y
Tampilkan postingan dengan label ingatlah mati.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ingatlah mati.... Tampilkan semua postingan

The Long Journey

Kemarin, tepatnya hari Kamis, 23 April 2009 kami (rombongan) berangkat ziyarah ke makam wali di Jateng. Disini, saya hendak sedikit berbagi cerita dan pengalaman saya di suatu belahan bumi Jawa yang lain (ehm…). Hhm...pokoknya suka duka deh. Dan kesan terakhir yang didapat sepulang dari ziyarah itu tidak lain dan tidak bukan adalah..’cuapeek…’ Pfiuuh…tapi ngga papa. Yang penting insya Allah dengan perjalanan itu dapat membuat kami (saya khususnya) lebih mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Ziyarah tersebut dimaksudkan untuk mendo’akan para alim ulama yang telah mendahului kita. Selain itu, jelas…ziyarah dimaksudkan untuk membuat kita mengingat mati dan lekas mencari bekal untuk sebuah perjalanan panjang nan melelahkan. Mengenai ziyarah kubur, lebih jelasnya dapat dibaca disini. Selain itu, ziyarah ke makam para waliyullah disini agar kita sebagai umat muslim mengetahui betapa besar perjuangan dan pengorbanan mereka dalam menyebarkan dien Allah khususnya di Pulau Jawa. Sama halnya seperti saat Nabi Muhammad SAW, yang mengorbankan seluruh tenaga dan jiwa raga untuk menegakkan agama Islam. Dan semoga, dengan luasnya penyebaran agama islam di Indonesia sekarang ini khususnya, yang menjadikan Negara tercinta kita ini menyandang gelar sebagai Negara dengan penduduk islam terbanyak (88%), tidak hanya berupa statistika angka belaka. Namun, pemahaman tentang islam dapat merasuk ke hati sanubari masing2 sehingga kita dapat berperilaku sebagai seorang umat muslim yang dapat menerapkan ajaran2 yang telah tercantum dalam Qur’an dan Hadits serta dapat meneladani Rasul sebagai Nabi junjungan kita.
Ehm, ngga usah panjang lebar pengantarnya…karena panjang tambah lebar sama dengan luas dan lama!! (he.he..nyambung ngga sieh??) Lanjut ah, berikut kisah perjalanan yang memakan waktu sekitar 21 jam lebih 10 menit dari waktu keberangkatan (wah..ngitung ya? Engga..kan di busnya ada catatan durasinya!) Let’s check it out!!

Langsung pas berangkatnya aja ya, soalnya nanti kalau diceritakan dari awal persiapan bangun tidur bakalan lama! He..he..biasa, orangnya lelet Be Ge Te.
Oke, lanjut! Kami (saya, abi dan ade’) sholat shubuh dimasjid berjama’ah sekitar pukul 04.30 WIB. Setelah mendapat sedikit penjelasan akhirnya rombongan yang diangkut dengan menggunakan 2 bus pariwisata itu berangkat meninggalkan masjid pukul 05.45 WIB. Disitulah pertamakali perjalanan kami dimulai. Satu jam kemudian, kami sudah berada di Jogja kota dan segera meluncur ke Jawa Tengah. Namun sebelum ke makam wali (rencananya ziyarah ke makam sunan Kalijaga, sunan Kudus dan sunan Muria), kami singgah sebentar untuk ziyarah di Krapyak.

Setelah itu, perjalanan kembali dilanjutkan dan sekitar pukul 13.30 WIB kami sampai di Demak. Sebelum memasuki kompleks masjid Demak, tata kota yang apik dan asri telah menyambut kami dan para peziyarah yang lain. Sepanjang jalan tertulis Asma’ul Husna yang berjajar rapi sebelum masuk ke kompleks masjid. Yang saya fikir aneh, ketika bus sudah berada di depan kompleks masjid para penumpang ngga boleh turun. Nah lo, gimana tuh!! Gini, jadi bus2 yang mengangkut para peziyarah itu diharuskan parkir terlebih dahulu. Oke..ngga papa. Tapi saat tau kalau tempat parkirnya ngga bisa dibilang deket dengan kompleks masjid, kamipun mulai khawatir. Masa iya disuruh jalan segitu jauh?? Tenaang, ternyata di kompleks parkir sudah tersedia layanan antar. Pilih mana, menuju masjid dengan naik kuda? (eh..naik andong maksudnya!) bisa, atau mau yang lebih cepet..bisa juga. Disana tersedia banyak ojek. Atau, mau berdua atau bertiga sama keluarga? Boleh, naik becak aja. Ongkosnya pun ngga mahal2 amat. Cuma Rp. 2000 per orang. Murah bukan?!? Udah ah, kenapa malah jadi promosi jasa angkutan sih?!? ^^.
Ya udah, lanjut ya…Ceritanya udah sampe di Masjid Agung Demak nie. Sampai disana jama’ah langsung mengambil air wudhu dan segera menunaikan sholat Dzuhur secara berjama’ah. Karena banyak juga yang membawa anak kecil yang masih doyan susu, maka saat hendak sholatpun ada adegan susu tumpah segala. Pas dibelakang shof wanita. Walah…terpaksa pindah posisi nieh. Ya udah, ngga papa. Namanya juga anak2. Dulu kita kan juga begitu ya, malah lebih parah mungkin (^^). Kami menunaikan sholat jama’ taqdim Dzuhur dan Asar mengingat perjalanan yang ditempuh masih cukup jauh.
Setelah sholat, kami (rombongan/jama’ah) segera berziyarah ke makam Raden Fattah/Raden Patah yang menjadi perintis kerajaan Islam di Jawa. Ia disebut-sebut sebagai putra Raja Majapahit Brawijaya V dengan putri asal Campa (kini Kamboja) yang telah masuk Islam. Masa kecilnya dihabiskan di Pesantren Ampel Denta -pesantren yang dikelola Sunan Ampel. Ibu Sunan Ampel (istri Maulana Malik Ibrahim) juga putri penguasa Campa ketika Majapahit melemah dan terjadi pertikaian internal, Raden Patah melepaskan diri dari kekuasaan Majapahit dan membangun Kesultanan Demak. Dalam konflik dengan Majapahit, ia dibantu Sunan Giri. Berdirilah Kesultanan Demak pada 1475 atau beberapa tahun setelah itu.

Disana juga terdapat museum yang berisi barang2 bersejarah atau tepatnya barang peninggalan para sunan dan kerajaan. Diantaranya adalah Soko Majapahit, tiang ini berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid. Benda purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden Fattah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M. Ada juga Situs Kolam Wudlu. Situs ini dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga sekarang situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi. Kemarin sempat lihat, masih ada airnya dengan pagar disetiap sisinya. Dan didalamnya terdapat beberapa ekor ikan (loh…)

Sekian ziyarah di kompleks masjid Demak. Para jama’ah kembali ke parkiran bus, istirahat sebentar, lalu perjalanan dilanjutkan ke makam sunan Kalijaga. Tidak begitu jauh dari lokasi bus, hanya beberapa menit saja. Sesampainya disana saat memasuki gerbang komplek, mata langsung dimanjakan dengan berbagai macam jenis barang dagangan disetiap kanan kiri jalan. Kalau saya sih, cukup melihat saja. Tidak begitu tertarik. Oya, satu yang harus dipersiapkan para peziyarah, yaitu uang receh. Kenapa, karena setiap kaki melangkah menuju makam wali disitu pula ada (maaf) pengemis atau orang minta2. Entah itu mulai dari anak2 hingga orang tua (simbah2) sekalipun. Banyak sekali. Seperti sudah menjadi profesi lazim mungkin ya. Namun para peziyarah juga tidak pelit (terutama rombongan saya..he..he..) maunya sieh, setiap pengemis mau dikasih, tapi itu akan lama dan mengundang yang lain. Jadi ya beberapa aja. Dan mereka cenderung selektif juga. Saya perhatikan yang dikasih hanyalah orang yang benar2 tidak mampu secara fisik ataupun sudah sangat sepuh (tua). Dan yang paling bikin semangat para pemberi itu adalah bahwa dalam setiap keping yang mereka berikan akan meluncur do’a. “Alhamdulillah, maturnuwun Den. Mugi2 sami sehat, kaparingan berkah saking Gusti Allah, ketampi sedaya amal saenipun, dipun kabulaken ingkang dados panyuwunanipun...bla..bla..” (tau ngga artinya?? Enggak?? Sama…^_^)
Para peziyarahpun semakin semangat buat ngasih, tak lupa dengan senyum manis, pake tangan kanan, sambil bilang ‘semoga bermanfaat ya..’. Kalau sepanjang jalan hanya sibuk merogoh kantong buat menyantuni mereka, yang ada malah ngga jadi ziyarah karena kemaleman di jalan…betul nggak?? Oya, satu yang sedikit membuat saya geli. Salah seorang dari jama’ah saya, setiap kali peziyarah lain memberi uang kepada para pengemis dan saat si pengemis tsb mendo’akan, dia hanya ikut meng-amini saja.
“semoga diberi kesehatan, semoga dikabulkan do’anya, semoga..bla..bla…”
“Amin-amin-amin…” begitu berulang-ulang. Rupanya dia lebih fokus untuk berziyarah ke makam dan lebih suka memasukkan uang di kotak infak yang sudah disediakan. Tapi memang ngga ada salahnya menyantuni mereka. Mungkin dia ngga mau repot merogoh kantong dan menyeleksi pengemis mana yang patut diberi karena memang dia sendiri membawa anak kecil. Jadi yah..jalan lurus2 aja. Dan setiap saya mendengar dan melihat adegan ‘amin-amin’ itu, saya hanya bisa menahan geli. Walah..walah! Ada-ada saja…

Satu lagi untuk memudahkan perjalanan anda, bawalah selalu kantong plastik yang muat untuk tempat sandal. Karena dari pintu gerbang makam hingga menuju makam utama jaraknya cukup jauh, maka jika anda tidak ingin kehilangan sandal karena dilepas di depan gerbang masukkan sandal kedalam kantong plastik dan dibawa serta masuk ke dalam kompleks makam. Begitu lebih praktis dan aman. Karena tidak sedikit peziyarah yang masuknya memakai sandal, pulangnya bertelanjang kaki alias nyeker karena sandalnya keliru atau diambil orang. Yah, mereka hanya bisa bilang..”Ya wiss, ikhlaske wae”. Hmm..kasian juga. Udah, ngga usah mikirin sandal.

Lanjut perjalanan ke makam sunan Muria. Muria oh Muria…Ternyata perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai sekarang ketika hendak berziyarah ke makam sunan Muria. Dari kejauhan, sudah nampak gunung Muria yang menjulang tinggi. Kami rombongan nggak nyangka kalau sesungguhnya sedang menuju kesana. Beberapa saat kemudian, bus berjalan pelan karena memang menanjak naik. Berkelok-kelok lagi…tapi mata kami kembali dimanjakan pemandangan indah di kanan-kiri jalan. Pemandangan kota yang asri dan permai. Jadi pengen nyanyi…’naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan kulihat saja…’ Ehm..kelamaan. Setelah setengah naik, bus diparkir di tempat parkir (iyalah, masak di tempat sholat!!) Disitu sudah banyak layanan ojek yang siap mengantar jama’ah naik ke puncak. Harganya lumayan mahal, Rp.7000 sekali jalan. Lalu setelah turun dari bus, kami berunding sejenak. Diambillah kesepakatan bahwa tidak ada yang naik ojek. Semua jalan…waah…oke tuh. Kami semua berjalan melewati jajaran tukang ojek yang sudah buru2 pake helm, naik motor dan menggebernya sambil menunggu giliran keluar (ojek berbaris rapi didepan halte yang kanan kirinya di beri rantai pembatas agar tidak liar –dikira macan, liar-. Untuk mengambil penumpang, menunggu rantai dibuka dan ojek satu persatu keluar). Namun malang, setelah melihat tidak satupun rombongan yang ingin menggunakan jasa mereka dan lebih memilih naik sandal (jalan maksudnya..^^) merekapun hanya bisa senyum pasrah sambil mematikan mesin motornya. “Yah, mlaku kabeh…” (yah, jalan semua…) Kamipun hanya tertawa melihat aksi2 mereka. Ya, saat ini kami bisa tertawa…namun tidak tau bahwa medan yang akan kami lewati sesungguhnya sudah cukup membuat kami setengah menangis dan hujan peluh…

Kami mulai meniti anak2 tangga menuju makam sunan Muria. Satu anak tangga, dua, tiga, sepuluh, duapuluh, belum terasa lelah. Namun ternyata, masya Allah…kami sesungguhnya belum tau bahwa ratusan anak tangga selanjutnya sudah menanti kita diatas. Kaki rasanya sudah cuapeek banget. Udah ngga mau diajak jalan. Peluh sudah mengalir deras. Dan saat kami beristirahat sebentar, saat itu juga disamping ada seorang penjual VCD. (dikanan kiri banyak pedagang) Disitu distel kaset perjalanan menuju makam sunan Muria. Dan dari situlah kami baru sadar, bahwa perjalanan dari mulai anak tangga pertama sampai puncak adalah sejauh satu kilometer. Masya Allah, padahal kita belum ada setengahnya. Terdengarlah adzan maghrib, wah harus cepat2 nieh. Tapi kaki udah pegeel banget. Ayolah kaki, semangath!! Tiba di pemberhentian, (agak datar) disitu tersedia toilet dan tempat wudhu pria dan wanita. Akhirnya yang nyampe duluan segera berwudhu. Kita lanjutkan lagi merangkak ke atas dengan sisa2 tenaga…(segitunya..tetep jalan kok. Malu dong klo suruh merangkak ^^) Nah, ceritanya kita udah sampai ni di puncak. Huuh..angin malam segera menerpaku. Sejuuuk sekali, setelah sekian lama mendaki gunung Muria. Dibawah pemandangannya juga sangat indah. Kerlap-kerlip lampu mulai terlihat. Subhanallah, bibir tak berhenti berdecak dan bertasbih. Lalu kami semua menuju masjid. Didepan masjid, kami (saya khususnya) sempat terbengong tak berdaya. Dengan melihat posisi masjid yang berada diatas dan tangga yang harus dilalui bila hendak mencapai masjid tsb cukup mengingatkan kami akan perjuangan saat menuju ke puncak. Waduuh…sungguh membuat syok. Kenapa ngga datar2 aja ya?! Okeh..ngga papa. Dengan sisa2 tenaga kami mulai merangkak (loh, pengulangan adegan, he..he..).

Setelah itu kamipun menunaikan sholat. Usai sholat, tiba2 secara tak disangka2 lampu mati!! Seketika kegelapan malam di puncak gunung Muria mulai menyelimuti. Beberapa detik kami tidak bergerak, mencoba menjernihkan pikiran. Yang bawa haPe mulai inisiatif menghidupkannya (meski ngga ada sinyal) untuk sekedar penerangan. Yang tadinya agak berisik, mendadak diam seribu bahasa. Namun, beberapa saat kemudian lampu kembali terang. Serentak terdengar ‘Alhamdulillaaaahhh…’ dari mulut masing2. Wah, kompak banget deh…Naah, setelah sholat dan lampu terang kami beranjak menuju makam sunan Muria. Kembali, siapkan kantong plastik untuk membawa sandal anda. Disana ternyata sudah banyak orang yang berziyarah. Ternyata durasi ziyarah dibatasi. Tidak boleh lama2, karena memang banyak yang antri. Setelah beberapa saat, ziyarah di makam sunan Muria usai. Kami kembali menuju tangga yang siap untuk dilewati oleh kaki-kaki lelah kami. Dan betapa kagetnya kami setelah sadar bahwa lampu sebenarnya belum menyala. Lampu yang menyala tadi dikarenakan memakai tenaga diesel. Dan yang tidak punya diesel harus rela bergelap-gelap ria. Dan itulah, kami harus kembali meniti tangga yang curam menurun dalam keadaan gelap gulita. Masya Allah, sungguh perjalanan yang tidak bisa dibilang ringan. Kami saling berpegangan (saya dan abi, adek udah jauh didepan…) untuk mencegah sesuatu yang tidak diinginkan. Karena kondisi jalan/tangga yang sudah tidak sempurna, banyak diantara kami yang terpeleset dan tersandung. Hanya beberapa dari kami yang membawa senter kecil. Dan itulah salah satu penerangan yang diandalkan untuk orang2 yang berada dibelakangnya. Semoga, setitik sinar yang dihasilkan dari senter itu dan yang menerangi jalan orang2 untuk sekadar menghindari lubang dapat membawa kebaikan bagi mereka yang ikhlas.

‘Alhamdulillah’ serta merta meluncur dari mulut masing2 (seperti saat lampu terang di puncak) saat kaki meninggalkan anak tangga terakhir. Hhuuh..sungguh perjuangan. Namun bayangan ingin segera masuk bus dan duduk tenang harus dihapus dalam benak ketika saat rombongan menuju bus dimana terakhir terparkir dan melihat bus sudah tidak ada ditempat. Walah, gimana ini. Kepanikan kembali melanda. Ingat, saat itu masih dalam keadaan gelap gulita. Panitiapun segera mengambil tindakan, apa tindakan yang diambil? Mondar-mandir mencari dua bus pariwisata dengan membawa mega phone sambil memanggil2 berharap sang sopir bus mendengar dan segera memberi tanda dimana dia parkir. Terpaksa jama’ah terlantar di pinggir jalan sambil harap2 cemas. (mungkin mengira busnya nyasar kali ya..) Sesaat terdengar sebuah bus membunyikan klakson berkali2. Merasa yakin bahwa bus itu adalah yang dimaksud, serentak kami berbondong2 turun (jalan menuju tempat parkir menurun) mendekati bus yang tadi meng-klakson. Belum sampai disitu, satu panitia yang berada di belakang berteriak “Jama’ah Nuurul Arqam, bisnya disini..bisnya disini…” Kami yang sudah sampai dibawah, hanya bisa bengong dan saling tatap (emang keliatan, orang gelap yee…) dan terpaksa putar balik lagi menuju bus yang dimaksud. Dan ternyata benar, lah yang tadi mainan klakson busnya siapa dong?! Kemudian lewatlah sebuah bus yang tadi kami kira itu bus jama’ah kami. Dengan cermat kami mengamati, dan ternyata memang bukan. Walah…kok ya iseng banget sih yak pake klakson2 segala. Bikin repot aja…

Pfiuuh..akhirnya bisa juga diri ini melepas lelah di dalam bus. Menikmati buaian udara yang berasal dari air conditioning dalam bus. Tapi baru berasa kalau sang kaki udah senut2. Tak apalah…yang penting sekarang bisa sejenak beristirahat.
Bus kembali menuruni gunung dan selanjutnya menuju makam sunan Kudus. Sesampainya di kompleks makam, didepan masjid Kudus menjulang menara yang terbuat dari batu bata merah yang lebih terkenal dengan sebutan menara Kudus. Dari sekian makam sunan yang telah kami ziyarahi, di makam sunan Kuduslah yang paling ramai. Benar2 ramai, dari mulai anak2 hingga orang tua. Saat itu jam menunjukkan pukul 21.30 WIB. Selesai ziyarah di makam sunan Kudus, kami kembali ke bus satu jam setelahnya. Jam menunjukkan pukul 22.30 WIB malam. Istirahat sebentar, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan pulang, semua jama’ah sudah terlihat sangat lelah, letih, lemah, lunglai (tapi bukan anemia lho ya..). Dan tidak sulit untuk terlelap. Hhm…meskipun para penumpang sudah terlelap, namun bus tetap merayap melewati jalan2 aspal untuk mengantar kami kembali pulang. Pemandangan malam di jalan-jalanpun sangat sayang untuk dilewatkan. Meskipun tengah malam, masih banyak juga aktifitas yang masih menggeliat di pinggir jalan. Tak terasa, matapun sudah saatnya istirahat. Jam menunjukkan pukul 2.30 WIB dini hari saat bus akan naik (dari Jogja menuju Kab. Gunungkidul). Bus mulai berbelok-belok melewati jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan malam yang tetap elok..(alah..) Sebentar lagi akan sampai rumah nieh…

Saat sampai, jam menunjukkan pukul 3.30 WIB dini hari. Sebelum turun, sekilas sempat melihat lama perjalanan yang ada dalam bus. 21 jam 10 menit. Lama nian…Ya sudahlah, yang penting sekarang sudah sampai dengan selamat tak kurang suatu apa! Akhirnya the long journey telah berakhir. Saatnya istirahat.
Semoga diterima segala amal dan diampuni dosa para alim ulama yang telah mendahului kita. Dan semoga kita lebih dapat mengingat sesuatu yang paling dekat dan yang terus mengintai, mati. Dan lekas2 sadar akan dosa yang telah diperbuat, dan sudah seberapa banyakkah bekal amal yang akan kita bawa kelak dengan harapan akan lebih bertaqwa kepada Allah SWT.
Sekian kisah perjalanan ziyarah kami ke makam para sunan, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Kedatangan Izrail...


Syahdan, disebuah negeri, tersebut seorang wanita yang kaya raya. Jabatannya berderet, kekayaannya bertumpuk. Tiap pagi hingga petang ia bekerja keras menumpuk harta benda. Tiap petang hingga malam ia membelanjakan kekayaan dan berpesta pora. Dengan kekayaan dan kedudukan yang dipunya ia merasa seolah hidup 'hanya' menjadi miliknya, dan hidup seakan tak akan ada ujung akhirnya.
Suatu malam sepulang dia berpesta, badan terasa letih dan penat, dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Dalam pingsan itulah ia didatangi seseorang, yang kepadanya mengaku bernama 'Malaikat Kematian'. Si wanita kontan pucat, gugup tak karuan, sebab dia memang belum siap mati. Ia masih muda, belum maksimal menikmati kekayaannya.
"Apakah kamu akan mencabut nyawaku wahai Izrail?" tanya si wanita, namun hati berharap malaikat tak melakukannya.
Malaikat menggeleng lantas berkata, "Belum tiba waktu kematianmu. Aku datang hanya untuk mengingatkanmu, agar tak terbuai urusan keduniaan sampai melupakan hari kematian." Malaikat Izrail tampak hendak beranjak.
Sebelum Izrail benar-benar pergi, wanita itu berkata lagi, "Wahai Izrail saya berterimakasih atas peringatanmu. Tapi, aku akan lebih berterimakasih bila kamu mau memenuhi satu permintaanku."
"Katakan," jawab si Malaikat.

"Berikan sebuah tanda dan informasi kepadaku, ketika mendekati waktu kematianku," demikian pinta si wanita, dan Malaikat Izrail pun mengabulkannya.
Singkat kata, si wanita kembali sehat lantas aktif lagi dengan segala kesibukannya. Dari tahun ke tahunia asyik menekuni keindahan dunia, menumpuk kekayaan, mengoleksi jabatan, dan lupa mempersiapkan bekal kematian. 'Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga'. Itulah semboyan yang ia dengungkan. Apalagi, malaikat telah berjanji akan memberi tanda ketika ia mendekati waktu mati.
Pada saat mendekati mati itu, ia bertekad akan taubat, memperbanyak amal sedekah hingga memungkinkannya masuk al-jannah.
Suatu hari, Malaikat Izrail mendatangi wanita tadi. Si wanita bertanya, "Apakah engkau akan memberi tahu bahwa aku sudah dekat dengan kematianku?"
"Aku justru hendak mencabut nyawamu." jawab Izrail singkat, menampilkan wajah angker.
"Bukankah engkau telah berjanji untuk memberi sebuah informasi, bila aku sudah dekat dengan mati?" tanya si wanita dengan ekspresi ketegangan dan ketakutan.
"Aku telah memberimu tanda tapi engkau selalu mengabaikannya. Kau hanya minta informasi satu kali, padahal aku justru memberimu tanda banyak sekali. Rambutmu yang memutih adalah satu tanda kian dekatnya kematianmu. Kulitmu yang kian keriput merupakan informasi bahwa engkau makin dekat dengan mati. Suara dan gerakanmu yang mulai gemetar, juga sebagai lambang pengingat bahwakau makin dekat dengan saat kematian. Tapi, semua tanda dariku tidak menarik perhatianmu. Oleh karenanya, kini sudah tiba saatnya kamu mempertanggungjawabkan kehidupanmu di akhirat sana," Malaikat Izrail mencabut nyawa si wanita dengan kasarnya.

Kisah tadi memang hanya sebuah rekaan, tapi tetap sangat pantas untuk direnungkan. Tentu masih banyak kisah lain yang tak kalah penting untuk direnungi, diresapi, una kian mendekatkan kita kepada Illahi.
Saudaraku sekalian, mati adalah sesuatu yang paling dekat dengan kita. Namun kita tidak dapat melihat dimana dia, sudah sampai dimana mengikuti kita. Tapi Dia-lah yang menentukan kapan kita dihampiri maut...

Dalam Alam Penantian...


Seperti biasa pagi ini aku berangkat kerja. Setelah berpakaian rapi, menuju meja makan maksud hati ingin sarapan. Tapi setelah kubuka tudung saji, baru ku ingat istriku tadi malam pergi kerumah ibu. Rencananya hari ini giliran mas Ali yang berangkat haji setelah dua tahun lalu menghajikan kedua orang tuanya. Yah, mas Ali yang notabene adalah kakak iparku telah berhasil mewujudkan impian orangtuanya. Sedangkan aku? Aku hanya sebagai buruh pabrik makanan instant, mana mungkin bisa sampai seperti itu.

Tapi, ah..semua ini adalah pemberian Allah yang wajib aku syukuri. Meski hidup dalam kesederhanaan, tapi kusadari aku tetap hidup dalam kemewahan. Kemewahan yang tidak semua orang punya. Aku punya istri yang cantik, baik, pengertian, dan insyaAllah sholehah. Rumah mungil inipun serasa menjadi istana yang megah dan indah. Yang diramaikan oleh peri-peri kecil yang lincah dan menggoda mata.Empat tahun menikah, kami telah dikaruniai dua orang anak. Besar harapan kami tergantung pada mereka supaya kelak menjadi anak yang berguna bagi keluarga, agama dan bangsa.Kututup kembali tudung saji itu. Kulirik jam tangan, sudah hampir jam 7. Tidak sempat kalau harus memasak mi atau sekedar menggoreng telur. Kuputuskan pagi ini tidak sarapan.

Aku baru hendak mengambil kunci motor ketika tiba-tiba tubuhku terasa panas dingin. Menggigil... tubuhku seperti membawa beban berat berton-ton hingga aku jatuh tersungkur bersandar pada kursi meja makan. Seketika itu juga aku melihat sesosok bayangan putih yang menghampiriku. Semakin mendekat bayangan itu, semakin menggigil pula tubuhku. Lidahku seperti tercekat. Sejenak bayangan itu berputar-putar diatas kepalaku. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Saat dia semakin dekat denganku, serasa ingin memasuki tubuhku, kurasakan sendi-sendi tulangku bagai remuk. Bagai ada sebatang kayu berduri tajam dimasukkan kedalam mulutku. Dipaksa...dan setelah masuk kedalam perut, ditarik lagi dengan keras hingga ada bagian tubuhku yang tercerabut dan tersangkut di duri-duri itu. Sungguh sangat luar biasa sakitnya. Tak terasa air mata meleleh, aku hanya menyebut nama Allah berkali-kali dalam hati. Karna hanya itu yang aku bisa lakukan. Aku ingin teriak minta tolong, tapi lagi-lagi lidahku kelu.

Allahuakbar...Allahuakbar..Laailaha ilallah... Apa yang terjadi padaku ya Allah... Sampai saat bayangan itu selesai menunaikan tugasnya, tiba-tiba badanku serasa ringan. Terbang melayang-layang. Masih dengan rasa sakit yang tak terkira akibat perbuatan bayangan yang tak kukenal. Kulayangkan pandangan keseluruh ruangan. Sepi! Hanya ada seonggok tubuh pucat pasi yang terkapar tak berdaya disamping kursi meja makan...
“Pak Adam mengalami serangan jantung, Bu.” kudengar orang berbaju putih itu berbicara pada istriku. Kulihat istriku berada disamping tempat tidur dimana tubuh yang kulihat di ruang makan tadi terbaring. Ada beberapa orang disamping istriku. Imah, kamu menangis, anak-anak menangis, sanak saudara menangis. Aku berusaha menenangkannya, tapi percuma. Aku berusaha bicara pada mereka, tetap masih percuma.

Mereka seakan tidak mendengarku. Bahkan tidak menganggapku bahwa sedari tadi aku berada disini, bersama mereka. Kulirik tubuh itu, kurasakan seketika tubuhku panas. Aku ingin segera diantarkan ketempat dimana aku seharusnya berada... Kulangkahkan kakiku dengan langkah ringan memasuki mobil putih dengan suara menderu-deru. Sesampai dirumah, tubuhku...atau lebih tepatnya jasadku dibaringkan. Kulihat sanak famili mengelilingiku. Kain jarik dibentangkan, air dan sabun telah pula disiapkan. Ketika air menyiram ubun-ubunku, tiba-tiba terdengar suara menggema dari langit. Keras sekali...

"Wahai Adam Anak si Abdulah...
Mana Badanmu Yang Dahulunya Kuat, Mengapa Kini Terkulai Lemah?
Mana Lisanmu Yang Dahulunya Fasih, Mengapa Kini Bungkam Tak Bersuara?
Mana Telingamu Yang Dahulunya Mendengar, Mengapa Kini Tuli dari Seribu Bahasa?
Mana Sahabat-Sahabatmu Yang Dahulunya Setia, Mengapa Kini Raib Tak Bersuara?"

Suara itu terdengar memekik, memekakkan telinga. Kututup kedua telingaku, namun suara itu semakin keras terdengar. Tubuh tak berdaya-ku telah bersih. Kini aku dibawa ke pembaringan, dan siap dikafan. Aku masih saja melihat dan mendengar tangis mereka yang kutinggalkan. Dadaku bergejolak, ingin sekali aku bicara pada mereka. Jangan tangisi aku, bukankah kematian adalah suatu kepastian, yang setiap makhluk hidup pasti akan mengalaminya. Namun, lagi-lagi aku tak kuasa. Kain putih dibentangkan, tali temali telah disiapkan. Apa itu? Aku mendengar suara memekik dari langit...

"Wahai Adam Anak Si Abdullah...
Berbahagialah Apabila Kau Bersahabat Dengan Ridha, Celakalah Apabila Kau Bersahabat Dengan Murka Allah
Wahai Adam Anak Si Abdullah...
Kini Kau Tengah Berada Dalam Sebuah Perjalanan Nun Jauh Tanpa Bekal
Kau Telah Keluar Dari Rumahmu Dan Tidak Akan Kembali Selamanya
Kini Kau Tengah Safar Pada Sebuah Tujuan Yang Penuh Pertanyaan."

Tubuhku kembali menggigil. Aku yang tadinya ingin menenangkan mereka, tapi kini aku disergap rasa takut yang amat sangat. Perjalanan nun jauh tanpa bekal... Apa bekalku ya Rabb... apakah selama ini hidupku adalah sia-sia? Ya Allah, terimalah semua amalku ya Allah. Meskipun itu tiada bandingan dengan nikmat yang telah Engkau berikan...dan ampunilah segala dosa dan khilafku... Kulihat beberapa orang, ah...itu kan si Joko. Dia berdiri paling depan diantara beberapa orang lainnya yang telah berjajar rapi menghadap kiblat. Dihadapan merekalah jasadku terbaring. Aku juga melihat si Firman, si Harun dan... siapa ketiga orang itu. Rasa-rasanya aku belum pernah bertemu dengan mereka.
Ketika takbir terucap, seketika itulah suara dari langit kembali terdengar...

"Wahai Adam Anak Si Abdullah..
Setiap Pekerjaan Yang Kau Lakukan Kelak Kau Lihat Hasilnya Di Akhirat
Apabila Baik, Maka Kau Akan Melihatnya Baik
Apabila Buruk, Kau Akan Melihatnya Buruk."

Aku bingung. Aku berputar-putar menatap langit yang mendung. Kucari sumber suara itu. Tetapi tak kunjung kutemukan dari mana asal suara aneh yang selalu membuatku bergetar ketakutan bila mendengarnya. Jasadku telah berada dalam ruangan sempit yang diusung dan bertandukan empat orang. Satu langkah mereka keluar pekarangan rumahku, saat tiba-tiba kembali terdengar suara memekik dari langit mendung...

"Wahai Adam Anak Si Abdullah...
Berbahagialah Apabila Amalmu Adalah Kebajikan
Berbahagialah Apabila Matimu Diawali Tobat
Berbahagialah Apabila Hidupmu Penuh Dengan Taat."

Kali ini, tak kuhiraukan seruan itu. Aku bimbang bercampur takut. Mau dibawa kemana aku? Ini kan rumahku. Lalu aku tersadar, bahwa aku harus menanti dirumah baruku. Kulihat disana telah menganga sebuah lubang berukuran 2x1m. Tidak luas memang, tidak seluas rumahku yang dulu. Tapi itulah rumahku saat ini...Jasadku yang telah terbungkus oleh kain putih pun perlahan diletakkan ditanah dalam lubang sempit itu. Sekali lagi kudengar seruan agung dari langit, semakin memekakkan telinga. Kulihat mereka yang ada disekitarku tidak merasakan apa-apa. Tidak mendengar yang sedari tadi aku dengar. Aku sudah tidak dapat merasakan tubuhku. Terkulai lemas, masih tetap menggigil ketakutan. Ketakutanku semakin memuncak ketika suara itu menggema...

"Wahai Adam Anak Si Abdullah...
Apa Yang Telah Kau Siapkan Dari Rumahmu Yang Luas Di Dunia Untuk Kehidupan Yang Penuh Gelap Gulita Di Sini?
Wahai Adam Anak Si Abdullah...
Dahulu Kau Tertawa, Kini Dalam Perutku Kau Menangis
Dahulu Kau Bergembira, Kini Dalam Perutku Kau Berduka
Dahulu Kau Bertutur Kata, Kini Dalam Perutku Kau Bungkam Seribu Bahasa."

Masih kudengar tangis pilu sanak saudara yang ikut mengantar kerumah peristirahatanku yang terakhir. Kemudian mereka mulai meninggalkanku sendirian. Satu persatu. Tetanggaku, teman sekantorku, orang tuaku, bahkan istri dan anak-anakku pun meninggalkanku. Kalian mau kemana? Jangan tinggalkan aku sendiri disini. Aku takut... pekikku. Tak seorangpun mendengar. Kegelapan mulai merayap. Rasa takutpun semakin menggerayangiku. Gelap pekat dipandangan. Alam apa ini? Apakah ini adalah yang sering diceritakan orang-orang selama aku masih hidup didunia? Alam penantian yang sangat panjang dan mencekam, tanpa seseorangpun yang dapat dijadikan teman. Alam barzakh-kah ini? Kini aku benar-benar sendiri. Tiba-tiba kulihat dua sosok makhluk berjubah putih mendekatiku. Tak dapat kusembunyikan rasa takutku yang semakin menggila. Tubuhku terguncang-guncang... Bersamaan dengan itu, kembali terdengar suara dari langit. Kali ini, semakin dekat...dan semakin dekat...

"Wahai Hamba-Ku.....
Kini Kau Tinggal Seorang Diri Tiada Teman Dan Tiada Kerabat Di Sebuah Tempat Kecil, Sempit Dan Gelap.. Mereka Pergi Meninggalkanmu.. Seorang Diri Padahal, Karena Mereka Kau Pernah Langgar Perintah-Ku Hari Ini,.... Akan Kutunjukan Kepadamu Kasih Sayang-Ku Yang Akan Takjub Seisi Alam Aku Akan Menyayangimu Lebih Dari Kasih Sayang Seorang Ibu Pada Anaknya".

Dalam sekejab aku merasa berada dalam padang yang luas... kulihat juga disana sini tumbuh pohon kurma yang berbuah ranum. Kulihat disana ada sebuah rumah, rumahku. Ya, rumahku dimana menjadi tempat tinggalku didunia bersama keluargaku. Kumasuki rumah itu, sepi... disana terhampar sebuah permadani indah. Tak sabar, aku tidur diatasnya. Dalam hati aku berucap, akan kutunggu istriku dan anak-anakku menyusulku di rumah ini...

Dahsyatnya Rasa Sakit saat Sakaratul Maut...


Sabda Rasulullah SAW : “Sakaratul maut itu sakitnya sama dengan tusukan tiga ratus pedang” (HR Tirmidzi)
Sabda Rasulullah SAW : “Kematian yang paling ringan ibarat sebatang pohon penuh duri yang menancap di selembar kain sutera. Apakah batang pohon duri itu dapat diambil tanpa membawa serta bagian kain sutera yang tersobek ?” (HR Bukhari)

Atsar (pendapat) para sahabat Rasulullah SAW .
Ka’b al-Ahbar berpendapat : “Sakaratul maut ibarat sebatang pohon berduri yang dimasukkan kedalam perut seseorang. Lalu, seorang lelaki menariknya dengan sekuat-kuatnya sehingga ranting itupun membawa semua bagian tubuh yang menyangkut padanya dan meninggalkan yang tersisa”.

Imam Ghozali berpendapat : “Rasa sakit yang dirasakan selama sakaratul maut menghujam jiwa dan menyebar ke seluruh anggota tubuh sehingga bagian orang yang sedang sekarat merasakan dirinya ditarik-tarik dan dicerabut dari setiap urat nadi, urat syaraf, persendian, dari setiap akar rambut dan kulit kepala hingga kaki”.

Imam Ghozali juga mengutip suatu riwayat ketika sekelompok Bani Israil yang sedang melewati sebuah pekuburan berdoa pada Allah SWT agar Ia menghidupkan satu mayat dari pekuburan itu sehingga mereka bisa mengetahui gambaran sakaratul maut. Dengan izin Allah melalui suatu cara tiba-tiba mereka dihadapkan pada seorang pria yang muncul dari salah satu kuburan. “Wahai manusia !”, kata pria tersebut. “Apa yang kalian kehendaki dariku? Limapuluh tahun yang lalu aku mengalami kematian, namun hingga kini rasa perih bekas sakaratul maut itu belum juga hilang dariku.”

Proses sakaratul maut bisa memakan waktu yang berbeda untuk setiap orang, dan tidak dapat dihitung dalam ukuran detik seperti hitungan waktu dunia ketika kita menyaksikan detik-detik terakhir kematian seseorang. Mustafa Kemal Attaturk, bapak modernisasi (sekularisasi) Turki, yang mengganti Turki dari negara bersyariat Islam menjadi negara sekular, dikabarkan mengalami proses sakaratul maut selama 6 bulan (walau tampak dunianya hanya beberapa detik), seperti dilaporkan oleh salah satu keturunannya melalui sebuah mimpi.

Rasa sakit sakaratul maut dialami setiap manusia, dengan berbagai macam tingkat rasa sakit, ini tidak terkait dengan tingkat keimanan atau kezhaliman seseorang selama ia hidup. Sebuah riwayat bahkan mengatakan bahwa rasa sakit sakaratul maut merupakan suatu proses pengurangan kadar siksaan akhirat kita kelak. Demikianlah rencana Allah. Wallahu a’lam bis shawab.


Sakaratul Maut Orang-orang Zhalim

Imam Ghozali mengutip sebuah riwayat yang menceritakan tentang keinginan Ibrahim as untuk melihat wajah Malaikatul Maut ketika mencabut nyawa orang zhalim. Allah SWT pun memperlihatkan gambaran perupaan Malaikatul Maut sebagai seorang pria besar berkulit legam, rambut berdiri, berbau busuk, memiliki dua mata, satu didepan satu dibelakang, mengenakan pakaian serba hitam, sangat menakutkan, dari mulutnya keluar jilatan api, ketika melihatnya Ibrahim as pun pingsan tak sadarkan diri. Setelah sadar Ibrahim as pun berkata bahwa dengan memandang wajah Malaikatul Maut rasanya sudah cukup bagi seorang pelaku kejahatan untuk menerima ganjaran hukuman kejahatannya, padahal hukuman akhirat Allah jauh lebih dahsyat dari itu.

Kisah ini menggambarkan bahwa melihat wajah Malakatul Maut saja sudah menakutkan apalagi ketika sang Malaikat mulai menyentuh tubuh kita, menarik paksa roh dari tubuh kita, kemudian mulai menghentak-hentak tubuh kita agar roh (yang masih cinta dunia dan enggan meninggalkan dunia) lepas dari tubuh kita ibarat melepas akar serabut-serabut baja yang tertanam sangat dalam di tanah yang terbuat dari timah keras.

Itulah wajah Malaikatul Maut yang akan mendatangi kita kelak dan memisahkan roh dari tubuh kita. Itulah wajah yang seandainya kita melihatnya dalam mimpi sekalipun maka kita tidak akan pernah lagi bisa tertawa dan merasakan kegembiraan sepanjang sisa hidup kita.

Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim (berada) dalam tekanan-tekanan sakratulmaut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu". Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (QS Al-An’am 6:93)
(Yaitu) orang-orang yang dimatikan oleh para malaikat dalam keadaan berbuat lalim kepada diri mereka sendiri, lalu mereka menyerah diri (sambil berkata); "Kami sekali-kali tidak mengerjakan sesuatu kejahatan pun". (Malaikat menjawab): "Ada, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan". Maka masukilah pintu-pintu neraka Jahanam, kamu kekal di dalamnya. Maka amat buruklah tempat orang-orang yang menyombongkan diri itu. (QS, An-Nahl, 16 : 28-29)

Di akhir sakaratul maut, seorang manusia akan diperlihatkan padanya wajah dua Malaikat Pencatat Amal. Kepada orang zhalim, si malaikat akan berkata, “Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik, engkaulah yang membuat kami terpaksa hadir kami ke tengah-tengah perbuatan kejimu, dan membuat kami hadir menyaksikan perbuatan burukmu, memaksa kami mendengar ucapan-ucapan burukmu. Semoga Allah tidak memberimu balasan yang baik ! “ Ketika itulah orang yang sekarat itu menatap lesu ke arah kedua malaikat itu.

Ketika sakaratul maut hampir selesai, dimana tenaga mereka telah hilang dan roh mulai merayap keluar dari jasad mereka, maka tibalah saatnya Malaikatul Maut mengabarkan padanya rumahnya kelak di akhirat. Rasulullah SAW pernah bersabda, “Tak seorangpun diantara kalian yang akan meninggalkan dunia ini kecuali telah diberikan tempat kembalinya dan diperlihatkan padanya tempatnya di surga atau di neraka”.
Dan inilah ucapan malaikat ketika menunjukkan rumah akhirat seorang zhalim di neraka, “Wahai musuh Allah, itulah rumahmu kelak, bersiaplah engkau merasakan siksa neraka”. Naudzu bila min dzalik!


Sakaratul Maut Orang-orang Yang Bertaqwa

Sebaliknya Imam Ghozali mengatakan bahwa orang beriman akan melihat rupa Malaikatul Maut sebagai pemuda tampan, berpakaian indah dan menyebarkan wangi yang sangat harum.

Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa, (yaitu) surga Adn yang mereka masuk ke dalamnya, mengalir di bawahnya sungai-sungai, di dalam surga itu mereka mendapat segala apa yang mereka kehendaki. Demikianlah Allah memberi balasan kepada orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): "Assalamu alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan". (QS, An-Nahl, 16 : 30-31-32)

Dan saat terakhir sakaratul mautnya, malaikatpun akan menunjukkan surga yang akan menjadi rumahnya kelak di akhirat, dan berkata padanya, “Bergembiaralah, wahai sahabat Allah, itulah rumahmu kelak, bergembiralah dalam masa-masa menunggumu”.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Semoga kita yang masih hidup dapat selalu dikaruniai hidayah-Nya, berada dalam jalan yang benar, selalu istiqomah dalam keimanan, dan termasuk umat yang dimudahkan-Nya, selama hidup di dunia, di akhir hidup, ketika sakaratul maut, di alam barzakh, di Padang Mahsyar, di jembatan jembatan Sirath-al mustaqim, dan seterusnya.
Amin !