y

Flanel Craft Karyaku

Haaii, kawan blogger yang cantik2 dan cakep2 :D..
Ngomong-ngomong, aku punya hobi baru looh. Apa itu? Hmm, ijinkan aku cerita sedikit yaa..
Let's go!

Ini bermula dari 'keisenganku' di FB mengikuti suatu kompetisi. Di sana ada lomba artikel dan lomba poster. Event itu mengusung tema Pengusaha Muda. Yah, bisa dibilang begitu lah. Nah, poster dari para peserta itu adalah tentang usaha yang telah mereka miliki. Ada yang punya usaha sablon, camilan, loundry, les privat, dan lain-lain. Nah, ada sebuah poster yang menggelitik hatiku (cieh). Di sana terpampang gambar2 kue yang imut, lucu, seksi (loh?).

Aku pikir itu adalah usaha per-kue-an. Tapi setelah ditelaah, ternyata oh ternyata itu adalah usaha flanel craft. Tau kaan, kain flanel? Nah, tuh kain dijadiin semacam replika kue2an gitu. Nanti bisa dijadiin berbagai aksesoris, gantungan kunci, gantungan hp, gantungan tas, magnet kulkas dll. Jika masih penasaran, browsing aja ke mbah google banyak kok yg bahas tentang kreasi dari kain flanel.

Yaps, itulah hobi baruku. Kini, di rumah aku sibuk guntingin kain flanel buat dijadiin gantungan kunci. Merasa tertantang dengan berbagai bentuk kreasi dari kain flanel yang lucu dan imut2. Mau tau beberapa karyaku? Let's check this out...



Strawberry Cheese Cake
Ini dia karya pertamaku. Kalo jelek maklumlaah, namanya masih belajar. Tp kalo bagus, alhamdulillah yah.. :D

Chocolate Cake with Cream
Sepotong kue cokelat, yg rasanya pasti yummy. Tp sayangnya gak bisa dimakan :D

Mini Patty
Nah, ini dia yg paling disukai anak2. Mereka menyebutnya, Krabby Patty. Dikira punya Spongebob?

Donat dengan cream topping
Sebentuk donat dg fantasi lelehan krim di atasnya. Lalu diberi finishing touch dg fla rasa chocolate, vanilla dan strawberry. Yummy..

Selain kue2an, ada juga gantungan strawberry. Ini dia..
Bintik2nya dikit ya.. Nanti deh, aku tambahin biar rame ^^
Kemarin ada dua anak tetangga yang main ke rumah, aku kasih lah strawberry mungil itu ke mereka ^^

Karya terakhirku :D

Berpose dulu yaak ^^


Nah, itulah kawan sedikit dari buah 'keisenganku'. Ada yang mau dibuatin gantungan kunci?? ^_^

Sekedar Sapa ^^

Assalamu'alaykum Warahmatullah Wabarakatuh,

Hmm...rasanya sudah lamaa sekali saya tak menengok rumah kaca ini ya. Tentu bukan karena melupakan, hanya sedang tidak ingin menulis saja ^^. Hampir setiap hari saya tetap menengok blog ini, biasanya masih saja ada yang meninggalkan jejak di Pesan Singkat. Tapi sobat, sepertinya pihak shoutmix sudah membatasi pemakaian produknya secara free. Jadi, otomatis Pesan Singkat  yang tadinya terpampang dengan cantiknya di blog ini menghilang sudah. 

Sebagai si empunya blog yang baik hati, seharusnya segera mengganti produk tersebut dengan produk lain yang masih menyediakan secara free (dasar tidak modal ^^). Namun sobat, sungguh...saya sedikit kesulitan untuk memasang yang baru. Jika sobat ada informasi, mohon sharing yaa.. 

Masalah tidak terhenti sebatas buku tamu yang diblokir. Beberapa kali saya buka blog ini, eh...kok malah di direct ke ripway?? Ada apa ini yaa?? Usut punya usut, ternyata banyak juga kasus blog seperti itu. Lalu berkat membaca postingan seorang sobat blogger, ketemulah masalahnya. Ternyata ada sebuah script yang mengandung link ripway. Demi kenyamanan, akhirnya saya hapus script tersebut. Dan, taraaa...!!! Blog Goresan Qalbu kembali pulih ^_^.

Terakhir, doakan saya ya supaya tidak malas2 lagi utk menulis dan update blog yang sudah lama terdampar ini. Jujur, saya jadi malu. Begitu banyak blog2 baru yang lahir dan prestasinya sudah jauuhh melebihi blog yang sudah nenek2 ini.. xixixi.. Okeh, tetap semangat dan tetap istiqomah!! 

Salam ^_^

Semir Sepatu

Kuperhatikan seorang anak usia sekira 8-10 tahun itu. Anak laki-laki. Berbaju seragam, namun nampak sedikit kumal dan kedodoran. Kali kedua siang mataku mengekor apa yang ia lakukan. Tepat jam 11 siang dimana dapat kudengar pula bel istirahat sekolah dasar di depanku itu berbunyi. Seperti pertama kali, kulihat ia keluar dari sekolahnya dengan menenteng dua pasang sepatu hitam berukuran orang dewasa. Sepasang di kiri, sepasang lagi di kanan.

Terburu-buru, namun sangat hati-hati seolah barang bawaan yang ada di kedua tangannya itu bom waktu yang dapat meledak jika terjatuh atau pula terhentak. Sesaat kemudian, diangsurkannya dua pasang sepatu hitam yang tidak hitam itu kepada seorang tua yang cacat. Duduk di sebuah kios sempit di sudut sekolah. Di depan kios itu tertulis ‘SEMIR SEPATU’ dengan goresan cat kuning yang tidak rapi dan kian memudar.
Dengan tangkas orang tua yang tadinya kuduga, namun sudah pasti tukang semir sepatu itu melakukan tugasnya. Disambutnya dua pasang sepatu orang dewasa lalu menyulapnya sehingga menjadi hitam mengkilap. Bocah laki-laki yang sedari tadi kuperhatikan, duduk manis menunggu apa yang tukang semir sepatu itu kerjakan. Tanpa suara, tanpa banyak tingkah. Sesekali kulihat keduanya berdialog, namun sudah pasti tak kudengar sampai sini.


Setelah selesai, dengan segera bocah laki-laki tadi membawanya kembali ke sekolah. Entah mau dikembalikan kepada siapa sepatu-sepatu itu. Kali ini, lebih hati-hati.
***

Sudah genap lima hari kegiatan baruku sebagai detektif pengintai. Bukan penjahat yang kuawasi, namun hanyalah seorang bocah laki-laki yang setiap pagi kulihat pergi sekolah dengan berjalan kaki. Sebelum masuk kelas, satu kebiasaan anak itu yang membuatku tak bisa berfikir. Dia keluarkan sekotak bekal, kuduga, dari dalam tasnya. Lalu diberikanlah kepada seorang tua cacat yang menjadi penghuni kios kecil semir sepatu.

Siang jam istirahat mengantarkan beberapa pasang sepatu orang dewasa yang kumal ke kios kecil sudut sekolah untuk disemir. Belakangan kuketahui bahwa sepatu-sepatu itu adalah milik para guru.

Aku tidak tahu kenapa sang bocah mau melakukan pekerjaan itu. Dan kenapa pula sang guru tega meminta muridnya untuk mengantarkan sepatu-sepatu itu ke tukang semir. Namun sudah pasti hatiku bergumam, anak itu luar biasa. Sudah sangat mulia memperlakukan orang yang dalam hal ini memiliki kekurangan fisik. Siapa lagi kalau bukan sang penyemir sepatu yang kumaksud. Selain itu, dia juga punya sifat penolong. Buktinya mau-mau saja membantu para guru untuk mengantarkan sepatunya untuk disemir. Muridnya yang terlalu baik, apa gurunya yang terlalu malas??

Tak sampai disitu, sepulang sekolah anak itu lagi-lagi singgah di kios semir sepatu. Tak banyak omong seperti biasa, dikeluarkannya lipatan kertas bernominal dari dalam saku baju. Lalu diberikan kepada sang penyemir sepatu. Oh, itu upah untuk jasa semir sepatu dari guru. Itu yang kupikirkan. Ku yakin kau pun berpikiran seperti itu, kan?

Sesaat, anak itu melintas di hadapanku. Kupanggil.

“Dek, haus? Mau es?”

Yang ditanya sejenak mematung, lalu menghampiriku akhirnya.

“Makasih, Kak.”

“Kakak boleh tanya?”

“Tanya apa, Kak?”

“Emm… beberapa hari ini Kakak lihat kamu sering main di kios semir sepatu itu. Sambil bawa sepatu-sepatu orang dewasa. Itu punya guru, ya?”

“Iya, Kak,” jawabnya singkat sambil menghirup dalam-dalam es kelapa muda dengan sedotan.

“Oo, gitu. Kalau yang di dalam kios itu, itu tukang semir sepatu kan?” tak percaya aku menanyakan ini. Jelas-jelas ini pertanyaan bodoh.

Kulihat ia hanya mengangguk sambil terus menyedot es kelapa muda yang hampir habis.

“Kakak perhatikan, kamu baik sekali dengan orang itu. Maaf, orang itu cacat ya? Beruntung ya, masih ada orang yang baik seperti kamu. Kamu mau menolongnya dengan memberikan bekalmu setiap pagi. Siangnya kamu bantu dia nyari order semir sepatu. Kamu dapat upah berapa?” huhh… akhirnya tanya yang sedikit mengganjal di benakku selama ini berhasil kukeluarkan.

Kuperhatikan anak itu berhenti menyedot es. Lalu matanya menatapku tajam. Sambil perlahan senyumnya mengembang, dia menjawab tegas. Bukan keras, tapi tegas.

“Dia ayahku!”

Kulihat es kelapa di tangannya telah habis. Selanjutnya, ia berlalu…

Mendendam, "Memelihara" Kehancuran

Banyak yang tidak menyadari bahwa dendam sebenarnya tidak membawa apapun selain kehancuran. Bukan kehancuran untuk orang yang kita timpakan rasa dendam, melainkan kehancuran untuk diri kita sendiri.
Ali Radiyallahu’anhu dengan tepatnya mengumpamakan, “Memelihara dendam itu seperti diri kita meminum racun, tapi berharap orang lain yang mati.”
Lalu, bagaimana cara untuk melampiaskan emosi yang terpendam karena sering dizolimi?
Terlebih dahulu mari kita membahas beberapa tingkatan orang yang dizolimi.

Tingkatan Orang yang Dizolimi

Level terendah adalah mereka yang dizolimi, kemudian orang-orang ini sulit memaafkan dan memendam dendam.
Level menengah adalah mereka yang dizolimi, kemudian membalas kezoliman itu dengan setimpal sehingga tidak lagi memendam dendam.
Level tinggi adalah mereka yang dizolimi, kemudian memaafkan dengan lapang dada.
Level dahsyat adalah mereka yang dizolimi, kemudian membalas orang yang mendzolimi dengan kebaikan.
Mari kita bahas level demi levelnya! Supaya kita bisa sampai ke tingkat memaafkan dengan lapang dada dan bahkan membalas kedzoliman dengan kebaikan.

Islam tidak pernah mengajarkan kita untuk terlalu menerima keburukan yang dilakukan orang lain pada kita. Allah Swt membolehkan kita untuk membalas kejahatan dengan setimpal.
Coba simak Quran surat An-Nahl ayat 126: “Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu...”
Misalnya kita dipukul, maka balaslah memukul dengan kekuatan seimbang. Kecuali jika kita ikhlas dipukul, dan tidak ada dendam apalagi sakit hati. Artinya, ketika kita dipukul kemudian kita diam saja padahal sebenarnya hati kita merasa benci dan dendam, sejatinya yang menzolimi diri kita bukanlah orang yang memukul, tetapi diri kita sendiri yang membiarkan orang lain memukul kita dengan leluasa.

Bukankah kita adalah pemimpin untuk diri sendiri? Seharusnya kita bertanggungjawab terhadap apapun yang terjadi pada diri kita, jangan selalu hanya menyalahkan orang lain dan merasa dendam, padahal kita memang tidak melakukan apa-apa untuk membela hak kita sendiri.
“Allah tidak mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S. Ar-Ra’d 11)
Artinya, Allah meminta kita untuk berinisiatif mengubah nasib sendiri, dengan demikian kita tidak ada hak untuk menyalah-nyalahkan orang lain, dendam kesumat, bahkan bersumpah tidak akan memaafkan orang tersebut. Jadi, penting untuk menyadari di awal... apakah kita benar dizolimi, atau justru kita yang menzolimi diri sendiri?

“Tidak semestinya seorang muslim menghina dirinya. Para sahabat bertanya, "Bagaimana menghina dirinya itu, ya Rasulullah?" Nabi Saw menjawab, "Melibatkan diri dalam ujian dan cobaan yang dia tak tahan menderitanya." (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Maafkanlah, Karena Dendam Hanya Melahirkan Dendam

Ketika kita merasa sakit hati dan tidak memaafkan orang lain, sebenarnya hal tersebut dapat menyempitkan hati kita sendiri. Apakah kita menduga jika perasaan dendam itu dibalaskan maka kita akan menjadi lega? Tidak! Dendam yang dibalaskan akan memunculkan dendam yang lain. Simak Firman Allah Swt berikut ini :
“Hendaklah memberi maaf dan melapangkan dada, tidakkah kamu ingin diampuni oleh Allah?” (Q.S. An-Nuur: 22)
Kita selalu berharap kesalahan-kesalahan kita diampuni oleh Allah. Namun, alangkah baiknya jika terlebih dahulu kita memaafkan kesalahan orang lain, sehingga Allah ridho pada kita dan mau memaafkan kesalahan kita. That's great!

Memaafkan sama dengan membuang beban-beban yang bergelayutan di hati kita. Dengan memaafkan, berarti kita menyerahkan “pembalasan” pada Allah.
“... Akan tetapi jika kamu sekalian mau bersabar atas kedzoliman yang telah mereka timpakan kepada kamu serta dengan itu semua kamu mengharap pahala dari Allah sebagai ganti dari kedzoliman itu lalu kamu pasrahkan dan serahkan semuanya kepada Allah maka itu akan lebih baik bagi kamu sekalian.” (An-Nahl 126)

Tidak Sekedar Memaafkan, tapi Membalas dengan Kebaikan

Rasulullah Saw. telah mampu memberi teladan untuk kita, tidak sekedar memaafkan kezoliman orang namun juga membalas kezoliman tersebut dengan kebaikan.

Di sudut pasar Madinah ada seorang pengemis Yahudi buta yang setiap
harinya selalu berkata kepada setiap orang yang mendekatinya, “Wahai
saudaraku, jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu
pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya maka
kalian akan dipengaruhinya”.

Namun, setiap pagi Muhammad Rasulullah SAW mendatanginya dengan
membawakan makanan, dan tanpa berucap sepatah kata pun Rasulullah SAW
menyuapkan makanan yang dibawanya kepada pengemis itu sedangkan
pengemis itu tidak mengetahui bahwa yang menyuapinya itu adalah Rasulullah
SAW.
Rasulullah SAW melakukan hal ini setiap hari sampai beliau wafat.

Kisah lain :

Meskipun dilempar batu dan diusir oleh penduduk Thaif, Rasulullah Saw. malah berdoa semoga Allah memberikan keturunan orang-orang yang beriman dari penduduk Thaif.

Kita berharap Allah menempatkan kita di tempat terbaik, dunia-akhirat, maka lepaskanlah rasa marah, dendam, benci, biarkan dada kita lega dan lapang tanpa beban! Jangan lagi memberatkan hati kita dengan memikirkan cara-cara membalas dendam.
Percayalah, kemaafan kita adalah untuk kebaikan diri kita sendiri, bukan untuk kebaikan mereka. Jika benar mereka melakukan kedzoliman, pasti Allah membalasnya dengan adil.

“Maka disebabkan rahmat Allah atasmu, kamu berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkan mereka dan mohonkanlah ampun bagi mereka…”(QS:3:159)

Memaafkan itu melegakan, mari kita menjadi pribadi yang terbiasa memaafkan, sehingga Allah pun mudah memaafkan kesalahan kita. Dan janganlah memelihara rasa dendam, karena sesungguhnya rasa dendam itu perlahan dapat menggiring kita dalam kehancuran.

Aku Bangga Menjadi Wanita 'Cengeng'

“AIR MATA adalah salah satu cara dia mengekspresikan kegembiraan, kegalauan, kesepian, penderitaan, CINTA, dan kebahagian…”

Aku tertunduk dalam, ketika seorang ustadz membimbing kami untuk muhasabah diri. Pikiranku melayang jauh ke masa lalu. Masa dimana aku masih hangat dalam pelukan tangan nan lembut. Kemudian aku menjelma menjadi sesosok yang pernah membuat pemilik tangan itu bersedih. Mungkin aku telah mengecewakannya dengan tingkahku. Ibu, maafkan aku… Tak terasa aliran hangat membasahi pipi. Yah, aku menangis…

Ketika sadar semakin lama aku menjejakkan kaki di bumi Allah ini, tak terasa semakin menumpuk pula dosa dan khilaf yang telah kuperbuat. Bermacam cobaan dan masalah, sedikit banyak telah membuatku berpaling dari-Nya. Lupa akan nikmat dan karunia-Nya, yang secara cuma-cuma aku dapatkan dari-Nya. Ya Rabb, ampuni aku… Mataku panas, membayangkan dosa-dosa yang semakin berat menggunung. Aku menangis…

Ketika aku mendengar sebuah kabar kematian, sering tak dapat kutahan bulir bening yang membuat kabur pandangan. Entah siapapun orangnya, bahkan mungkin tak kukenal sekalipun. Kupandangi diriku, kuhitung-hitung bekal yang kelak akan aku bawa ketika menghadap Sang Pencipta. Kubandingkan dengan dosa khilaf yang telah kuperbuat. Oh, setelah aku hitung…ternyata tak kudapati cukup bekal yang akan kubawa. Aku masih harus mencarinya lagi, tapi… akankah umur ini masih cukup? Ya Allah, ampuni dosa-dosaku…

Kuterima kabar bahagia dari seorang temanku. Akhirnya dia telah mantap untuk membangun mahligai rumahtangga. Aku turut bahagia… Ketika kusaksikan sejoli di depan sana, duduk berdua… Mesra… Ah, akupun tak sadar kalau tissue yang kupegang akhirnya basah. Air mata bahagia, semoga aku kelak juga seperti itu… Semoga dirahmati, semoga berlimpah barakah…

Aku sadar aku semakin dewasa. Aku bukan anak kecil lagi yang dengan polos berlarian kesana kemari dengan ringan seolah tanpa memikul beban. Sejenak aku ingin kembali ke masa itu. Tapi..masalah bukan untuk dihindari bukan? Masalah hanyalah untuk dihadapi dan diselesaikan. Masalah pula yang seharusnya menjadikan kita semakin dewasa, semakin paham dengan hakikat hidup dan semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Terakhir…
Aku bergegas memasuki kamar, segera kututup pintu dan kurebahkan tubuhku sambil mendekap bantal. Aku menangis… yah, aku meneteskan air mata. Setetes, dua tetes hingga akhirnya menganak sungai. Kiranya kegalauan dan kebimbangan dalam hatiku yang membuatku akhirnya menangis. Biarlah…biarlah mata ini sembab karena air mata. Daripada hati ini yang sakit karena menahan begitu banyak beban, yang tak dapat kubagi dengan orang lain.

Dengan air mata, menangis…

Begitulah caraku mengekspresikan emosi. Menangis untuk melepaskan beban. Menangis untuk sekedar melapangkan rongga dada. Tak peduli orang bilang aku wanita ‘cengeng’. Tapi itulah aku. Oh iya, mungkin juga aku salah. Bisa jadi tidak ada orang yang mengetahui jika sebenarnya aku sangat suka sekali menangis. Karena memang, hampir tidak pernah mataku ini meneteskan air mata dihadapan mereka. Yang mereka tahu, aku hanyalah seorang gadis yang selalu ceria. Tak pernah dipusingkan dengan masalah-masalah. Selalu ringan dalam melangkah dan menyambut hari esok.

Tapi apakah dengan ini berarti aku malu jika diketahui suka menangis? Ah, tidak… aku tidak akan pernah malu dengan itu. Karena aku seorang wanita…

~*~

Saat Allah menciptakan wanita, Dia membuat menjadi sangat penting.

Allah ciptakan bahunya, agar mampu menahan seluruh beban dunia dan isinya. Walaupun, bahu itu cukup nyaman dan lembut untuk menahan kepala bayi yang sedang tidur.

Allah berikan wanita kekuatan untuk melahirkan seorang anak dari rahimnya. Dan sering kali pula menerima cerca daripada anaknya sendiri.

Allah berikan ketabahan yang membuatnya tetap bertahan, pantang menyerah di saat semua orang berputus asa.

Wanita, Allah berikan kesabaran kepadanya, untuk merawat keluarganya walau letih, sakit, lelah namun tanpa berkeluh-kesah.

Allah berikan wanita, perasaan peka dan kasih sayang untuk mencintai semua anaknya, dalam situasi apa pun. Biarpun anak-anaknya kerap melukai perasaan dan hatinya.

Dia berikan wanita kekuatan untuk membimbing suaminya, melalui masa kegetiran dan menjadi pelindung baginya. Bukankah tulang rusuk suami yang melindungi setiap hati dan jantung wanita?

Allah kurniakan kepadanya kebijaksanaan untuk membolehkan orang lain menilai tentang peranan kepada suaminya. Seringkali pula kebijaksanaan itu menguji kesetiaan yang diberikan kepada suami agar tetap saling melengkapi , menyayangi, dan menerima.

Dan akhirnya, Allah berikan kepada wanita airmata. Agar dapat mencurahkan perasaannya. Inilah yang khusus Allah berikan kepada wanita, agar dapat digunakan kapanpun dan dimanapun dia inginkan.

Meskipun sering dinilai sebagai simbol kelemahan dan ketidakberdayaan, namun ini adalah setetes air mata. Airmata kehidupan, yang menyimpan kekuatan luar biasa…

Aku bangga menjadi wanita ‘cengeng’… Boleh kan, aku bilang ini?