewasa di lapangan, malah kadang-kadang berbaku hantam sampai babak belur. Orang yang pintar tak akan berbuat demikian. Daripada rebut-rebutan, bukankah lebih baik tiap orang membawa bola satu-satu, dan dimasukkan sendiri ke dalam gawang masing-masing? Sudah begitu, ditonton pula. Apakah tidak berarti pemain dan penontonnya sama-sama sinting?”

Barangkali kita menganggap logika pak Karto terbalik. Atau boleh jadi, logika kita yang justru terbalik?”

Nabi saw memang pernah mengatakan bahwa seseorang yang mencintai sesuatu sering diperbudak oleh yang dicintainya itu.
Seorang anak yang modern bertanya kepada bapaknya yang haji, “Apa sih gunanya membungkus kepala dengan surban?
Bapaknya balik bertanya, “Apa, sih, gunanya memasang dasi di leher? Untuk mengusap keringat tidak pantas, untuk sapu tangan juga susah.”

Di restoran besar, seporsi makanan harganya setinggi langit. Padahal, untuk ukuran perut yang sama, bahkan rasanya terkadang lebih sedap, di warung kaki lima orang cuma harus membayar kurang dari seperduapuluhnya. Makan nasi ataukah makan gengsi? Sementara itu sisa sisa makanan yang dibuang di restoran-restoran besar, kalau dikumpulkan, dapat untuk memberi makan rakyat yang kelaparan di Afrika.

Siapakah yang gila?

Di belantara Irian Jaya, masyarakat primitif dibudayakan supaya berpakaian menutup aurat. Di bandar-bandar metropolitan, dianggap lebih modern kalau berani berpakaian minim sekali.
Apakah nantinya akan berbalik? Yang di hutan berpakaian rapat, yang di kota justru mulai meninggalkan pakaian dan bertelanjang?

Seorang pemilik ayam aduan, sebelum mandi pagi, ayamnya sudah dimandikan lebih dulu.

Konon, bekerja adalah untuk mencari makan. Tetapi, acap kali kalau sudah asyik bekerja sampai lupa makan. Jadi, apakah yang dicari sebenarnya?

Sungguh manusia banyak yang telah diperbudak oleh kesenangannya sendiri.

Orang yang pertama kali mencoba merokok, pasti akan mual dan pusing, sebab tembakau rasanya pahit dan nyinyir disamping memabukkan. Tetapi sesudah merokok itu dilakukan berulang-ulang, akhirnya bahkan kalau tidak merokok, mulut terkena masam. Dia tidak sadar bahwa uang yang dibakar untuk biaya merokok dapat dimanfaatkan untuk membeli susu bagi anak-anaknya, dan mempertinggi gizi makanan buat keluarganya.
Bukankah benar bahwa syahwat dapat mengalahkan pikiran sehat?

Nasehat Imam Al Ghazali!


Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama,"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "Mati". Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. "Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah "masa lalu". Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. "Apa yang paling besar di dunia ini?". Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "Nafsu" (Al A'Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.

Pertanyaan keempat adalah, "Apa yang paling berat di dunia ini?".Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Iimam Ghozali, tapi yang paling berat adalah "memegang AMANAH" (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.

Pertanyaan yang kelima adalah, "Apa yang paling ringan di dunia ini?".Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan Sholat". Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan sholat. Lantas pertanyaan ke enam adalah, "Apakah yang paling tajam di dunia ini?". Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang... Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah "lidah manusia". Karena melalui lidah, manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukaiperasaan saudaranya sendiri.

'Ziarah Kubur'


Ziarah kubur merupakan rutinitas lazim di negara kita yang mayoritas beraliran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Terutama pada saat hari Raya Iedul Fitri, aktifitas seperti ini selalu menjdi pemandangan yang acap kita temui. Banyak keluarga berbondong-bondong menuju pemakaman untuk menziarahi sanak famili dan kerabatnya. Namun kejadian itu sepertinya hanya marak pada hari Ied. Akankah memang semestinya demikian?

Sejatinya Islam menganjurkan kita menziarahi kubur karena, ziarah kubur juga merupakan theraphy physikologis ‘gratis’ yang bisa mengingatkan kita pada kematian. Mengingatkan kembali akan aanya alam barzakh, hari pembalasan dan hari kebangkitan. Pun dengan ziarah kubur kita bisa menetralisasi segala kenisbian duniawi yang fana.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Al-Hakim bersabda :

“Ziarahlah kubur, pasti engkau akan mengingat hari akhirat. Dan mandikanlah orang-orang yang meninggal, sebab sesungguhnya mengurus jasad yang sudah tidak ada rohnya merupakan pelajaran yang bisa meresap ke hati. Dan shalatlah jenazah, agar engkau menjadi sedih karenanya, sebab sesungguhnya orang yang sedih itu memperoleh naungan Allah kelak pada hari kiamat dan akan memperoleh semua kebaikan.”

Rasul SAW secara tidak langsung menganjurkan pada kita agar lebih sering berziarah kubur. Karena sebenarnya orang yang kita ziarahi itu mengetahui kedatangan kita, mengetahui apa yang kita ucapkan dan mengetahui apa yang kita lakukan. Dalam Kitabul Qubur, Abu Bakar ibn Abdullah ibn Muhammad ibn Ubaid ibn Abud-Dunya mengutip perkataan Aisyah r.a, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda :

”Tidaklah seseorang menziarahi kubur saudaranya dan duduk disisinya melainkan ia mendengar dan menjawab perkataannya hingga ia bangkit.”

Dan dalam Kitab Ar-Ruh Li Ibnil Qayyim, dijelaskan bahwa lebih utama jika kita melakukan ziarah kubur pada hari Jum’at atau sehari sebelum dan sesudahnya. Karena keutamaan hari Jum’at, pintu pemisah antara alam ruh dengan alam jasad terbuka. Keterangan ini disandarkan pada riwayat Hasan Al-Qashab, bahwa Muhammad ibn Wasi’ mengatakan padanya, “Aku pernah mendengar riwayat bahwa orang-orang yang meninggal dunia dapat mengetahui para peziarahnya pada hari Jum’at dan sehari sebelum serta sesudahnya.”


IKHTIYAT

Dimasa awal penyebaran Islam, ziarah kubur sempat dilarang Nabi SAW. Karena saat itu iman kaum muslim belum kokoh, kebanyakan umat Islam masih terlalu kental terpengaruh budaya Jahiliyah seperti meminta pada kuburan, menyembah, memberikan sesajen dan menganggap kuburan sebagai tujuan untuk menggantungkan segala harapan hingga jurang kemusyrikan makin menganga dan menggerogoti butiran iman di dada kaum muslimin saat itu.

Namun seiring berjalannya waktu, ziarah kubur kemudian diperbolehkan oleh Rasul. Legalisasi itu terangkum dalam sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Ummu Salamah r.a :

“Aku telah melarang kalian ziarah kubur, tetapi kalian sekarang berziarahlah, sebab ziarah kubur itu bagi kalian merupakan pelajaran.”

Legalisasi ini merupakan rasa kepercayaan Nabi terhadap umatnya. Namun dalam praktiknya, resistensi terhadap pengaruh animisme dan dinamisme ternyata masih lemah dalam hati kita. Untuk itu, jika hati belum kokoh dan masih prematur terhadap segala pengharapan dan meminta-minta pada kuburan, lebih baik tidak usah ke kuburan. Karena jikapun dipaksakan, apalah gunanya jika hanya akan menambah dosa dan menodai kepercayaan Nabi tersebut diatas?

Ini sama berlakunya terhadap kaum wanita atau lelaki yang memiliki sifat kewanitaan. Jika maksud ziarah hanya akan menyisakan jerit tangis, meronta-ronta, menyesali dan tidak ikhlas atas kepergian orang yang kita ziarahi, lebih baik tidak berziarah. Karena itu semua hanya akan melahirkan laknat dari Allah SWT. Laknat yang tidak hanya diterima si pelakunya saja, tetapi juga semuaorang yang ada disekitarnya terlebih lagi para penghuni kubur.

Dalam hadits riwayat Imam Tirmidzi yang dishahekan oleh Ibn Hibban melalui Abu Hurairah r.a, Nabi SAW bersabda,

“Sesungguhnya Rasulullah SAW melaknati wanita-wanita melakukan ziarah kubur.”

Lantas timbul pertanyaan, apakah semua wanita dilaknat jika berziarah kubur? Dalam hadits lain yang diriwayatkan Abu Daud dari Sa’id Al-Khudzri dijelaskan lebih rinci bahwa yang dilaknat Rasul itu adalah wanita-wanita yang menjerit-jerit dan yang menjadi pendengarnya. Inilah ikhtiyat atau kehati-hatian Rasulullah SAW. Beliau khawatir jika umatnya tidak bisa menahan air mata dan hanya akan mengganggu ketenteraman para ahli kubur. Maka jika tak bisa menguasai diri, lebih baik membacakan surat Yasin atau awal surat Al-Baqarah di rumah, karena pahalanya tetap akan sampai pada ahli kubur. Insya Allah…